Cahaya Temaram

Dibalik Wangi Melati Teh Rakyat Indonesia

Berbagai macam produk teh wangi yang saya temukan di sepanjang perjalanan dari Jakarta sampai Kuningan.

Berbagai macam produk teh wangi yang saya temukan di sepanjang perjalanan dari Jakarta sampai Kuningan.

Pukul 03.15 dini hari, udara dingin kaki gunung Ciremai menembus pipi saya yang tidak terbungkus jaket. Saat itu saya baru menempuh perjalanan dari Jakarta ke kampung halaman ayah di Kuningan, Jawa Barat. Sebelumnya ibu memberitahu saya, jika bibi (adik dari ayah) sedang sakit kritis. Malam itu juga saya pun segera mencari cara untuk pulang ke kampung halaman.

Memori indah tentang pulang kampung selalu mendapatkan tempat khusus di hati saya. Suasana dimana semua keluarga besar berusaha berkumpul untuk bercengkrama dan tertawa bersama. Kehangatan itu juga ditemani oleh hidangan yang khas berupa surabi oncom, kuping, tahu kuningan, serta tentu saja kopi dan teh.

Ya, tanpa disadari kopi dan teh menjadi saksi bisu bagi banyak kehangatan keluarga di negara ini. Hampir bisa dipastikan, dua bahan inilah yang selalu ada di setiap rumah di Indonesia. Selain rasanya, dua komoditas perkebunan tersebut disukai karena mudah didapatkan, juga tersedia dalam berbagai variasi harga mulai dari yang murah sampai premium.

Berbicara mengenai teh, ada jenis yang sangat populer di negeri ini. Apalagi jika bukan teh rakyat beraroma melati. Wangi melatinya merebak ke seluruh ruangan begitu saya membuka kemasannya. Aroma tersebut semakin kentara saat menyeduhnya dengan air panas. Meskipun sekarang marak teh dalam kantong, banyak orang Indonesia yang lebih suka menyeduh teh wangi berbentuk daun kering atau lazim disebut teh tubruk.

Ciri khas lain dari teh wangi ini adalah kemasannya yang hanya dibungkus kertas saring atau kertas payung. Sebutan teh rakyat, merujuk pada merk-merk yang dijual dengan harga terjangkau. Mungkin karena kualitas dan pengemasannya yang masih tradisional. Bahkan kita masih bisa melihat batang di sela daun teh. Kehadiran batang teh tersebut masih bisa ditoleransi selama tidak lebih dari 5-10 persen.

Uniknya teh ini biasanya didistribusikan secara terbatas di wilayah tertentu. Hal ini karena teh wangi di Indonesia biasanya diproduksi oleh perusahaan keluarga yang kapasitasnya tidak terlalu besar. Tak heran jika lain daerah, maka lain juga merk yang merajai pasar. Misalnya saja Teh Gopek menguasai pasar di Slawi, Tong Dji di Pemalang, dan Teh Upet di bumi parahyangan.

Ide mencampurkan bunga melati ternyata berawal untuk menutupi kualitas teh yang buruk. Wangi melati dinilai ampuh menyamarkan rasa dan aroma teh berkualitas rendah tersebut. Namun ternyata wangi melati ini banyak disukai dan tetap digunakan meskipun tehnya berkualitas lebih baik.

Sayangnya saat ini sudah jarang teh rakyat yang benar-benar menggunakan bunga melati asli untuk bahan campurannya. Kehadiran bunga melati tersebut lebih banyak diwakilkan oleh ekstrak olahan. Hal itu karena bunga melati semakin sulit didapatkan. Sementara permintaan untuk bunga melati semakin tinggi baik untuk industri makanan dan minuman maupun dekorasi. Kondisi tersebut menyebabkan harga bunga melati menjadi terlalu mahal untuk dijadikan campuran teh rakyat yang dijual murah.

Meskipun demikian, kita masih bisa kok mendapatkan teh melati dengan campuran bunga sungguhan. Saat ini sudah banyak perusahaan teh di Indonesia yang menjual teh melati premium. Berbeda dengan teh rakyat, kebanyakan jenis premium ini dikemas dengan menggunakan kaleng. Tentunya produk ini ditawarkan dengan harga yang lebih tinggi.

Apapun pilihan kualitasnya, tidak dipungkiri jika teh melati sudah terlampau melekat dalam budaya silaturahmi di Indonesia. Di balik wangi melati inilah industri teh rakyat Indonesia masih berputar. Di balik wangi melati inilah terdapat memori indah tentang keluarga sekaligus kehangatan kampung halaman. Di balik wangi melati ini juga saya akan merindukan saat-saat bercengkrama bersama bibi yang menghembuskan nafas terakhirnya pekan lalu. (tdk)***

Referensi :
https://kompasmuda.com/2015/08/11/kenangan-dalam-secangkir-teh-wangi/
http://swa.co.id/listed-articles/legenda-dari-slawi-yang-mulai-bangkit

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *