Cahaya Temaram

Anak Domba

image

Kemarin sore, aku mengunjungi kandang domba milik teman di daerah Bandung. Dia berbaik hati memperlihatkan dua ekor domba jantan asal Garut. Badannya relatif besar untuk ‎seekor domba. Dan tanduknya melingkar menandakan kegagahannya.

Domba jantan asal Garut memang tersohor sebagai domba adu. Tak heran saat dikeluarkan dari kandang, kedua domba tersebut langsung menyerang satu sama lain. Mungkin mereka memang memiliki naluri sebagai domba adu. Padahal temanku memelihara domba tersebut bukan untuk diadu, melainkan untuk dijual baik sebagai hewan kurban atau ekahan.

Karena sifat agresifnya itulah kedua domba itu diikat secara terpisah dengan jarak yang cukup jauh. ‎Tak lama kemudian, temanku bercerita memiliki anak domba yang baru berumur 40 hari. Dia lalu mengeluarkan anak domba tersebut dari kandangnya. Karena masih anak-anak, domba tersebut dibiarkan bebas begitu saja tanpa diikat tali.

Aku pun terkesima melihat anak domba yang langsung berputar-putar ke sana kemari saat dilepaskan. Aku baru tau kalau anak domba lebih senang melompat-lompat diban‎dingkan berjalan. Entah karena gelisah atau terlalu bahagia (aku sulit membaca ekspresi domba), dia sama sekali tidak mau diam. Awalnya aku agak ngeri, takut dia tiba-tiba menyeruduk ke arahku yang sedang hamil besar hahaha. Bagaimana aku bisa lari dengan perut sebesar ini. Begitu pikirku. Tapi ternyata tidak, aku malah gemas melihat tingkahnya. Sayangnya aku lupa untuk mendokumentasikannya dalam video.

Rupanya dia tahu diri. Dia tidak berani mendekati manusia. Dia lebih tertarik untuk melompat berputar-putar sambil mendekati salah satu domba jantan yang diikat di lapangan tadi. ‎Tapi makin dekat, dia malah diseruduk oleh domba jantan dewasa tersebut. Anak domba pun berkelit. Sepertinya dia kaget (begitu khayalku, ini kesimpulan pribadi karena aku gak bisa ngomong sama domba hahaha). Dia lalu melompat menjauh dan mendekati domba dewasa satu lagi.

Rupanya anak domba itu tidak kapok meskipun langsung diserang oleh domba dewasa sebelumnya. Dia malah melompat mengeliingi domba dewasa satu lagi. Domba jantan dewasa ini bahkan ukuran badannya lebih besar dari sebelumnya dan sama-sama memiliki tanduk yang melingkar. Namun ternyata domba dewasa itu malah bersikap lembut pada si anak domba tersebut. Dia bahkan berkali-kali menciumnya.

“Anak domba itu memang anaknya Jimmy,”kata temanku. Jimmy adalah nama domba jantan dewasa yang mencium anak domba tersebut. Dia adalah domba jantan yang paling gagah dan sehat yang dimiliki temanku. Makanya Jimmy tidak dijual namun dijadikan bibit untuk memproduksi domba yang berkualitas.

Ooh ternyata itu memang ‎anaknya. Bahkan meskipun kandangnya dipisahkan sejak lahir, sang domba jantan bisa mengenali bahwa itu adalah anaknya. Memang naluri seorang ayah berbeda ya, selalu menyayangi dan melindungi anaknya. Bahkan untuk seekor domba sekalipun.

Lalu bagaimana dengan ayah manusia yang tega berbuat jahat pada anaknya? Tidak jarang kubaca berita tentang ayah yang menelantarkan, menganiaya bahkan memperkosa anak kandungnya‎. 

Ah andai aku bisa berbicara pada domba. Mungkin aku akan menanyakan pendapatnya. (tdk)***

Leave a Reply