Cahaya Temaram

Assalamualaikum nak,

Begitu sapaan yang selalu ambu katakan setiap akan mengobrol denganmu. Tidak terasa sudah 23 minggu kamu ada di dalam rahim ambu. Itu berarti Insya Allah sudah lebih dari setengah perjalanan kamu akan lahir ke dunia. Mudah-mudahan kamu sehat terus ya.

Sejak awal mengetahui keberadaanmu, banyak banget cerita yang ambu alami. Sampai usia kehamilan tiga bulan, ambu masih merasa mimpi kalau sebentar lagi akan menjadi ibu. Ambu sudah mengharapkan kehadiranmu sejak empat tahun lalu. Tapi kamu belum datang juga. Sampai akhirnya ambu pasrah sama jalan yang sudah Allah tentukan. Eh taunya saat itulah kamu hadir.

Selama penantian itu, ayah dan ambu selalu berkhayal kalau kamu dan saudara kamu sebenarnya sudah menunggu di bawah tangga di dimensi tertentu. Tapi kamu belum ada panggilan untuk keluar. Jika tiba saatnya nanti, kamu akan naik ke tangga bercahaya tersebut lalu lahir ke dunia. Ayah percaya kalau itulah yang dia alami sebelum dilahirkan (dia bilang dia masih memiliki memori akan masa itu). Bahkan dia saling mempersilahkan dengan tante antik untuk naik tangga duluan. Ternyata berdasarkan kesepakatan mereka berdua, ayahlah yang maju duluan hahahaha.

Tapi karena merasa masih bermimpi, ambu jadi kurang menjaga kamu saat itu. Apalagi perut ambu masih belum berbeda jauh dengan sebelum hamil. Ambu juga tidak mengalami mual, pusing, dan malas makan seperti ibu-ibu lainnya yang lagi hamil muda (kayaknya keajaiban dunia deh kalau ambu malas makan) . Paling perubahan fisik yang terasa yaitu tenaga ambu seperti tersedot habis jadi gampang banget capek. Kalau diibaratkan, ambu seperti BlackBerry masa kini yang penuh aplikasi, jadi batrenya cepat habis. Itu sebabnya, ambu suka curi curi waktu tidur siang saat bekerja buat ngecharge baterai eh tenaga. Untung ambu gak ribet, bisa tidur di mana aja, misalnya di mushola atau kursi sofa kantor.

Ambu juga masih suka termakan ego. “Kalau ibu hamil lain masih bisa aktif, kenapa ambu enggak?” Begitu pikir ambu saat itu. Ambu masih giat bekerja meskipun sebenarnya kondisi fisik ambu ngedrop. Puncaknya ambu masih keukeuh naik jembatan penyebrangan atau mengejar narasumber naik tangga meskipun sebenarnya dokter sudah melarang.

Sampai akhirnya di Sabtu pagi, ambu merasakan sakit di bagian perut bawah. Tapi ambu masih tetap pergi menemani ayah buat ikut pelatihan. Soalnya sudah lama janji sama ayah buat menemani dia. Ayah semangat sekali pengen mengenalkan ambu sama dunia kerjanya yang baru.

Taunya pas malam hari, sakit perutnya makin parah dan terasa kram. Ambu takut sekali. Mau pergi ke dokter, tapi beliau gak praktek malam minggu. Waktu itu ayah dan ambu tidak banyak bicara, tiba tiba saja kita berpelukan dan sama sama menangis. Bukan karena sakit ambu menangis, tapi karena takut kehilangan kamu.

Ambu lalu mengubungi dokter melalui telepon. Dokter menyarankan untuk istirahat malam itu, tapi kalau besok paginya masih sakit, ambu diminta untuk langsung ke UGD. Ayah lalu membuat botol kompres air hangat buat ditempelkan ke perut ambu. Kompresnya lumayan membantu, ambu lalu tidur sambil diiringi suara ayah yang lagi ngaji sambil doain kamu dan ambu tetap sehat. Besoknya perut ambu sudah jauh membaik. Alhamdulillah tidak ada flek juga. Ambu jadi merasa lega dan memutuskan untuk tetap bekerja Senin harinya.

Setelah bekerja, ternyata sakit perutnya kumat lagi. Ambu memutuskan untuk ijin esok harinya. Ternyata kondisinya tidak membaik juga meskipun sudah bed rest seharian. Ambu kemudian memutuskan untuk pergi ke dokter.

Waktu itu ambu ke rumah sakit sendirian karena kasihan ayah sudah beberapa hari bolos kerja buat jagain ambu. Ambu lalu di USG buat melihat kondisi kamu. Kaget banget waktu lihat kamu di USG, karena kepala dan lehernya kejepit sama plasenta yang benjol ke dalam. Alhasil kepala kamu gak bisa bergerak sama sekali, cuman kaki dan tangan kamu saja yang meronta-ronta ke sana kemari.

Ambu ngerasa sesak banget ngebayangin kamu kesusahan disana. Kata dokter itu karena rahim ambu beberapa hari ini kontraksi, jadi posisi plasentanya kaya benjol benjol ke dalam. Dokter menyarankan supaya ambu dirawat dulu. Sebelumnya nenek Mimi dan nenek Rita juga sudah menyarankan ambu buat nurut kalau harus dirawat. Ambu menelepon ayah dan kemudian sepakat dirawat. Awalnya ambu bingung karena tidak ada yang mengantar untuk mengurus administrasi. Sementara dokter sudah melarang ambu untuk berdiri dan berjalan kaki. Untungnya suster rumah sakit baik membantu ambu mengurus ke bagian administrasi sambil menggunakan kursi roda.

Oia waktu ambu masuk rumah sakit, bertepatan juga dengan peristiwa bom Sarinah. Ambu sempat was-was karena lokasinya tidak jauh dengan tempat kita dirawat. Ambu juga khawatir sama ayah yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Waktu tau ambu dirawat, ayah langsung ijin kerja. Alhamdulillah kita bertiga masih dalam lindungan Allah SWT.

Saat dokter bilang harus dirawat, ambu tidak memikirkan macam-macam. Soalnya baru kali ini ambu merasakan dirawat di rumah sakit. Jadi ambu pikir “ah paling cuman disuruh tiduran aja hahaha”. Soalnya dokternya bilang kalau ambu gak boleh turun dari tempat tidur sama sekali. Bahkan pipis saja harus di tempat tidur.

Tapi ternyata ambu harus melewati berbagai macam tindakan. Ambu diambil darah tiap hari karena kandungan leukositnya tinggi. Leukosit tinggi inilah yang diduga menyebabkan ambu mengalami kontraksi.

Selain itu, tiap hari jarum infus ambu harus ganti lokasi, karena pembuluh darahnya kecil dan sensitif. Infus ini fungsinya bukan buat penambah cairan, karena ambu tetap gembul walaupun sakit hahaha. Kata dokter, infusnya dipasang buat masukin obat, karena kalau yang diminum biasa melalui mulut ternyata gak mempan.

Pernah infusnya gak diganti terus dialiri antibiotik cair. Dari awal, ambu merasa ko sakit banget sih lebih dari biasanya. Kata suster memang sakit karena itu bukan cairan biasa, jadi lebih pekat gitu. Tapi ambu lama-lama gak tahan, sampai menangis. Pas liat ke bagian yang diinfus, tewewew! Tangan ambu ternyata melendung. Bengkaknya terasa berhari-hari. Kata suster, cairan yang masuk juga sedikit meskipun sudah hampir sejam diinfus. Yaaah percuma dong dari tadi ambu nahan sakit. Akhirnya ya udah ambu pasrah saja tiap hari infusnya diganti ke lokasi yang berbeda-beda.

Selain obat dan ambil darah, ambu juga mengalami berbagai macam tes dan pengambilan sample. Soalnya dokter bingung mencari penyebab kenapa leukosit ambu tinggi. Sementara kondisi ambu tidak demam, flu dan sebagainya. Begitu juga dengan kondisi usus buntu, liver, paru-paru, ginjal dan sebagainya. Semuanya baik, tapi kok leukositnya semakin hari bertambah sampai ke angka 20 ribu. Padahal seharusnya maksimal 10 ribu saja. Alhasil ambu harus dirawat sembilan hari untuk melewati berbagai macam tes tersebut. Selain dokter obgyn, ambu juga akhirnya dirawat sama dokter spesialis penyakit dalam.

Awalnya ambu merasa, “ya udah deh kan aku baik-baik saja”. Sakit perut ambu juga sudah mereda setelah tiga hari dirawat.

Tapi rupanya Allah ngasih ambu peringatan melalui teman yang sudah lama tidak bertemu. Waktu itu teman ambu menengok ke rumah sakit, dia cerita sedih kalau harus kehilangan janinnya yang masih berusia lima bulan dalam kandungan. Penyebabnya sama kaya yang ambu alami, yaitu leukosit tinggi akibat ada bagian yang infeksi. Waktu itu teman ambu sudah merasa sakit tapi tidak terlalu digubris. Tau-tau ketubannya pecah. Bayi dalam perutnya lahir dini dan meninggal. Ambu jadi sedih mendengar ceritanya. Tapi itu seperti menjadi peringatan buat ambu supaya gak menyepelekan apa yang terjadi sama kamu.

Memang dokter bilang leukosit tinggi menandakan ada benda asing yang menyerang tubuh. Biasanya itu pertanda ada bakteri. Mungkin awalnya ambu tidak merasa terlalu terganggu. Tapi dokter khawatir kalau bakteri tersebut malah menyerang janin yang dilindungi air ketuban. Kalau sudah terkena ketuban, akan sangat berbahaya buat kesehatan dan keselamatan kamu.

Akhirnya ambu berusaha sabar dan nurut sama dokter. Waktu itu ambu sampai dikasih empat jenis antibiotik. Soalnya antibiotik sebelumnya gak mempan, malah leukositnya jadi bertambah. Setelah antibiotik keempat, leukosit ambu menurun meskipun masih sekitar 18 ribu.

Ambu akhirnya boleh pulang meskipun di rumah harus bed rest dan tetap kontrol ke dokter. Waktu itu nenek mimi datang dari Bandung dan merawat ambu di rumah.

Ambu masih rawat jalan untuk konsultasi hasil laboratorium terbaru. Tapi ternyata dua dokter yang sebelumnya merawat ambu “menyerah” untuk mencari obatnya. Kalau ambu gak hamil sih bisa saja dikasih antibiotik dosis tinggi. Tapi itu bakalan berbahaya buat kesehatan kamu nantinya. Alhasil dokter di rumah sakit tempat ambu dirawat, memberikan rujukan supaya ambu berobat ke RSCM. Di situ ambu diminta berkonsultasi sama dokter sub spesialis penyakit dalam tropikal.

Awalnya ambu kaget ko sampai harus dirujuk ke dokter yang lebih spesialis lagi. Tapi ambu bersyukur sih karena dokter-dokter sebelumnya sangat berhati-hari merawat ambu. Mereka tidak mau sembarangan mengobati ambu karena bisa membahayakan kamu. Selain itu mereka sampai menyempatkan diri berdiskusi tentang penyakit ambu di luar waktu kita datang konsultasi. Alhamdulillah ya, dapat dokter yang baik.

Di RSCM, ambu harus mengalami pemeriksaan laboratorium lagi. Dokternya masih muda, tapi pengetahuannya terlihat luas dan berpengalaman. Hasil tes menunjukkan ada bakteri di saluran kencing. Tapi sebenarnya jumlah bakterinya jauh di bawah standar alias masih tahap wajar.

Dokter di RSCM lalu menjelaskan kalau ada kondisi dimana tubuh ibu merasa janin yang dikandungnya adalah benda asing. Jadi kalau dimisalkan seperti ada alien yang mendatangi planet bumi gitu. Nah kondisi itulah yang menyebabkan tubuh memproduksi leukosit sebagai tentara di gardu terdepan. Buat jaga jaga dan melakukan perlawanan kalau aliennya mengganggu.
Jadi ya reaksi tubuh ambu bukan karena ada penyakit tertentu, melainkan salah paham aja heu heu.

“Kayaknya ini deh penjelasan yang paling logis” pikir ambu. Abis ambu stres juga dites macam-macam hasilnya ternyata baik-baik saja. Ambu juga gak tega kamu dijejelin berbagai macam obat. Memang sih kata dokter obatnya masih aman. Tapi kalau bisa jangan ya, karena kamu kan masih kecil. Akhirnya ambu dan ayah sepakat buat stop pengobatan. Tapiiiiii, kalau sedikit aja merasakan kram, ambu gak bakalan ragu lagi buat langsung ke dokter atau rumah sakit.

Pas pulang, ambu dengar cerita sedih lagi. Teman ambu yang sama-sama dulunya lama gak punya anak terus akhirnya hamil, ternyata mengalami keguguran. Katanya dia kecapean. Duh, ambu jadi makin waspada dan hati-hati banget. Untung dulu ambu cepat-cepat bawa kamu ke rumah sakit ya nak jadi bisa segera diobati.

Oia, dulu sebelum hamil ada teman yang ngomong, mungkin kamu bakalan hadir saat ambu lagi nyicil rumah. Di situ temen ambu ngasih peringatan buat siap-siap dalam mengatur keuangan. Ternyata benar dong, pas ambu tau hamil, pas harus bayar DP rumah, biaya pajak dan lainnya. Selain itu, ayah dan ambu juga sudah mulai bayar cicilan rumah tiap bulan. Ditambah lagi ambu harus mengeluarkan uang berobat jalan karena plafon asuransi kantor ayah sudah habis. Sementara asuransi kantor ibu berubah sistemnya. Hal yang berhubungan dengan kehamilan jadi banyak yang tidak ditanggung. Ambu sempat cemas karena tabungan semakin menipis, hampir habis.

Ambu juga harus siapkan dana buat biaya melahirkan. Ternyata biayanya lumayan sekali ya. Kalau melahirkan di bidan sih lumayan terjangkau sekitar Rp 2 – 3 juta. Tapi berhubung track record ambu pas hamil yang pernah masuk RS, trus usia ambu di atas 30 tahun, ambu dan ayah memilih buat melahirkan di Rumah Sakit sama dokter. Katanya kalau ibu melahirkan anak pertama di usia 30 tahun, resikonya lebih tinggi. Nah kalau di rumah sakit kan fasilitasnya lebih lengkap. Tapi ternyata biayanya bisa sampai sepuluh kali lipat dari melahirkan di bidan. Akhirnya ayah semakin semangat berusaha buat cari uang tambahan. Ambu juga sibuk menghitung celah keuangan dan cadangan investasi yang bisa digunakan buat persiapan kelahiran.

Ajaibnya setelah itu ternyata rejeki tiba-tiba saja mengalir dari segala arah. Mungkin benar kata orang tua dulu, kalau setiap anak membawa rejeki masing-masing. Ambu sekarang bisa lebih lega karena punya tabungan untuk melahirkan dan membeli barang-barang kebutuhan kamu lainnya. Selain itu, kakek dan kedua nenek kamu juga sudah antusias ikut mempersiapkan kebutuhan kamu. Padahal ambu baru hamil lima bulan hehehe. Ambu juga sempat mimpi didatangi almarhum kakek Dadang. Beliau peluk ambu dalam mimpi, mungkin bahagia juga menyambut kedatangan kamu nak 🙂

Meskipun sempat dilanda kecemasan, tapi ambu banyak sekali mendapatkan pelajaran dari perjalanan panjang yang harus dilalui waktu mengandung kamu. Poin pertama yaitu ambu belajar buat menekan ego sendiri. Menjadi calon ibu menyadarkan ambu buat gak egois membuktikan diri bisa jadi wanita hebat yang bisa melakukan segalanya sekaligus, atau malah iri karena perempuan lain lebih kuat dari ambu. Ambu merasa harus belajar buat rendah hati dan mendengarkan orang lain. Termasuk mendengarkan kamu yang mengirimkan sinyal-sinyal bahaya melalui gejala yang ambu rasakan.

Poin kedua yaitu, pengalaman ini juga membuat ambu lebih sabar dan sering tersenyum. Sebenarnya ayah sudah pernah nanya sih, ko ambu sejak hamil jadi lebih sabar dan jarang mengeluh. Padahal ayah sudah siap-siap menghadapi ibu hamil yang senewen hahahaha. Katanya sih teman-teman ayah pada cerita kalau istrinya jadi lebih sensitif pas hamil. Memang kalau ibu hamil kan mengalami perubahan hormon, jadi biasanya lebih sensitif. Tapi kalau dalam kasus ambu, mungkin sensitifnya jauh terkalahkan sama rasa bahagia dan bersyukur karena kehadiran kamu ya.

Terus ambu dan ayah juga menyadari satu hal saat di rumah sakit. Ternyata ditengokin waktu sakit itu menyenangkan banget ya. Kita sama sekali gak berharap kalau penengok itu membawa sesuatu. Karena dengan teman atau saudara yang datang aja sudah sangat menghibur kita. Itu semacam memberikan semangat yang sangat berarti. Ambu dan ayah jadi bertekad buat lebih meluangkan waktu menengok kalau ada teman atau saudara yang sakit. Makasih banyak ya sayang sudah menginspirasi ambu buat belajar.

Akhirnya sudah lima bulan lebih kamu selalu menyertai ambu kemana saja. Ambu sekarang jauh lebih fit dari sebelumnya, meskipun insomnianya jadi kambuh. Ambu sering tidur di atas jam 2 pagi. Bahkan sempat baru bisa tidur setelah subuh. Ambu berusaha buat tidur cepat karena khawatir kamu jadi sakit. Tapi kalau tidak pun, ambu coba bayar lunas tidurnya di pagi hari sebelum berangkat kerja. Alhamdulillah setelah Sabtu kemarin diperiksa, ternyata kamu sehat-sehat saja. Ambu juga mulai kembali mengerjakan urusan-urusan yang tertunda. Ambu berharap urusan ini bisa selesai sebelum proses melahirkan, jadi nanti bisa lebih fokus sama kamu.

Satu hal bahagia yang semakin dirasakan adalah ambu sudah bisa merasakan tendangan dan gerakan kamu yang aktif. Kuat banget kamu nak, padahal belum terlalu besar. Kadang ambu suka teriak sendiri karena ngilu tiba-tiba ditendang. Alhasil orang yang duduk sebelah ambu ikut-ikutan kaget hahaha. Tapi ambu selalu berbisik sama kamu supaya jangan ragu bergerak bebas, karena itu tandanya kamu sehat.

Ambu juga sudah dikasih tau dokter soal prediksi jenis kelamin kamu. Sudah dua kali USG hasilnya sama. Emang jelas banget sih, abis posisi kaki kamunya kaya yang sengaja pamer gitu pas USG hahaha. Nah sejak tau itu, ambu memanggil kamu dengan nama yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Tujuannya biar lebih akrab. Tapi kalau pas lahir ternyata jenis kelaminnya beda, ya sudah kami pakai nama lain yang juga sudah sama-sama dipersiapkan. Soalnya baik laki-laki atau perempuan, ayah dan ambu merasa bakalan sama-sama bahagia menyambut kamu.

Ternyata kamu juga seperti sudah bisa berkomunikasi sama ambu ya. Misalnya saat ambu tidur terlalu larut, kamu protes dengan menendang-nendang. Terus ambu suka elus-elus perut sambil minta maaf. Udah gitu kamunya suka kaleum sendiri hehehe. Begitu juga pas ambu lagi melamun terus ngerasa sedih karena teringat sesuatu, kamu tiba-tiba aja nendang perut ambu. Ambu merasa kamu gak mau liat ambu sedih, terus ngajakin main deh. Makasih ya nak dah hibur ambu.

Ada juga kelakuan ayah yang menurut ambu aneh. Kalau ayah lain kan biasanya bilang sama istrinya buat jaga janinnya. Nah kalau ayah malah sering bisikin perut ambu terus ngomong “tolong jagain ambu ya nak”. Lah ko yang kecil jagain yang besar? Hehehe. Ayah bilang kalau dia percaya kamu bisa jagain dan doain ambu supaya sehat terus dari dalam. Ayah juga berkhayal kalau kamu jago silat sehingga bisa menangkal semua bakteri dan virus yang masuk hahaha.

Pas kemarin diperiksa, sekarang berat kamu 504 gram. Masih kecil ya? Tapi ko kiloan ambu dah nambah 7 kg hahaha. Emang sebulan ini ambu ko jadi seneng ngemil. Alhasil nambah 2,5 kg dalam sebulan. Padahal kata dokter normalnya nambah 1,5 kg aja sebulan. Waduh..naiknya jangan kebanyakan ya nak. Cukup 10 kg aja sampe lahiran, bisa gak yaaa heuheu. Kata temen ambu yang dah pengalaman, kalo naiknya cuman 10 kg mah udah langsung balik normal lagi gak lama setelah brojol.

Tapi dokter bilang, “jangan ditahan ya bu makannya, perbaiki aja gizinya sama kurangi manis dan ngemil gak sehat”. Dokter juga nyuruh ambu diet protein tinggi. Caranya dengan makan putih telur minimal 3 butir sehari, waaaaw. Mudah-mudahan kita gak bosen ya nak hehehe.Kalau telur merahnya dibuang aja. Sayang sih, tapi nanti takut kolesterol tinggi.

Ambu juga disuruh minum air putih 3 liter sehari, dan dilarang minum teh dulu apalagi kopi. Jadinya petualangan ambu cerita di blog saat minum teh berhenti dulu deh. Tapi gak apa apa, nanti bisa lanjut lagi setelah kamu lahir.

Dokter juga minta ambu makan buah dan sayur yang banyak supaya gizinya seimbang. Tapi ambu dan ayah keukeuh buat gak mewajibkan minum susu, apalagi susu khusus ibu hamil. Ya memang dari sebelum hamil, ambu sama ayah merupakan pengikut food combaining yang menghindari susu sapi. Udah gitu setahu ambu, susu hamil cuman ada di Indonesia deh (menolak jadi korban propaganda iklan). Kalau di luar negeri mah, ibu-ibunya gak ada yang minum susu khusus ibu hamil. Jadi sebenarnya gak wajib selama nutrisinya sudah terpenuhi. Sekali-kali ambu minum sih buat makanan rekreasi, tapi bukan yang harus rutin diminum tiap hari gitu. Lagipula ambu rajin minum vitamin yang dikasih dokter seperti calsium, CDR (jadi asupan calsiumnya double sama vitamin yang dikasih dokter. Ini emang disuruh dokter juga), asam folat + zat besi dan lainnya. Insya Allah nutrisi kamu tetap terpenuhi ya supaya kamu tumbuh sehat dan pintar. Aamiin.

Daaan untuk mengendalikan pertumbuhan angka timbangan (hahaha), sekaligus mengurangi sakit punggung dan pinggang yang sudah semakin nyata, ambu memutuskan untuk kembali melakukan yoga. Ambu dulu sempat yoga dan hasilnya memuaskan banget. Tulang punggung ambu jadi jarang sakit, terus napas juga lebih plong. Otot badan juga gak pernah pegal-pegal lagi. Tapi sejak pindah ke Jakarta, ambu belum sempat latihan yoga lagi.

Kebetulan ada kelas yoga khusus ibu hamil yang masih satu area sama tempat kita tinggal. Mudah-mudahan kamu juga suka sama yoga ya. Bantu ambu ya biar kuat, soalnya sudah lama gak olah raga rutin. Kemarin sudah minta ijin sama dokter dan dikasih restu karena kandungannya sudah besar. Nanti sekali-kali kita renang juga yaaa biar paru-parunya kuat.

Dokter juga bilang kalau kamu posisinya masih sungsang. Tapi kalau sekarang masih gak apa-apa sih karena kan lahirannya masih lama. Nah dengan berolah raga, mudah-mudahan nanti posisinya udah pas menjelang lahiran. Jadi ambu bisa melahirkan normal. Aamiin.

Ough panjang amat ceritanya. Ambu terlalu semangat curhat hehehe. Kalau sudah besar nanti, kamu baca ya tulisan ambu. Supaya kamu tau kalau ambu, ayah, kakek, nenek, uwa, tante, semuanya merasa bahagia banget menantikan kehadiran kamu. Meskipun banyak cobaan, ambu tetap semangat berjuang! Mudah-mudahan kelak, kamu juga jadi orang yang pantang patah semangat ya. Aamiin. Sehat terus ya nak, love you. (tdk)***

4 Comments

  1. ika sartika

    Blognya manfaat bgt buat saya mba.. krna saya juga d vonis PCO ,, saya jadi semangat untuk program hamil yg alami mba.. doain saya juga mba semoga cepat menyusul mba yaaaa…

    Reply
    1. cahayatemaram (Post author)

      Aamiin, semangat ya semoga cepat menyusul

      Reply
  2. Wulandari

    Selamat ya mba… Semoga ibu dan dedenya sehat terus sampai lahiran nanti
    Saya bacanya sampai terharu banget….
    Kira-kira hplnya kapan mba?
    Saya juga pcos dan saat ini sedang hamil 9 minggu jalan 10 minggu
    Mba selama kehamilan ada makanan yg dipantang ga ya karena kita kan pcos? Dulu sebelum hamil saya ga makan nasi dan mie mba tapi semenjak hamil saya makan nasi

    Reply
    1. cahayatemaram (Post author)

      Halo mbak wulan, saya sudah melahirkan sebulan lalu. Makanan pantangan kalau saya gak ada ya. Berusaha seimbang aja dengan perbanyak makan sayur dan buah.

      Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *