Cahaya Temaram

Mempertahankan Gengsi ala Afternoon Tea

Cangkir teh dan tempat gula yang sering digunakan saat aftenoon tea. Cangkir teh memiliki bibir tipis dan melebar di bagian atas. Berbeda dengan cangkir kopi yang memiliki bibir tipis dan lurus. Cangkir untuk afternoon tea biasanya menggunakan bahan keramik dan berhiaskan motif indah serta feminim.

Cangkir teh dan tempat gula yang sering digunakan saat aftenoon tea. Cangkir teh memiliki bibir tipis dan melebar di bagian atas. Berbeda dengan cangkir kopi yang memiliki bibir tebal dan lurus. Cangkir untuk afternoon tea biasanya menggunakan bahan keramik dan berhiaskan motif indah serta feminim.

“Semakin menggali tentang teh, semakin kita menyadari bahwa banyak yang tidak kita tahu”

Kutipan tersebut melekat dalam pikiranku usai bertemu pakar teh Indonesia, Ratna Somantri. Senang sekali bisa bertemu langsung dengan perempuan pendiri Komunitas Pecinta Teh tersebut kemarin. Apalagi Ratna, yang sudah melanglang buana ke berbagai negara untuk mempelajari teh ini, sangat ramah saat membagikan ilmu dan pengalamannya.

Apa yang dia katakan memang sama dengan apa yang aku rasakan. Setelah mencoba mengenal dan membaca lebih banyak, saya semakin menyadari bahwa teh bukan hanya sekedar komoditas perkebunan yang dijadikan minuman. Lebih dari itu, teh lekat dengan budaya. Lain negara, lain juga kebiasaannya dalam mengkonsumsi teh. Teh juga mengandung banyak filosofi. Bahkan teh bisa membentuk gaya hidup tersendiri.

Salah satu gaya hidup tentang teh yang paling tersohor adalah tradisi “afternoon tea”. Kegiatan tersebut awalnya dilakukan oleh sosialita Inggris pada abad ke-17 untuk menganjal perut diantara makan siang dan malam. Biasanya ada tuan rumah yang mengundang beberapa teman dan kerabatnya untuk minum teh bersama. Kini tradisi tersebut menyebar ke berbagai penjuru dunia dan digunakan sebagai ajang bersosialisasi. Bahkan hotel dan restoran tertentu sudah mulai banyak menyediakan paket afternoon tea, termasuk di Indonesia.

Afternoon tea sebenarnya lebih banyak mengedepankan sisi gaya hidup dibandingkan dari teh itu sendiri. Tak heran kalau semua peralatan dan unsur yang ada di dalamnya juga seringkali mengedepankan gengsi.
Misalnya saja peralatan teh, dibuat secantik mungkin. Biasanya peralatan tersebut dibuat satu set dengan corak sama mulai dari cangkir, teko, tempat gula, tatakan kue, piring, sampai alat penyaring. Tak jarang cangkir set menggunakan merk tertentu yang harganya berkali lipat dari yang ditemukan di pasar biasa.

Tidak hanya itu, acara afternoon tea juga seringkali menggunakan dress code tertentu. Para peserta wajib memenuhi dress code tersebut untuk menghormati tuan rumah. Kegiatan ini juga selalu menghadirkan kue-kue kecil yang ditata cantik sebagai teman minum teh.

Namun yang lebih penting, ajang gengsi juga dipertaruhkan dari sejauh mana para peserta memahami tentang table manner afternoon tea itu sendiri. Ya, afternoon tea penuh dengan aturan sodara-sodara. Di sini orang bisa mengetahui apakah kamu newbie dalam dunia teh atau sudah paham benar. Well itu tergantung karakter kita sih, kalau aku mah dibawa selow aja hehehe.

Tapi gak ada salahnya dong mengetahui apa saja sih aturan-aturan dalam meminum teh. Ilmu ini tidak hanya berguna saat afternoon tea namun juga acara lainnya.Berikut informasi yang saya catat dari pertemuan dengan Ratna Somantri di sebuah acara membuat teh kemarin. Saya sampaikan dalam poin saja ya biar mudah dibaca.

  • Sebelum datang, kenali dulu jenis teh yang disajikan. Ini berguna untuk mengetahui apakah teh ini cocok untuk dicampur bahan lain atau tidak. Jangan heran jika tuan rumah yang menyuguhkan darjeeling tea akan berkerut jika kita meminta gula. Sebab meskipun tergolong dalam teh hitam, cita rasa darjeeling tea lebih lembut. Darjeeling tea juga dikenal sebagai teh dengan cita rasa premium. Menambahkan gula hanya akan merusak cita rasa istimewa dari teh tersebut bahkan menurunkan gradenya.
    Kalau aku sih biar gak pusing, gak ada salahnya menunggu dan melihat orang lain dulu sebelum melakukan sesuatu. Atau kita bisa bertanya pada teman yang ramah dan lebih tau tentang teh. Orang lain juga pasti senang kalau bisa membagikan pengetahuannya tentang sesuatu.
  • Ternyata cangkir teh itu berbeda loh dengan cangkir kopi. Cangkir teh memiliki bibir yang tipis dan melebar. Sementara cangkir kopi memiliki bibir yang tebal.
    Jadi gini ceritanya, kalau bibir cangkir itu tebal dan tidak melebar pinggirnya, maka saat dituangkan dalam mulut, cairan pertama kali akan sampai pada lidah bagian belakang. Sementara lidah bagian belakang merupakan pengecap rasa pahit. Jadi kalau menggunakan cangkir berbibir tebal, yang kerasa adalah pahit duluan sebelum rasa yang lain. Nah dengan cangkir tipis dan melebar, maka cairan akan langsung menyebar ke seluruh bagian lidah.
  • Jika menggunakan teh celup, jangan langsung mencelup-celupkannya begitu diseduh. Menyeduh teh mengajarkan kita untuk bersabar. Teh membutuhkan waktu untuk menyebar dan membaur dalam air. Biasanya kita harus menunggu sekitar 2-5 menit, tergantung jenis tehnya. Setelah waktu tersebut, barulah kita mencelup-celupkan kantung teh untuk lebih meratakannya.
    Katanya sih rasa teh yang dipaksa membaur akan berbeda dengan yang dinikmati pada waktu yang tepat. Yah sama lah seperti cinta, jangan dipaksakan, semua akan indah pada waktunya. Eaaaa…
  • Nah setelah siap diminum, langsung angkat kantong teh, jangan membiarkannya dalam cangkir. Lagi-lagi ini soal cita rasa. Karena serat kertas dalam kantong teh akan ikut larut kalau kelamaan direndam. Nanti jadinya kaya teh rasa serat kertas deh.
    Biasanya sih tuan rumah akan menyediakan tempat khusus untuk menaruh kantong teh bekas. Jika tidak ada, maka bisa disimpan di pinggir tatakannya. Oia, kantong teh dirancang untuk sekali pakai, jadi sebaiknya tidak diseduh ulang karena rasanya (lagi-lagi) akan rusak.
  • Masih tentang menyeduh, sebaiknya dilakukan dalam teko daripada langsung di cangkir apabila kita menggunakan daun teh. Ini terutama untuk teh yang premium. Kalo teh biasa sih gak terlalu kentara perbedaannya.
    Teko memiliki tutup yang membuat aroma teh terjaga sampai tehnya membaur dengan air hangat. Selain itu, cangkir yang terbuka bisa membuat teh cepat dingin sehingga kadar kenikmatannya kurang pas saat diminum.
    Oiya, para pecinta teh lebih suka meminum teh tubruk sih dibandingkan yang dikemas dalam kantong. Selain soal rasa, menyeduh teh tubruk dengan mengikuti segala peraturannya merupakan kesenangan tersendiri bagi mereka. Ya mungkin seperti yang aku bilang dalam tulisanku di awal, teh seperti dapat menghentikan waktuku sejenak.
  • Cara mengaduk pun ada aturannya pemirsah. Bukan dengan memutar sendok seperti yang orang Indonesia biasa lakukan, namun dengan menggerakkannya ke depan dan ke belakang. Ini dinilai lebih ampuh untuk mencegah air teh terciprat dan menodai pakaian kita. Kebayang kan kalau yang minum adalah para sosialita lalu tehnya kena tas mereka yang harganya sesuatu itu.
  • Saat akan meminum, tinggalkan tatakan di meja. Lain halnya jika kita standing party, maka minumnya pun dengan membawa serta tatakannya.
  • Sendok juga simpan saja di tatakan saat akan minum, jangan masih di dalam cangkir. Alasannya simple, rempong cyiiin.
  • Jangan pakai air yang punya rasa seperti air keran atau pam. Itu ngaruh sama cita rasa tehnya juga. Kalau bingung sih pakai air mineral kemasan yang sering kita beli juga bisa.
    Katanya air yang paling mantap buat menyeduh teh itu berasal dari mata air di kebun teh itu sendiri. Soalnya air itu mengandung mineral yang sama dengan yang ada dalam kandungan teh. Makanya gak heran kalau minum teh di kebunnya seringkali jauh lebih enak dibandingkan saat dibawa ke rumah.
  • Satu lagi yang gak kalah penting, hindari ketel elektrik murahan hohoho. Ketel murah biasanya menggunakan spiral dari besi yang ujung-ujungnya mempengaruhi cita rasa teh itu sendiri. Gunakan ketel yang pemanasnya ada di bagian bawah.

Nah sekian dulu pembaca, si mbak salonnya udah manggil tuh. Jadi ceritanya aku nulis ini saat menunggu antrian buat facial di salon heuheuheu.
Duh banyak banget yang belum aku tau tentang teh, jadi makin penasaran. Sampai ketemu di petualangan dan tulisan berikutnya ya. Ciao. (tdk)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *