Cahaya Temaram

Belenggu Itu Bernama Pernikahan

image

Waktu itu saya baru setahun lebih menjadi wartawan dan bertugas di pos kesehatan. Saya memutuskan untuk meliput seorang perempuan asal Garut yang baru dikirim ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bandung. Dia mengalami gangguan mental dan sebelumnya dipasung selama bertahun-tahun dalam kandang oleh keluarganya sendiri. Tapi setelah senior saya yang bertugas di Garut menulisnya dan dimuat dalam koran, pemerintah akhirnya mencari perempuan tersebut dan membawanya ke RSJ Provinsi Jawa Barat yang terletak di Bandung.

Kebetulan waktu itu saya kenal dengan Dirut RSJ Bandung yang sebelumnya menjadi Wakil Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Beliau almarhumah dokter Baniyah atau akrab dipanggil “dokban”, perempuan humoris yang sempat bercanda akan menjodohkan saya dengan keponakannya hohoho. Setelah ngobrol-ngobrol‎, akhirnya dokban mengijinkan saya untuk menengok pasien tersebut.

Saat itu merupakan pertama kalinya saya masuk ke RSJ‎. Saya sempat bertanya-tanya bagaimana bentuknya? Apakah seperti yang ada di film-film?Rumah Sakit Jiwa yang saya kunjungi sebenarnya sangat populer di Bandung dengan sebutan Riau 11, karena letaknya berada di Jalan Riau (sekarang Jln RE Martadinata) no.11. Kata dokban, sebenarnya tempat ini kurang nyaman dan terlalu sempit untuk dijadikan RSJ karena berada di pusat kota bahkan pusat belanja.‎ Orang dari luar Bandung mungkin tidak menyadari kehadiran tempat ini karena tertutup oleh outlet-outlet yang menjamur di sekitarnya.

Dari depan, suasana RSJ ini seperti Puskesmas. Banyak pasien yang diantar keluarganya mengantri untuk berobat jalan. Saya lalu diantar masuk petugas menuju ke ruang rawat inap. Setelah melewati beberapa pintu pagar besi, akhirnya saya sampai menuju sebuah area seperti teras yang berlantai putih dan luas. Di‎ sebelah teras tersebut terdapat taman kecil yang dipenuhi tanaman hijau nan asri. Suasana pagi terasa dari hawa yang masih sejuk.

Teras sudah dipenuhi oleh dua puluhan pasien. Mereka menggunakan seragam rumah sakit. Belasan perawat berada di antara mereka, sabar menjaga dan melayani para pasien. ‎Petugas yang mengantar saya mengatakan bahwa setiap pagi merupakan waktu para pasien untuk berekreasi. Mereka dikumpulkan untuk bernyanyi bahkan menari. Para perawat tidak canggung membaur untuk bernyanyi dan menari bersama mereka sehingga suasana ceria pun tidak tampak dipaksakan.

“Itu dia orangnya” kata petugas menunjukkan perempuan asal Garut yang saya maksud. Seketika itu saya memalingkan wajah pada dia, seorang perempuan pendek dan ceking yang dipapah oleh dua orang perawat. Kakinya pincang setelah dipasung bertahun-tahun. Ada ekspresi nyeri yang kadang-kadang tersirat di wajahnya. ‎Tapi dia tidak banyak bicara, hanya menunduk.‎

Saya tidak langsung mendekatinya, membiarkan dia berbaur terlebih dahulu dengan pasien lainnya. Menurutku dia membutuhkan waktu untuk beradaptasi karena baru dibawa oleh petugas satu hari sebelumnya. Para perawat RSJ mencoba membantu dia berbaur, namun dia hanya diam.‎

Setengah jam berlalu, saya lewati dengan tersenyum dan menolak secara halus ajakan para pasien untuk berjoget. Setelah itu para pasien mulai diantar kembali ke kamarnya masing-masing. Sebagian berada di ‎lantai satu, namun kebanyakan di lantai dua. Saat itulah saya mencoba untuk mendekati perempuan asal Garut tersebut. Saya coba tersenyum dan menyapanya, namun dia lebih banyak diam dan menunduk. Saya pun tidak memaksa. Sambil mengelus bahunya saya bertanya pada perawat mengenai kondisinya. Perawat ‎mengatakan kondisi fisiknya cukup memprihatinkan. Selain pincang di kaki, tulang rusuknya juga ada yang retak. ‎

Saya lalu menarik napas perlahan mencoba untuk menenangkan emosi yang muncul. Setelah mencoba berinteraksi lagi, namun tidak berhasil, saya‎ lalu menganggukkan kepala pada petugas agar bisa membawanya kembali ke kamar. ‎

Saya lalu mengobrol dengan dokter yang merawatnya dan bertanya, kenapa dia bisa mengalami gangguan jiwa? Berdasarkan hasil penelusuran petugas, ternyata gangguan jiwa tersebut dialami setelah dia menikah dengan pria yang berdomisili di kampung tetangga rumahnya. Saat menikah, perempuan tersebut masih berumur belasan tahun.

Suaminya ternyata sering melakukan kekerasan fisik dan psikis pada perempuan tersebut.‎ Pasien sempat hamil namun keguguran karena kekerasan fisik yang dialaminya. Tidak hanya memukul, suaminya juga sering melakukan tendangan yang mengakibatkan tulang rusuknya retak.

Perlakuan itu membuat sang istri tertekan. Namun tidak ada ruang baginya untuk lari. Dengan alasan etika, keluarga enggan menerimanya kembali‎ dan meminta dia untuk pulang ke rumah suaminya. Kejadian tersebut terulang bertahun-tahun sampai gangguan jiwanya menjadi semakin parah.

Setelah menyadari istrinya mengalami gangguan jiwa berat, sang suami akhirnya memulangkannya ke keluarganya. Namun pemahaman pendidikan yang kurang baik menyebabkan keluarganya tidak membawa perempuan tersebut ke dokter. Mereka hanya menempatkan perempuan tersebut dalam kandang dan memasung kakinya agar tidak lari atau bertindak agresif.

Saya kembali menahan napas, mencoba menenangkan emosi. Ini bukan pertama kalinya saya mendengar cerita serupa. Tidak sampai seekstrim perempuan itu memang, tapi bagi saya tetap mengerikan.

Saya tumbuh di tengah keluarga yang lelakinya sangat menjaga perempuan. Ayah saya pria tegas yang sangat disiplin dan galak pada anak-anaknya. ‎Beliau tak segan memarahi dengan keras untuk mendidik kami. Namun tidak sekalipun saya melihat beliau membentak dan berkata kasar pada ibu saya. Dia sabar mendengarkan ibu bercerita setiap hari dan menghargai pendapatnya. Bahkan saat ibu tidak ada, ayah selalu berpesan pada saya untuk tidak membuat ibu khawatir. Dia tahu ibu saya orang yang gampang khawatir akan sesuatu.‎

Tidak hanya pada ibu, ayah juga tidak membedakan perlakuan pada saya dan kakak laki-laki saya. Kami sama-sama diberi kesempatan berekspresi dan memiliki pendidikan yang layak. Lekat di ingatan saat SD, ayah sempat berpesan agar saya menjadi perempuan yang tidak terlalu bergantung pada orang lain. “Harus segala bisa ya de, nanti belajar nyetir juga ya, jangan ketergantungan sama orang,”begitu katanya.

Di masa dewasa inilah saya baru menyadari betapa beruntungnya menjadi anak perempuan ayah. Dia begitu sabar menjawab semua pertanyaan-pertanyaan saya seperti yang anak-anak kecil sering lakukan. Bertanya tanpa batas, mengapa begini mengapa begitu. Apa ini dan apa itu. Semua pertanyaan dia coba jawab dengan bahasa yang mudah dicerna oleh anak-anak seumuran saya waktu itu. Anehnya bukannya bosan, ayah saya malah terkesan memancing saya untuk berpendapat. Mungkin karena dia melihat bahwa saya memiliki karakter dasar yang pendiam.‎ Memang ada kalanya dia mengarahkan hasil pendapat saya, mungkin dia merasa terlalu tengil hehehe. Tapi secara umum saya merasa pendapat dan segala apa yang saya katakan sangat dihargai. Sejak dini, saya mendapatkan satu hal penting yang belum tentu dimiliki semua perempuan masa lalu bahkan masa kini sekalipun yaitu “hak untuk berbicara dan berpendapat”.

Sekilas itu tampak menyenangkan, tapi ternyata ada kekurangannya juga. Kekurangannya adalah saya menjadi sangat shock saat tumbuh besar dan mendapati banyak keluarga lain ternyata kondisinya tidak seperti itu. Banyak lelaki di sekitar saya yang sadar atau tidak, kurang menghargai perempuan di sekitarnya. Misalnya saat saya lewat rumah tetangga, tidak sengaja mendengar seorang suami yang ngomel dan berkata “dasar bloon” pada istrinya.‎ Perkataan tersebut dilontarkan suami karena masalah sepele yaitu istrinya tidak bisa mengoperasikan peralatan rumah tangga yang rusak. Saya langsung kaget dan ngeri dibuatnya. Coba deh bayangin, puluhan tahun kamu tidur sama dia. Kamu hamil dan melahirkan anak-anaknya. Setelah semua itu yang keluar dari mulut dia tentang kamu adalah “dasar bego” -_-

‎‎

Begitu juga saat kuliah mendengar cerita teman saya yang dipukuli sampai pingsan oleh pacarnya. Ada juga yang sampai diancam menggunakan rencong di dekat lehernya. Anehnya setelah dikasari, mereka selalu menerima laki-laki tersebut kembali. Memang pacar mereka menyatakan sangat menyesal, minta maaf dan lain-lain. Tapi tak butuh waktu lama bagi mereka untuk melakukan perbuatan yang sama.‎

Jangankan kekerasan fisik, saya juga sering merasa sedih jika tidak sengaja mendengar suami yang membungkam mulut istrinya dengan “sudah kamu diem aja, ini urusan laki-laki”. Ada juga yang ngomong “apalagi sih yang kamu mau? Kan uangnya sudah ditransfer” seolah kebutuhan istri hanya materi.

Ko bisa saya mendengar percakapan suami istri kaya gitu? Ya bisa. Bukan karena saya memasang cctv di rumah orang ya, tapi banyak kok rekan kerja yang lebih tua, orang tua teman, atau orang di sekeliling kita yang berbicara seperti itu. Mungkin mereka menganggapnya biasa, makanya bisa mengucapkannya di depan orang luar.‎

Yang paling miris adalah saat ada istri yang masih kerabat keluarga ayah juga mengalami kekerasan fisik dan psikis dari suaminya. Bahkan sang suami tak segan melakukannya depan keluarga istri.‎

Semua keluarga istri sangat kesal saat mengetahui anak perempuan yang mereka sayangi diperlukan demikian. Tapi mereka seperti tidak bisa melakukan apa-apa selain mengutuk sang suami dan mengurut dada.‎ Terlebih lagi sang istri malah terlihat malu saat keluarganya tahu bahwa suaminya kerap berlaku kasar. Perasaan bahwa itu adalah aib rumah tangga sendiri membuat dia tabu untuk meminta bantuan, bahkan cenderung menutupi.

Jika ada orang sinis yang ngomong “loh itu kan suami pilihan dia, salah sendiri dong”. Perlu saya sampaikan bahwa pernikahan mereka terjadi karena dijodohkan orang tua. Itu lazim terjadi pada jaman dulu. Setelah ditelusuri, tujuan orang tua itu awalnya baik. Namun ternyata orang tua juga manusia biasa yang bisa salah menilai seseorang.‎

Pembelaan oleh orang lain, bahkan keluarga istri sekalipun seperti dibatasi oleh etika yang disebut pernikahan. Etik‎a yang akhirnya membentuk s belenggu sehingga tak satu orang pun bisa menjamahnya. Sama seperti halnya keluarga perempuan asal Garut yang seolah tidak berdaya melihat anak perempuannya mendapatkan kekerasan fisik oleh suaminya. ‎

Rentetan peristiwa tersebut membuat saya ‎sempat berpikir untuk tidak menikah. Ada perasaan trauma yang timbul, padahal saya tidak mengalami secara langsung, hanya menyaksikan saja.

Timbul pertanyaan dalam benak ini, haruskah saya menikah? Apakah dengan menikah berarti saya harus pasrah jika nanti menerima kekerasan fisik, seksual, dan psikis?‎ Mungkin saya tidak mengalami kekerasan fisik, tapi bagaimana dengan psikis? ‎Bisakah saya menikah namun tanpa merasa terpenjara? ‎Akankah nanti saya bisa tetap berekspresi dan berkarya? Buat saya ini penting karena mempengaruhi semangat saya dalam menjalani hidup. Jika saya menikah nanti, haruskah pasrah jika tidak bahagia dengan dalil etika sosial maupun agama?‎

‎Ya, saya akui saya sempat takut menikah. Waktu itu, saya berpikir bahwa tidak usah menikah jika alasannya karena sebuah keharusan semata. ‎Sesuatu yang harus dilakukan oleh perempuan tanpa pertimbangan bahwa kehidupan setelahnya akan bahagia atau tidak. ‎Saya merasa ngeri jika nanti ditanyakan alasan menikah, jawaban hati kecil saya adalah “bukankah itu sesuatu yang harus dilakukan perempuan? Ya udah jalanin saja”.

‎‎

Terlebih lagi saya juga dibuat kaget karena banyak laki-laki di sekitar saya yang tidak menyadari bahwa dirinya telah melakukan kekerasan pada perempuan. Mereka hanya memahami jika kekerasan itu dilakukan secara fisik. Namun perkataan kasar dan tekanan psikologis dianggap merupakan hal yang lumrah. Karena tidak menyadari, ya sudah dianggap normal saja dan tidak perlu diperbaiki.‎

Sampai akhirnya setelah usia seperempat abad, ada pikiran lain yang mengganggu saya. Jujur saya memikirkan perasaan ibu jika saya tidak menikah. Tidak tega rasanya membuat dia khawatir. Ah rupanya pesan almarhum ayah terlalu tertanam dalam benak saya. Ibu memang tidak pernah memaksa saya menikah. Jangankan memaksa, bertanya “apakah kamu sudah punya calon” saja dia tidak pernah. Saya tahu dia begitu karena tidak mau menekan saya. Padahal dalam hatinya mungkin timbul rasa kahwatir.

‎Sempat saya tidak tahan dan akhirnya meminta maaf pada ibu karena belum menikah. Entah kenapa jadi ingin meminta maaf hahahaha. Hanya saja saya khawatir ibu sedih karena anak-anak temannya sudah pada menikah. Begitu juga beberapa sepupu saya yang usianya bahkan ada yang lebih muda. Tapi ibu saya menjawab “Kok jadi mikirin bunda? Tenang saja. Menikahlah saat kamu merasa sudah menemukan lelaki yang tepat,” begitu katanya.

‎Saya lalu mulai berpikir kembali.‎Beneran nih gak bakalan nikah? Apakah tidak ada win win solution untuk ketakutan yang saya hadapi? Saya mulai merenung dan memperhatikan sekeliling sekali lagi, lagi dan lagi.

Oia saya lupa cerita, jujur saya bukan orang yang mudah terbawa apa kata orang atau stigma umum yang orang lain pikirkan. Apalagi kata orang itu adalah sebuah cerita Cinderella yang mengatakan bahwa sang putri akan bahagia selamanya setelah menikah dengan sang pangeran hohoho. Ya gimana mau berkesimpulan seperti itu kalau kenyataan yang saya lihat banyak pernikahan tidak bahagia? Bahkan pernikahan yang bertahan pun dijalankan seperti tanpa nyawa.

Eh tapi, kenapa saya harus pesimis ya? Kan sudah ada contoh kasus pernikahan yang bahagia sampai akhir hayat.‎ Ya kan? Tidak usah jauh-jauh, contohnya kan sudah ada pada orang tua saya!

Aha! Setelah berpikir demikian, saya pun tiba-tiba bersemangat. Seperti menemukan secercah cahaya dalam kegelapan hahaha. ‎

Saya bertanya kembali, “Mungkinkah itu terjadi hanya pada keluarga saya saja? Tidak hanya orang tua saya, om dan tante saya pun mengalami pernikahan bahagia seperti yang saya idamkan. Tapi bagaimana dengan kultur keluarga lainnya?”‎

S‎aya kembali kepo lagi, jeli melihat orang-orang di sekitar saya. Lah itu, si pasangan bapak ibu itu kelihatannya bahagia meskipun sudah lama bersama di usianya yang 50 tahun lebih. Suami terlihat sangat perhatian pada sang istri bahkan untuk sekedar makan. Dia selalu tersenyum saat bertemu dengan istrinya dan berkata lemah lembut. Wajah sang istri pun selalu ceria setiap saya bertemu dengannya di kantor. Dia sering cerita kejadian-kejadian lucu yang dialami dengan suaminya.‎

Belum lagi kalau saya liat pasangan-pasangan publik figur. Misalnya Sophan Sophian-Widyawati, ‎Bj Habibie-Ainun, juga Jusuf Kalla-Mudalifah. Mereka lelaki-lelaki sukses yang sangat mencintai dan menghormati istrinya. Begitu juga sang istri selalu menemani dan mendukung suaminya.

“Masih ada, masih ada perempuan yang menjalani pernikahan dengan bahagia” saya berkata pada diri sendiri sambil tanpa sadar mengangguk-anggukkan kepala dengan semangat. “Jumlahnya lebih sedikit sih, tapi ada” rasa optimis kembali menggelayuti benak saya.‎

Akhirnya saya coba menelurusi semua cerita tentang mereka. Saya merekam, karakter pria seperti apa sih yang menjadi suami dalam cerita pasangan tersebut? ‎Saya rekam setiap detailnya pada otak. Saya analisis dan kombinasikan dengan karakter pria seperti apa sih yang saya butuhkan? Misal karena saya anak bungsu, jadi cenderung manja. Maka saya membutuhkan pria yang bisa ngemong.

Tidak hanya itu‎, rasanya terlalu naif jika menilainya dari satu pihak. Saya percaya, sikap suami juga ditentukan oleh istrinya. Bisa saja suami-suami itu tidak akan bersikap demikian jika menikah dengan perempuan yang berbeda. Oleh karena itulah, saya juga mempelajari karakter istri seperti apa sih yang memiliki suami yang menyenangkan. Saya rekam dan mencocokan kemungkinannya dengan karakter asli yang saya miliki. Yang buruk dikurangi, yang baik diasah untuk ditonjolkan.

I know. I take it seriously. Mungkin bisa melebihi penelitian saat skripsi hahaha. Tapi jika boleh membela diri, menurut saya kenapa tidak? Perjalanan saya setelah menikah masih panjang. Mungkin lebih dari setengah masa hidup di dunia saya lewatkan setelah menikah. Saya tidak ingin terpeleset di awal. Jika saya masih bisa memilih, kenapa tidak memanfaatkannya dengan cara yang terbaik.

Lalu tiba saatnya mengimplementasikan semua catatan yang telah saya buat. Oia maksud catatan di sini tidak saya tulis di atas kertas sebenarnya, tapi dalam bentuk poin-poin yang tersimpan di memori hehehe. Saya menempatkan karakter dalam catatan saya sebagai poin nomor satu dalam memilih suami.

Tentu saja saya menyadari bahwa itu memiliki konsekuensi bahwa saya harus “merendahkan” kriteria poin yang di bawahnya. Sebagai ilustrasi, menurut saya karakter A itu wajib ada pada pria pilihan, itu berarti ya gak perlu cari ‎pria dengan penampilan Chris Hemsworth kaliiiii. Yang penting manis dan enak dipandang sudah cukup. Lagian, semakin kita sayang sama seseorang biasanya orang itu terlihat makin ganteng, bagaimanapun bentuk aslinya hahahaha.

Atau kita ingin memiliki pria karakter B. Ya gak usah cari pria mapan lengkap dengan rumah dan mobil. ‎Bagi saya cukup asalkan pria tersebut memiliki penghasilan dan rasa tanggung jawab untuk berusaha sebaik mungkin dalam menafkahi keluarga. Tapi yah kalau diperhatikan, pria yang karakternya bagus mah Insya Allah rejekinya juga bagus. Kan dunia mah suka mencari keseimbangannya sendiri. Orang yang rajin bekerja Insya Allah dikasih rejeki melimpah nan barokah. Apalagi kalau karakternya pinter mencari celah dan peluang. Tinggal menunggu proses saja, juga tergantung bagaimana istrinya selalu mendukung dan membuat dia semangat bekerja hehehe.

Apapun itu, yang pasti sang pria sebisa mungkin memiliki karakter sesuai catatan yang saya buat karena itu berada di list nomor satu. Yah syukur-syukur kalo sekalian dapat yang ganteng dan mapan. Kalau dah rejeki masa ditolak hahaha. ‎Tapi ya itu, aku mah gak pernah mengharapkan langsung dapat semuanya sekaligus. Ya kaliiii, emangnya eike Dian Sastro! Hahaha

Nah disamping itu usaha lainnya ya apalagi kalau bukan memperbaiki diri sendiri semampu aku. Jadi jangan cuman ngarep punya jodoh impian sementara akunya yaa gitu deh. Seperti hukum ekonomi, kalau barangnya bagus harganya juga akan bagus. Kalau‎ barang jelek, harganya tinggi, mungkin belinya di black market hahaha.

Singkat kata saya coba ikhtiar untuk menemukan si dia dengan catatan catatan tersebut. Ini semacam GBHN lah ya hahaha, semacan pakem, tapi fleksibel juga sih sesuai kondisi. Wajah-wajah datang dan pergi, gak bisa dipungkiri hati kecil sering bertanya “ada gak ya, ada gak ya? Duh ko gak nemu-nemu, pada gagal, nyerah aja gitu?.

Sampai akhirnya saya melihat sebuah tulisan menarik yang diposting‎ teman kakak di facebook.Biasanya saya kenal teman-teman kakak saya, tapi yang ini belum. ‎Saya baca tulisan-tulisannya. Duh jadi penasaran, siapa sih yang nulis? Saya percaya tulisan seseorang merepresentasikan karakter penulis. Entah kenapa waktu itu perasaan saya bilang “dia orang yang saya cari”. Saya melihat dia sebagai orang yang memiliki wawasan terbuka dan positif thinking. ‎

Tapi waktu itu kami cuma saling berkenalan nama di dunia maya dan ya sudah, jalani kehidupan masing-masing seperti biasa. Soalnya saya pikir dia bukan karakter yang nyata, hanya bertemu di dunia maya saja. Delapan bulan saya hanya sebatas membaca tulisannya. Tidak pernah terlintas pikiran ‎ bahwa cerita kami akan berjalan lebih jauh.

Oia satu hal yang saya suka selain tulisannya adalah saat orang lain memberikan komentar yang tidak sependapat dengan tulisannya, bahkan cenderung berkata pedas. Dia bisa memberikan tanggapan dengan baik dan berhati dingin. Buatku ini nilai plus karena menunjukkan dia orang yang menghargai pendapat orang lain dan tidak memaksakan kehendaknya.

Sampai tiba-tiba dia berkata ingin berkenalan dengan saya secara langsung. Dia berniat untuk datang ke kota saya dan bertemu. Muncul insting yang membuat saya memiliki optimisme lebih kepadanya. ‎Mungkin itu yang menyebabkan saat bertemu, tanpa tendeng aling2 saya langsung to the point untuk “menginterogasinya” secara halus. Saya tidak sabar ingin memastikan bagaimana sih mind set dia tentang perempuan dan posisinya sebagai seorang istri. Ujung-ujungnya saya blak-blakan juga tentang perjalanan yang saya alami sesuai dengan cerita di atas. ‎

Kalau dengan pria lain, mungkin mereka akan langsung kabur ya diajak diskusi kaya gitu hahaha. Baru juga pertama bertemu, udah ngomong serius. Tapi anehnya dia bertahan. Kami banyak melakukan diskusi tentang segala hal selama tiga hari berturut-turut dia ada di kota saya. ‎

Saya tidak optimis 100 persen. Bisa saja ini gagal. Tapi ada perasaan yang membuat saya bertahan dengan sikap saya. Apalagi setelah bertemu langsung, saya memiliki keyakinan lebih banyak lagi padanya. Puncaknya setelah dia pulang ke kotanya lalu kembali lagi menemui saya, dia langsung menyatakan niat untuk menjadikan saya calon istri.

Lalu apakah semuanya berjalan mulus setelah menikah? Jawabannya tidak. Adapatasi yang sangat hebat terjadi. Saya sempat merasa akan gagal.

Saya lalu bertanya pada orang-orang yang lebih tua‎ apakah ini karena proses pendekatan kami yang terlalu singkat? Rata-rata mereka menjawab bahwa proses adaptasi itu hal paling umum yang dialami pasangan baru berumah tangga. Bayangkan saya tinggal bersama keluarga selama seperempat abad lebih, begitu juga dia. Kami besar dengan kultur keluarga masing-masing yang berbeda. Kecil kemungkinan jika langsung bisa melebur begitu saja.

“Masuk akal juga” pikir saya.‎ Saya lalu berkomunikasi lagi dengan dia. Untungnya kami dari awal memang membiasakan diri berdiskusi, jadi komunikasi tentang segala hal bukan sesuatu yang terlampau sulit. Sampai akhirnya sekarang saya sudah hampir menjalani lima tahun pernikahan.

Kalau ditanya apakah akhirnya saya menemukan pernikahan yang bahagia? Jawabannya untuk sekarang iya, dan saya saaaaangat bersyukur ‎akan itu. Bisa dikatakan kehidupan saya setelah pernikahan lebih bahagia dibandingkan sebelumnya.

Tapi saya tidak mau naif, semuanya bisa berubah di masa depan. Tidak ada sesuatu yang pasti di dunia ini kecuali ketidakpastian itu sendiri. ‎Di sisi lain rasa ketidakpastian itu membuat saya selalu berusaha untuk tidak lengah. Semuanya harus terus dibina termasuk komunikasi dan rasa yang tumbuh. Namun setidaknya saya masih optimis bisa bahagia dengan pernikahan yang sekarang jalani. Itu yang penting.‎

Oia, kenapa ceritanya jadi mengerucut ke pengalaman pribadi? Karena saya tidak berani menulis tentang hal-hal yang masih belum banyak saya ketahui.‎ Saya tidak berani mengeneralisir kasus dan membandingkannya dengan orang lain. Saya belum ahli untuk itu. Apalagi pernikahan saya masih seumur jagung. Apeulah saya.‎

Melalui tulisan ini saya hanya ingin berterima kasih kepada ayah dan ibu yang telah memberikan contoh pernikahan yang baik buat saya. Mungkin mereka tidak menyadari jika teladan yang dilakukan sehari-hari telah mempengaruhi keputusan besar dalam kehidupan saya. Begitu juga dengan contoh pasangan lainnya, tanpa kisah mereka, mungkin saya masih berkubang dalam lautan pesimistis.‎

Makasih pap and bun, semoga Allah SWT senantiasa melindungi dan menyayangi kalian berdua.‎ Aamiin.(tdk)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *