Cahaya Temaram

Apa dan Bagaiman Coffee Cupping itu?

Ciao, selamat datang di websiteku yang baru. Tiap hari kepikiran untuk segera membuat tulisan baru di sini. Tapi dengan berbagai alasan, akhirnya sampai ketunda satu minggu, duh..

image

Peserta coffe cupping berada di depan meja tempat sample kopi ditempatkan. Enam jenis kopi itu masing-masing memiliki lima cangkir sample.

Kali ini aku mau menuntaskan keinginan buat cerita tentang apa dan bagaimana coffee cupping itu. Aku ngerasa senang banget karena diundang untuk mengikuti coffee cupping di event Trade Expo Indonesia 2015 minggu lalu. Dalam tulisan ini, juga ada foto-foto proses coffee cupping dengan model bernama Kiki. Katanya sih dia lagi nyari jodoh gitu hahaha (ini pesan sponsor, wajib ditulis katanya).

Berdasarkan berbagai informasi yang aku kumpulkan, coffe cupping adalah proses mengetahui kualitas kopi dengan memasukkan berbagai unsur rasa dalam penilaiannya. Ada enam poin yang dinilai waktu itu yaitu aroma sebelum diseduh, aroma setelah diseduh, keasaman, body, uniformity (pengaruh banget kalau salah satu sample ada yang gak seragam atau cacat), dan clean cup (ini lebih ke khas-nya kopi itu).

Nah semua proses penilaian tersebut harus dilakukan di tempat khusus yang dinamakan cupping lab. Ternyata syarat dari lab itu spesifik banget. Misalnya sudah ada ketentuan mengenai tinggi meja, jarak antar meja, ketinggian lampu sampai warna lampu. Standar lab tersebut biasanya mengikuti rujukan Asosiasi Kopi Spesialti Amerika (SCAA).

Waktu itu aku mencoba kopi yang berasal dari enam petani dan daerah yang berbeda. Para petani ini awalnya membawa biji kopi yang masih hijau. Mereka lalu memasak dan menggiling kopinya secara terpisah sebanyak lima kali. Masing-masing sample kemudian ditempatkan dalam cangkir (cup).

Cangkir-cangkir tersebut kemudian diletakkan di atas meja khusus. Meja ini memiliki ketinggian yang pas sehingga kita bisa mencium kopi dalam cangkir tanpa menyentuhnya. Di atas meja tersebut juga disediakan sendok yang dimasukkan dalam segelas air. Terdapat juga perlengkapan pendukung lainnya seperti timer dan tissue.

Setelah semuanya siap, dimulailah Coffee cupping yang dibagi dalam tiga bagian.

1. Sebelum diseduh

Proses pertama yang dilakukan yaitu mencium aroma kopi-kopi itu sebelum diseduh. Dari sini aku baru benar-benar bisa merasakan kalau aroma kopi, meskipun sama-sama arabika, ternyata berbeda-beda. Bahkan ada yang bilang beda lahan kopi, beda juga rasanya.

Emang sih aku yang awam ini awalnya sempat bingung buat membedakannya. Tapi setelah muter-muter kaya orang tawaf dan dikasih bocoran sama ahli kopi, baru ngeh deh kalau aroma kopi itu memang beda banget. Ada kopi yang aromanya kaya buah nangka, kacang, bahkan cabe.

image

2. Menyeduh

Setelah keenam jenis bubuk kopi itu sudah dicium aromanya dan kita nilai. Tibalah saatnya kita menyeduhnya.

Cara menyeduhnya juga ada tata caranya. Pertama, air yang diseduh menggunakan suhu antara 92-96 derajat celcius. Kalau waktu itu sih menggunakan suhu 94 derajat celcius. Alasannya yaitu kalau suhunya terlalu tinggi, dikhawatirkan si kopi itu bakalan kebakar sehingga yang timbul malah aroma yang bercampur gosong. Sementara kalau suhunya terlalu rendah malah membuat kopi itu tidak terseduh dengan sempurna sehingga rasa sebenarnya kurang muncul.

Selain itu, enam jenis kopi itu wajib diseduh berbarengan. Jadi ada enam termos yang disiapkan dan diseduh oleh enam orang sekaligus. Tujuannya biar fair aja, setiap kopi yang dinilai mendapatkan perlakuan yang sama.

Cara menyeduhnya pun dilakukan berputar mengelilingi cangkir. Tujuannya supaya aromanya lebih keluar sekaligus memastikan semua serbuk kopi sudah terkena air sehingga tidak ada yang tertinggal.

Nah setelah diseduh, kopi dalam cangkir itu didiamkan terlebih dahulu selama empat menit. Sama seperti teh, kopi membutuhkan waktu untuk membaur dengan air. Dengan menunggu hingga waktu yang tepat, aroma dan rasa kopi lebih keluar secara optimal.

Setelah itu, baru deh dimulai proses penciuman aroma kopi. Caranya yaitu dengan terlebih dahulu mendorong permukaannya yang dipenuhi busa dengan menggunakan sendok.

Setelah diseduh, ternyata ada aroma kopi yang tetap kuat seperti sebelum diseduh. Namun ada juga jadi yang jadi gak sekhas sebelumnya. Di sini juga mulai kerasa mana yang aromanya asam dan memiliki kekentalan tertentu.

image

3. Icip-icip

Proses selanjutnya adalah mencicipi kopi yang telah diseduh tersebut. Di sini aku sempat terpesona sama kemampuan master tester yang cepat banget mencicipi kopi dan bisa langsung mengidentifikasi rasanya. Bahkan mereka langsung tahu kalau rasa kopi yang mereka cicipi kurang optimal, karena terlalu gosong saat pemanggangan misalnya.

Tak heran jika mereka bisa langsung merasakan 32 kopi yang berbeda dalam satu kali coffee cupping. Sementara aku untuk satu kopi saja lumayan sulit meraba-raba hohoho. Paling kalau rasanya sangat kentara khasnya atau keasamannya, baru deh bisa cepat aku bedakan.

Nah dalam proses mencicipi inilah aku sempat bertanya sama mereka, kenapa sih kayaknya ko nyeruputnya semangat banget. Sampai bunyi SLURP nya keras banget gitu.

Ternyata itu emang disengaja gaes. Menurut mereka, menyeruput dengan sedotan yang kuat berguna agar semua air kopi dalam sendok bisa langsung masuk ke seluruh bagian lidah. Udah tau kan kalau setiap bagian lidah kita ini punya fungsi pengecap yang berbeda-beda. Nah menyeruput kopi dengan keras menyebabkan seluruh bagian lidah bisa berbarengan merasakan kopi tersebut sehingga bisa lebih maksimal dalam penilaiannya.

Oia ngomong-ngomong soal master tester (ahli yang menilai kualitas kopi), ternyata di Indonesia belum banyak loh keberadaannya. Tapi itu gak lepas sama biaya mendapatkan sertifikatnya yang mahal banget, mencapai dua digit juta rupiah. Udah mahal, dari 30 orang di kelas, yang lulus bisa cuman dua orang aja gitu. Oalah.

Setelah semua prosesnya selesai, tibalah saatnya mengumumkan hasil penilaian. Kebetulan semua kopi yang dites waktu itu punya nilai di atas 80. Itu berarti sudah bisa dikategorikan sebagai specialty cofee dengan kualitas yang tinggi.

Tapi yang bikin terharu adalah para petani itu gak nyadar kalau kopi yang mereka tanam memiliki kualitas tinggi. Malah ada diantara mereka yang kaget saat orang-orang di pameran sangat menyukai kopinya.

Ah entah apa reaksi mereka saat tau bahwa kopi kopi itu dijual puluhan ribu rupiah per cangkir di cafe-cafe. Padahal mereka menjualnya murah per karung. Nasibmu petani… (tdk)***

2 Comments

  1. Djasmin

    Membaca tulisan ini sy jd semangat Mbak. Sudah 4 thn menikah smpe skrng blum juga hamil. Itu membuat sy mkin stress. Mksih y mbak tulisannya sngat memotivasi say.. cerita mbak sm persis dgn saya.. sudah sgat leleh menjalini program kehamilan dr dokter A ke B c dan itu semua membuat sy mkin stres belum lagi Vonis PCOS nya itu loh mbak serem .. skrng coba nikmati dan raih mimpi yg tertunda pikir positip dan hidup bahagia.. kita juga wajib bahagia kan mbak.. thank U mbal.

    Reply
    1. cahayatemaram (Post author)

      Semangat ya mbak djasmin. Everything happens for a reason

      Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *