Cahaya Temaram

21 Days Chalenge

Akhir pekan ini mau kemana? Begitu pertanyaan rutin yang selalu aku lontarkan setiap menjelang akhir pekan pada suami. Berbeda dengan aku yang menikmati akhir pekan mengulet di rumah, dia lebih suka untuk bertemu orang atau kegiatan baru.

Setiap jangka waktu tertentu ada saja ide di luar kebiasaan yang dia lakukan. Jiwanya seperti selalu gelisah apabila tidak melakukan apapun untuk mencapai sesuatu. Jika diibaratkan, dia seperti seorang cheetah yang selalu berlari cepat ke sana kemari-kemari. Saking banyaknya ide, dia kadang suka pusing sendiri hahaha. Di saat itulah sang siput seperti aku meniupkan peluit lalu berkata “mari kita bernyanyi Que Sera Sera”.

Seperti biasanya, akhir pekan kemarin suamiku sudah memiliki rencana yaitu melakukan pertemuan dengan teman-teman baru. Bahkan dia mengajakku untuk ikut dalam pertemuan tersebut.

Jadi ceritanya dia ingin membentuk sebuah komunitas bertema 21 days challengers. Komunitas tersebut dilatar belakangi keinginan dia untuk merubah kebiasaan sehari-hari. Misalnya saja, dia ingin setiap harinya melakukan meditasi (mungkin supaya bisa mengimbangi sifat cheetahnya yang penuh kegelisahan hahahaha).

Tapi seperti yang sudah kita maklumi bersama, gak gampang membiasakan kegiatan positif setiap hari. Kadang kita semangat di awal, tapi ke sananya melempem.Kalau yang negatif mah cenderung lebih gampang, ya gak?

Nah berdasarkan banyak buku dan artikel yang dia baca, ada metode yang bisa dilakukan untuk merubah kebiasaan tersebut. Caranya yaitu dengan memaksakan kegiatan itu dilakukan selama 21 hari berturut-turut. Berdasarkan teorinya, kegiatan yang dilakukan 21 hari berturut-turut bisa merubah kebiasaan kita baik secara fisik maupun mental. Misalnya kita membiasakan berolah raga setiap hari selama 21 hari berturut-turut. Setelah itu, kalau sehari gak olah raga biasanya bakalan ngerasa ada yang kurang gitu, malahan suka kerasa sakit badan.

Tapi ada juga yang berpendapat bahwa metode tersebut akan lebih efektif jika dilakukan selama tiga periode (21 hari x 3). Itu berarti kita memaksakan kegiatan tersebut dilakukan selama 63 hari berturut-turut.

Nah selama ini dia sudah mencoba sendiri tantangan 21 hari tersebut bersama beberapa teman dekatnya. Tantangan yang ingin dia lakukan untuk menjadi kebiasaan adalah melakukan meditasi selama setengah jam setiap hari.Sayangnya baik dia maupun temannya belum pernah berhasil melewati tantangan tersebut. Bahkan mereka belum berhasil lebih dari 10 hari. Selalu ada saja alasan untuk tidak melakukan kegiatan tersebut selama satu hari. Nah kalau udah berhenti, seringkali timbul perasaan malas untuk mengerjakan kembali.

Setelah berkali-kali gagal menyelesaikan tantangan tersebut, suamiku akhirnya memiliki ide untuk membuat komunitas. Menurut dia, akan lebih bersemangat rasanya jika tantangan ini bisa dilakukan bersama-sama dengan orang lain. Kehadiran teman-teman di komunitas bisa menyemangati kita untuk tidak menyerah menyelesaikan tantangan ini.

Mendengar penjelasan suamiku, aku jadi tertarik untuk ikut.Aku jadi teringat selama ini juga sulit untuk membiasakan diri menulis lepas setiap hari. Padahal sudah menjadi keinginan aku membuat satu buku. Draft sudah siap, dan beberapa paragraf sudah terukir di atas kertas. Namun usaha yang awalnya menggebu-gebu bisa langsung berhenti saat menemui hambatan seperti laptop yang tiba-tiba rusak.

Begitu juga saat ada makhluk kecil yang tiba-tiba hadir dalam perutku. Pada awalnya kehadiran baby S(aku memanggilnya begitu karena baik laki atau perempuan, namanya akan berawalan S) sempat membuatku terhenti karena kondisi fisik yang membutuhkan penyesuaian. Meskipun semangat masih 45, tapi kondisi fisik yang kurang mendukung membuat aku terpaksa menghentikan sejenak usaha tersebut.Hingga akhirnya sekarang, aku menyadari bahwa tulisan itu sudah terabaikan selama lebih dari tiga bulan.

Tapi yang jadi pertanyaan awal dari cerita di atas adalah, kok bisa sih suamiku mengumpulkan orang baru untuk membuat sebuah komunitas? Memang kenal orang-orangnya dari mana?

Ternyata, saat ini ada aplikasinya untuk orang-orang yang ingin membentuk komunitas atau pertemuan baru (aku baru tau sih hehehe). Namanya aplikasi meet up. Kita bisa jadi anggotanya kok dan gratis. Tapi kalau kita mau jadi host suatu pertemuan atau kegiatan tertentu, pengelola menerapkan tarif tertentu yang dibayar melalui kartu kredit per bulan. Memang butuh modal sih, tapi justru itu membuat event yang diselenggarain melalui meet up relatif lebih jelas daripada yang gratisan.

Tapi tetap saja aku bertanya-tanya, memang ada ya orang yang mau mengorbankan waktu di hari minggunya untuk bertemu dengan komunitas baru? Udah gitu komunitasnya gak terkenal dan belum lazim. Kan biasanya orang yang udah kerja mah lebih suka istirahat di rumah atau jalan-jalan di akhir pekan. Aku tidak bisa membayangkan akan bertemu lagi dengan manusia semacam suami aku yang selalu termotivasi dan penasaran menemukan hal baru.

Karena penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk ikut. Pertemuan pertama ini, dilakukan di Mcd Sarinah, Jakarta.

Sebenarnya suami aku gak memasang ekspektasi yang tinggi sih mengenai berapa orang yang akan datang pada pertemuan pertama. Memang yang melakukan reservasi di aplikasi sebanyak 20 orang, tapi menurut dia kedatangan dua atau tiga teman baru aja udah bagus banget.

Sampai akhirnya taraaaaa, ternyata ada lima orang yang datang dalam pertemuan tersebut. Itu artinya komunitas baru ini sudah berjumlah tujuh orang, yeay!

Mereka datang dari berbagai profesi. Ada yang jadi guru les Bahasa Inggris, pekerja IT, marketing, desain grafis, juga pegawai bank seperti suami aku. Meskipun sudah ada deskripsinya di aplikasi, tapi rata-rata mereka masih ingin tau lebih detail tentang apa sih komunitas ini. Setelah ngobrol-ngobrol panjang lebar, mereka pun menyatakan tertarik dan ingin ikut serta buat menjalankan tantangan ini bersama -sama.

Dalam pertemuan pertama tersebut, setiap orang menulis tantangan apa yang dilakukannya dalam waktu 21 hari. Tantangan tersebut diseusiakan dengan kebutuhan masing-masing personal. Sebenarnya tidak perlu yang terlalu rumit sih. Karena seringkali banyak kebiasaan kecil yang berdampak positif tapi sulit dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada berbagai macam tantangan yang tertulis oleh aku dan teman-teman saat itu. Ada yang menulis ingin membiasakan diri bangun dini hari untuk lebih mendekatkan diri pada tuhan. Ada juga yang ingin meluangkan waktu sejam sehari untuk belajar bahasa setiap hari. Tidak hanya asupan otak, ada juga yang ingin lebih bugar dengan melakukan olah raga setiap hari. Sementara aku, berniat meluangkan waktu untuk menulis lepas selama satu jam sehari.

Tantangan ini mutlak dilakukan tanpa henti selama 21 hari berturut-turut. Jadi kalau kamu tiba-tiba berhenti di hari ke-19, konsekuensinya ya harus balik lagi ke awal. Oalah, seperti minum obat TBC ya.

Untuk lebih mengikatkan semangat kami, akhirnya sepakat untuk dibentuk grup WA. Setiap hari kami berkomunikasi mengenai progress dari tantangan masing-masing. Gagal tak mengapa, sudah biasa. Karena yang terpenting adalah kita berniat untuk kembali mencoba.

Aku sendiri sudah tiga hari berhasil menaklukkan tantangan tersebut. Jalan masih panjang, harus ada usaha dan niat untuk mencapai final. Tapi kehadiran komunitas ini cukup besar membuat aku termotivasi.

Nah kalau ada pembaca yang tertarik, boleh ko ikutan komunitas ini. Seneng banget malah kalau komunitasnya berkembang dan jadi makin banyak yang saling suport.Komunitas ini terbuka buat umum. Bahkan untuk yang di luar Jakarta pun bisa aja ikutan secara online. Buat info lebih lengkap, bisa klik ke www.21DaysChallengers.com

See ya 🙂

image

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *