Cahaya Temaram

Terjatuh Saat Hamil 7 Bulan

Peristiwa ini terjadi saat usia kandunganku menginjak 7 bulan. Saya dan suami selesai bertemu dengan mertua di sebuah cafe di kawasan Cikini. Setelah magrib, kami berpamitan dan mertua langsung kembali ke rumahnya di Bogor. ‎

Seperti biasa, kawasan Jakarta Pusat begitu macet malam minggu itu. Terlebih lagi suami salah belok sehingga kendaraan kami‎ melewati jalan yang lebih macet dari biasanya. 

Nah di tengah perjalanan yang macetnya parah itu munculah rasa ingin buang air. Udah tau sendiri kan kalau kehamilan semakin besar, maka keinginan untuk pipis semakin sering. 

Sepanjang perjalanan aku menahan diri. Tak pelak begitu mobil sampai ke depan rumah aku langsung keluar dan berjalan duluan masuk rumah. Sementara suamiku memarkirkan mobil terlebih dahulu.

Setengah berlari aku masuk kamar mandi. Baru saja menginjakkan kaki, tiba-tiba srettttt…oh tidak kenapa lantainya begitu licin? Kakiku terpeleset. Aku mencoba untuk mencari pegangan, tapi tidak sempat. 

\’‎Sebentar lagi aku pasti jatuh. Aku yang sedang hamil tujuh bulan‎\’ begitu pikirku cepat.

Aku pun mencari cara untuk mengurangi dampak negatif jika terjatuh. Secara refleks aku memiringkan tubuhku, sehingga saat jatuh yang terkena lantai duluan adalah bagian pinggang. Untung aku punya nilai yang bagus di kelas atletik saat sekolah dulu, jadi bisa langsung pasang kuda-kuda itu (jadi narsis wahahaha). ‎

Ide spontan memiringkan badan mungkin terinspirasi dari cerita ibuku yang pernah jatuh dari becak saat hamil kakakku. Menurut ibuku, kandungannya masih aman karena jatuhnya miring dan terkena pinggang dulu. Berbeda jika bagian yang pertama jatuh adalah panggul belakang apalagi perut. Kemungkinan air ketuban pecah sangat tinggi dan bayi bisa lahir prematur.

Selain memiringkan badan, tanganku pun refleks melindungi perut. Dan benar saja dalam sekejap seluruh badanku pun terjerembab ke lantai. ‎Termasuk kepalaku yang menjadi benjol karena terbentur lantai kamar mandi. 

Di situlah aku merasa bagaimana seorang ibu lebih memilih memikirkan keselamatan anaknya daripada dirinya sendiri. Karena jika dalam keadaan normal, aku akan menempatkan tanganku untuk melindungi kepala saat terjatuh. Sebab kepala adalah bagian paling sensitif dari tubuh kita. Tapi tidak saat hamil, aku lebih memilih melindungi bagian perut.

Meskipun sudah mencoba mengurangi efek jatuh dengan berbagai cara. Tetap saja aku sangat shock waktu itu. Spontan aku panik, menangis dan berteriak histeris. Belum pernah aku sepanik itu dalam menghadapi suatu keadaan. Aku sangat khawatir terjadi sesuatu pada ‎janinku.

Aku coba berdiri, memeriksa celanaku untuk mengecek apakah ada flek darah atau cairan ketuban yang merembes. Ternyata tidak ada. Tapi tetap saja hal itu tidak mengurangi rasa panikku.‎ 

Suamiku yang baru masuk rumah langsung bertanya-tanya. Setelah kujelaskan, dia memintaku berbaring. Tapi aku tidak bisa. Aku masih khawatir. Aku meminta suamiku untuk menelepon dokter Nonny (dokter obgynku), tapi tidak diangkat. Aku coba menelepon dengan nomorku, akhirnya diangkat (mungkin karena dokter Nonny menyimpan nomorku).

Dengan suara serak (dan sangat terlihat panik)  aku bercerita pada dokter Nonny kalau aku habis jatuh. Dokter Nonny bertanya apakah ada flek atau cairan ketuban yang keluar? Dengan cepat aku bilang tidak. Dia kembali bertanya, apakah janinnya masih bergerak. Aku pun langsung terdiam dan tak lama kemudian akhirnya tersadar \’janinnya tidak bergerak dok!\’. Makin paniklah aku.

Aku akhirnya bertanya apakah perlu ke rumah sakit? Dokter Nonny mengatakan itu lebih baik. \’Datang saja ke UGD mbak, untuk memastikan\’ begitu katanya.

Di tengah perjalanan aku mencoba menenangkan diri dengan menarik napas panjang. Aku tidak mau suamiku yang sedang menyetir jadi ikut panik. Bisa tambah runyam nanti. Setelah beberapa menit menarik napas panjang dan menenangkan diri tiba-tiba \’tung tung tung\’, ada sesuatu yang bergerak dalam perutku. \’Janinnya menendang perutku!\’

Ya ampun, di situ aku baru menyadari betapa kuatnya hubungan antara ibu dan janin yang dikandungnya. Suamiku bilang mungkin tadi bayinya kaget karena aku begitu panik sehingga dia menjadi diam. Tapi begitu aku tenang kembali, dia pun kembali menunjukkan tanda kehidupannya. Aku pun sedikit lega. Tapi untuk lebih memastikan kondisi janin, kami memilih tetap ke rumah sakit. Lagipula sudah setengah jalan.

Sampai di UGD aku ditangani dokter umum dan bidan. Mereka memeriksa bagian luar dan semuanya baik-baik saja.‎ Tapi aku meminta untuk diberikan obat pusing yang aman untuk ibu hamil. Mungkin karena terbentur lantai kamar mandi sampai benjol, maka kepalaku jadi terasa sangat pusing.


Bidan pun menelepon dokter Nonny dari rumah sakit. Dokter meminta aku diperiksa CTG untuk memastikan apakah ada kontraksi atau tidak. Setelah setengah jam di scan CTG, Alhamdulillah hasilnya baik dan gerak janin pun masih sangat aktif seperti biasanya.‎ Dokter pun mengijinkan kami untuk pulang.


Ah ternyata jalan yang harus aku lalui untuk memiliki momongan benar-benar berliku yah. Setelah menunggu empat tahun untuk hamil, pendarahan di awal kehamilan,‎ masuk rumah sakit saat hamil empat bulan, sekarang mengalami jatuh saat tujuh bulan. Aku sangat bersyukur Allah masih melindungi bayiku. Sejak saat itu, aku menjadi lebih berhati-hati lagi dalam menjaganya. Tidak terbayangkan kalau aku kehilangan dia saat hamil besar. Makasih ya Allah telah memberikan aku kehamilan yang kuat ditempa segala cobaan.

Oia, aku memutuskan untuk‎ meneruskan ceritaku pasca hamil setelah divonis PCOS. Soalnya banyak yang bertanya bagaimana kandunganku selanjutnya? Apakah aku berhasil melahirkan bayi sehat? Aku ceritakan jawaban selanjutnya di tulisan berikutnya ya. Ciao. (tdk)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *