Cahaya Temaram

Catatan Pribadi Tentang Joey Alexander

Pertama kali saya melihat berita tentang Joey Alexander sebagai nominator Grammy Award termuda dari Indonesia, ucapan yang keluar saat itu ”ooh bagus juga”. Lalu saya pun langsung beralih ke berita lainnya.

Jujur saya sempat berpikir, ah paling juga dia cuma berdarah Indonesia doang, tapi orangnya memang sudah lama jadi warga Amerika. Kalau warga Indonesia pun pasti dia anak seorang diplomat atau musisi profesional yang punya banyak akses. Pada intinya saya sempat berpikir kalau keberhasilan Joey lebih banyak disebabkan karena dia memiliki kesempatan yang lebih banyak dibandingkan anak Indonesia pada umumnya.

Semua pikiran itu berubah saat suami saya memutarkan video YouTube tentang wawancara dia dengan beberapa media asing. Seketika itu saya langsung terpesona. Ya, dia memiliki bakat musik yang luar biasa. Saya yang awam dalam musik saja bisa merasakan alunan pianonya yang mengalir lepas. Iramanya seperti jiwa bebas yang menari nari di ruang tanpa batas. Dari musiknya, saya bisa merasakan bahwa dia sangat menikmati apa yang dia mainkan. Tanpa sadar, kepala saya pun mengangguk ngangguk lalu bergoyang kanan kiri mengikuti iramanya.

Tapiii..ada hal lain yang membuat saya ingin mencari rekaman lainnya yang menayangkan wawancara dia. Ternyata dia memang dibesarkan di Indonesia. Kemampuan musiknya juga awalnya diasah di sini. Oramg tuanyalah yang berperan besarbuntuk memperjuangkan dia sampai ke Amerika. Bahkan sampai rela menutup usahanya.

Selain itu, saya sangat terpesona oleh sikapnya yang dewasa dan rendah hati. Hal itu tercermin dari sikap dia saat menjawab pertanyaan dari si pewawancara. Padahal saat ini Joey baru berusia 12 tahun.

Sebenarnya beberapa media di Indonesia juga sudah lama menayangkan wawancara dengan Joey. Dia juga sudah beberapa kali tampil bersama dengan musisi jazz Indonesia seperti Andien, Indra Lesmana dan Tompi. Tapi (maafkan saya jika harus membandingkan), saya menilai ada perbedaan yang menggelitik saat Joey diwawancara oleh acara talk show Indonesia dengan wartawan atau presenter talk show di Amerika.

Kebanyakan presenter di Indonesia mewawancarai Joey dengan mind set bahwa dia seorang anak kecil. Itu terlihat dari pertanyaan dan nada bicara yang dikemukakan oleh presenter tersebut. Bahkan ada presenter yang cenderung mengarahkan jawaban Joey. Alhasil yang lebih banyak bicara presenternya, bukan orang yang diwawancara hehehe.

Hal itu berbeda dengan acara televisi asing yang mewawancari Joey. Mereka cenderung mewawancarai Joey sebagai seorang musisi yang memiliki pribadi seutuhnya. Pertanyaannya juga lebih berbobot sih, seperti yang sudah disiapkan dengan matang.Mereka juga sabar menunggu pernyataan dari Joey yang sedikit terbata-bata. Aku rasa bisa dimaklumi karena dia 12 tahun dan bahasa ibunya bukan Bahasa Inggris. Tapi cara pandang dan sikap penanya tersebut membuat Joey terlihat lebih bebas dalam mengutarakan pendapatnya. Dari situlah keistimewaan kepribadiannya semakin muncul.

Pertanyaan-pertanyaan yang umum ditanyakan yaitu?

Orang banyak mengatakan bahwa kamu adalah prodigy musik jazz. Bagaimana pendapat kamu atau apa yang kamu rasakan?
Rata-rata jawabannya adalah dia berterima kasih jika ada orang yang berpikir demikian. Tapi dia lebih senang jika hanya dipanggil musisi jazz.

Umur berapa kamu mulai main musik?
Jawabannya, sejak enam tahun ayahnya memberi dia keyboard (bukan piano) untuk dimainkan. Tapi dia sudah sering diperdengarkan musik jazz sejak lahir bahkan saat dalam kandungan.

Apakah kamu ikut les atau punya guru?
Jawabannya adalah dia tidak pernah mengikuti les secara resmi. Tapi dia sering main bareng (nge-jam) dengan pemain jazz lainnya. Ayahnya memang suka jazz dan ikut komunitas gitu. Lama-lama musisi yang nge-jam sama dia makin wahid dan merupakan pentolan musik jazz dari Indonesia maupun dunia.

Nah jawaban-jawaban itu disampaikan dengan sikap yang rendah hati dan juga dewasa. Mungkin sikap itu yang bikin si pewawancara jadi makin respect sama dia. Misalnya saja wartawan CNN yang berkali-kali bilang betapa rendah hatinya Joey. Di acara lain, Joey juga gak canggung menunjukkan keluwesannya dengan membalas candaan para pewawancara.

Berhubung aku lagi hamil anak pertama (yang telah lama ditunggu-tunggu). Tiba-tiba jadi banyak terinspirasi sama sikap dan perjalanan Joey ini. Keahlian Joey memang diakui dunia, dia dianggap fenomenal karena memiliki kemampuan musik jazz kelas dunia pada usia yang sangat muda. Tapi orang tuanya tidak pernah memaksakan keahlian itu pada Joey sejak awal. Bahkan dia baru diberikan keyboard saat berumur enam tahun. Itupun tujuannya ya buat main saja.

Selain itu, Joe juga tidak pernah secara khusus dimasukkan ke kursus. Dia senang mendengarkan jazz, belajar piano autodidak, kemudian main bareng sama orang-orang yang menyukai hal yang sama. Aku jadi berpikir jangan-jangan ini yang menyebabkan dia bisa bermain jazz secara maksimal. Ya, karena dia sangat menikmati permainan tersebut. Dia berkembang dengan bermain dan menikmati setiap prosesnya. Bukan dengan tuntutan dan pikiran bahwa “saya sedang belajar”.

Dalam tayangan televisi itu juga menampilkan beberapa musisi jazz Amerika yang bermain bersama Joe. Mereka salut sama anak asal Bali tersebut. Menurut mereka, bermain jazz tidak hanya membutuhkan keahlian tapi juga kedewasaan. Dan cara bermain Joey seperti musisi yang sudah malang melintang puluhan tahun, dewasa banget hehehe.

Aku pun jadi ingat sebelumnya sering mewawancarai para pakar pendidikan. Menurut mereka, usia balita 1-5 tahun adalah masa bermain. Di sinilah mereka mengembangkan kreativitasnya dan juga kepribadiannya. Jika orang tua memaksakan anak untuk belajar formal (seperti membaca, berhitung bahkan bermain alat musik sekalipun) mereka akan kehilangan masa untuk mengembangkan kreatifitasnya. Bahkan anak tersebut akan “ngehang” saat usia yang seharusnya jadi waktu mereka untuk belajar. Tidak hanya itu, memaksakan belajar dini juga dapat membuat anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kepribadiannya yang akan mempengaruhi kedewasaannya kelak.

Nah hal itu terbukti pada kasus Joey. Dia mulai main musik tidak pada usia balita melainkan usia enam tahun.
Kalau menurut aku, hal itu membuat Joe punya cukup waktu di masa balitanya buat gak mikirin harus punya kemampuan apa. Tapi saat mulai bermain di usia yang cukup, langsung melesatlah dia.

Hmm..jadi ingat fenomena beberapa orang tua orang tua yang mengikutsertakan anaknya untuk les ini itu sejak balita. Gak jarang jadwalnya bikin si anak jadi gak bebas main lagi. Hasilnya? Ya bangga sih anaknya udah bisa ngapa-ngapain pas bocah. Bahkan udah juara ini itu.

Tapi bagaimana pas gedenya? Hmm…mungkin bagus dan tetap berprestasi, tapi fenomena Joey menginspirasi aku buat sabar aja menunggu waktu yang tepat buat anak memulai sesuatu. Aku ingin mereka menikmati dan bahagia pada setiap masa yang mereka lewati. Aku juga bertekad untuk menekan ego yang ingin menunjukkan “nih anak gue”. Biarkan mereka melakukan sesuatu sesuai dengan tahap umurnya. Toh kalau emang berpotensi jadi orang hebat mah, pasti bisa berhasil juga. Makasih Joey sudah menginspirasi! (tdk)***

Nb: ini tulisan yang dibuat dua minggu lalu. Entah mengapa lupa terus mau posting.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *