Cahaya Temaram

Pindah Dokter Pada H-4 Melahirkan

Bu, ternyata akar giginya masih bagus, saya masukkan lagi saja ya”

Begitu kata dokter gigi setelah mencabut gigi depanku pasca kecelakaan motor. Jadi ceritanya aku pernah mengalami kecelakaan motor sekitar sembilan tahun lalu saat masih bekerja di Bandung. Kecelakaan yang mengakibatkan empat gigi depanku rontok terbentur aspal jalan (ough..jadi jangan protes kalau sekarang saya mengendarai motor hanya dengan kecepatan 40 km/jam ya, trauma abis hahaha).

Kecelakaan tersebut mengakibatkan susunan gigi saya hancur dan harus dioperasi kecil. Waktu itu saya yang masih polos dan unyu-unyu ya pasrah-pasrah saja nurut sama dokter. Setelah dibius lokal, dokter mengat‎akan dua gigi saya harus dicabut karena akarnya telah rusak. Sementara dua gigi lainnya tidak perlu dicabut meskipun patah, tinggal disambung saja karena akarnya masih bagus.

Yang namanya udah dibius, ya aku ngangguk ngangguk saja mendengarkan penjelasan dokter. Ya kali aku bisa debat, ngomong aja udah susah.  Tapi ternyata…jreng jreng…dokternya salah‎ baca rontgen dong. Ternyata satu dari dua gigi tersebut akarnya masih bagus (banget). Dan dokternya menganggap dia bisa memulihkan gigi tersebut dengan memasukkannya lagi ke tempatnya.

Kzl. Ya iyalah, gigi tuh sesuatu yang sangat berharga dan keberadaannya tidak bisa digantikan dengan gigi palsu paling keren sekalipun. ‎Sebab meskipun sekarang sudah pakai gigi palsu, tetap aja gak secanggih aslinya. Buktinya ampe sekarang aku gak bisa makan permen karet karena bikin gigi palsu aku jadi copot huhuhu. 

Dan seperti bisa diduga, tu gigi yang salah diagnosis bukannya menyatu kembali malah akarnya membusuk. Akhirnya ya dicopot juga karena emang sudah benar-benar terpisah. Padahal kalau gak dicabut akarnya dan hanya disambung, si gigi masih bisa berfungsi seperti semula.‎ Emang sih aku pernah denger ada gigi yang copot bisa nyambung lagi akarnya. Tapi itu kalau jago banget ya dokternya. Sementara ini baca ‎diagnosis aja salah, huuh.

Menurut aku dokter gigi tersebut seharusnya memberikan penjelasan diagnosanya dan meminta persetujuan aku sebelum operasi. Lah ini baru meminta persetujuan tindakan pas operasi dan sudah dibius lagi. Sementara aku kondisinya waktu itu kurang ngerti prosedur rumah sakit tuh kaya apa sih. ‎Ditambah lagi ngerasain sakit karena luka kecelakaan, jadi gak nyadar kalau ada yang aneh saat itu.

Tapi setelah menyadari pun aku malas mempermasalahkannya, toh sudah terjadi. Aku lebih fokus cari dokter lain yang bisa memperbaiki keadaan aku (dan si dokter pengganti pun geleng-geleng kepala melihat hasil operasi aku yang berantakan).

Pengalaman buruk ke dua saat aku didiagnosis sakit typhus oleh dokter di rumah sakit terkemuka di Depok. Aku mendatangi dokter karena merasakan sakit leher dan sakit kepala berhari-hari. Dokter meminta aku cek darah dan menyimpukan aku gejala typhus. Seminggu sakit dan minum obat ko gak sembuh-sembuh ya‎. Aku pun pulang ke Bandung dan datang ke rumah sakit yang ada di sana. 

Begitu melihat hasil lab dari rumah sakit di Depok, dokter kedua ini langsung geleng-geleng kepala. “Ibu berobat dimana? Dari hasil lab ini saja saya sudah bisa bilang kalau ibu gak typhus,”kata dia.

Setelah diperiksa oleh dokter kedua, dia mengatakan ada otot leher yang tegang karena sering membawa tas besar dan berat. Karena otot yang bermasalah itu, aliran darah ke kepala terhambat sehingga menyebabkan pusing. Apeu? Jauh amat diagnosanya…trus apa kabarnya antibiotik yang aku minum seminggu kemarin? Setelah diberi obat yang meredakan ketegangan otot, dua hari kemudian aku langsung segar bugar!

Sejak saat itu aku menjadi sangat kritis bila berobat ke dokter. Aku tidak skeptis ya, tapi aku bakalan jadi pasien yang baweeeeel banget menanyakan ini itu. Aku tidak mau diberi tindakan atau obat sebelum semuanya jelas‎. Menurut peraturan, ternyata itu merupakan hak pasien juga loh dan termasuk dalam kewajiban tenaga kesehatan untuk memberikan penjelasan yang lengkap.

Prinsip itu semakin kuat setelah menjalankan program hamil ke beberapa dokter sebelumnya. Berdasarkan pengalaman tersebut,menurutku seorang obgyn yang rekomended adalah yang memiliki skill berkomunikasi yang baik. ‎Sebab masalah kandungan dan kehamilan sangat sensitif.

Jadi saat aku hamil, memilih dokter obgyn merupakan PR yang cukup besar. Terlebih kami baru pindah ke Jakarta setahun sebelumnya. Kami masih belum mengenal dengan baik dokter mana sih yang bisa diandalkan.‎ Hal yang terpikirkan pertama adalah aku berharap dokter yang menanganiku tidak hanya memiliki skill di bidang kedokteran, namun juga bisa berkomunikasi dan memiliki karakter yang baik. 

Pada awalnya aku memilih dokter secara random karena tujuannya hanya mengecek apakah aku beneran hamil atau tidak. Aku datang ke rumah sakit dan mendatangi dokter yang kebetulan praktek saat itu. Kebetulan dokter yang praktek adalah dokter Nonny Nurul.

Ternyata aku sangat cocok dengan dokter Nonny. Orangnya ngemong banget, sabar dan mau mendengarkan. Saat pertemuan kedua, dia memberikanku nomor telepon. Aku bisa menghubungi via WA jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan. ‎Dan yang paling penting, dokter Nonny sangat welcome saat aku bertanya segala sesuatunya dengan detail.

Selama delapan bulan aku‎ cek kehamilan di dokter Nonny. Namun pada akhirnya aku dan suami memutuskan untuk melahirkan di Bandung. Alasannya karena waktu itu rumah kami di Jakarta (coret) masih belum serah terima dari pengembang. Kasihan kan kalau bayinya harus tinggal di kosan saat baru lahir. Selain itu, hari perkiraan lahir (HPL) pun sekitar lebaran, jadi sekalian saja mudik ke Bandung. Kehadiran ibu aku di Bandung juga diharapkan bisa membuatku nyaman karena dia kan sudah berpengalaman melahirkan.

Keputusan itu sebenarnya membuatku dilema juga. Karena aku sudah sangat mempercayai dokter Nonny dan akan lebih nyaman rasanya jika dibantu melahirkan olehnya. Tapi karena pertimbangan yang lebih besar akhirnya aku pamit ke dokter Nonny. Sedih banget dan sangat tidak enak ngomongnya. Tapi dia sangat memaklumi. Dokter Nonny bahkan bilang, waktu dulu melahirkan pun dirinya pulang kampung karena merasa lebih nyaman berada dekat ibunya. Dia menyuruh suster untuk mengcopy semua berkas lab dan riwayat pemeriksaan kehamilan aku sebagai bekal untuk ke dokter selanjutnya. Saking sedihnya aku sampai memeluk erat dia dulu saat akan berpisah hahaha. Aku merasa sangat berterima kasih padanya. Dokter nonny berpesan untuk mengabarinya kalau bayinya sudah lahir.

Jauh hari sebelum pindah dokter, aku sudah mulai mencari informasi mengenai keberadaan ongyn di Bandung. Aku memutuskan untuk mencari obgyn yang ada di rumah sakit terkemuka di dekat rumahku. Alasannya simple, supaya tidak harus menempuh jarak yang jauh saat harus periksa. Aku meminta rekomendasi pada teman-teman dan melakukan browsing di forum ibu-ibu untuk mencari dokter yang tepat. 

Hal pertama yang aku tanyakan saat mencari obgyn adalah : apakah dokternya cukup sabar dan baik? Ternyata kesabaran jadi urutan pertama dalam memilih obgyn, dibandingkan dengan skill itu sendiri heu heu. Meskipun skill kedokteran itu juga sangat penting lah. Tapi‎ buat ibu hamil yang perasaanya lagi sensitif abis, akan menimbulkan ketidaknyamanan jika dokternya jutek misalnya. Hal itu juga aku khawatirkan akan berpengaruh sama mentalku. Sementara aku kan maunya gentle birth ya, jadi gak trauma saat melahirkan nanti.

Akhirnya aku memilih salah satu dokter obgyn perempuan di rumah sakit dekat rumah tersebut. Sebenarnya aku tidak memasang ekspektasi terlalu tinggi terhadap dokter yang baru. Aku coba santai dan doktrin diri sendiri kalau tidak semua dokter seperti dokter Nonny, tapi semua akan baik-baik saja.

Pengalaman pertama saat datang ke dokter baru, hmm biasa saja sih meskipun aku sudah merasa lebih enak dokter Nonny. Aku merasa ko‎ gak bisa berkonsultasi senyaman dulu ya. Gak tau ya, kurang puas aja sama penjelasannya. Trus dokternya beberapa kali melempar candaan yang ‎kayaknya gak sreg di hati gitu. Mungkin maksud dia biar rileks yah, tapi jadi aneh -_-

Tapi aku berusaha menghibur diri‎ “Jangan cengeng tia, yang penting tetap di prosedur yang benar dan dokternya gak aneh-aneh”. Saat aku menanyakan pada suami pun pendapatnya adalah “yah lumayan” (yang kalau diterjemahkan artinya : ya mendingan dokter Nonny sih, tapi gak buruk-buruk amat –> yang namanya bahasa co mah kudu diterjemahkan, iya gak ibu-ibu? Hahaha).

‎Aku pertama datang ke dokter tersebut setelah tujuh bulan hamil. Namun cek yang benar-benar intensif saat usia kehamilan delapan bulan. Aku juga sudah mengikuti senam hamil dan kelas prenatal di rumah sakit tersebut. 

Semakin mendekati kehamilan, makin deg-degan dong. Aku semakin rajin buat jalan kaki pagi dan sore supaya bisa lancar dan cepat melahirkan. Begitu juga senam hamil aku lakukan dua minggu sekali. Tapi mendekati HPL, ko aku gak ada tanda-tanda mau melahirkan ya. Sementara teman aku, usia kehamilan 36 minggu aja udah brojol. Lah aku udah mau 40 minggu masih adem ayem.

Sampai akhirnya saat usia kehamilan jelang 39 minggu, dokternya mengatakan “ibu ini kan HPL nya tanggal 5 Juli, kita tanggal 4 Juli langsung induksi saja ya, jadi kan lebaran nanti udah ada bayinya”

Hah? Eh tunggu tunggu, ko ‎alasannya karena lebaran? Lagian HPL aku kan 5 Juli, ko tanggal 4 dan belum HPL udah diinduksi? ‎Sementara dulu ibu aku saat melahirkan kakakku, usia kehamilannya 42 minggu dan baik-baik saja gitu. Jadi kenapa gak nunggu dulu sampai batas waktu tersebut ya untuk diinduksi. Karena harapan aku kan bisa melahirkan normal yah. Setahu aku kalau diinduksi kemudian gagal ya akhirnya harus caesar.

Tapi saking kagetnya (ditambah ibu aku yang nganter mendominasi pembicaraan di konsultasi saat itu —> ini salah satu kerugian dianter emak hahaha)‎, jadinya aku ya cuman bengong aja tanpa sempat bertanya lebih lanjut. Lagian ya dokter itu tuh kalau menjelaskan seringkali tidak saat aku duduk di meja  meja melainkan sudah berbaring di tempat tidur periksa. Jadi dia memberikan penjelasannya ke ibu aku. Lah piye? Yang hamil kan aku.

Saat pulang, aku terus kepikiran sama omongan dokter tersebut. Aku coba positif thinking, mungkin ada alasan lain dengan latar belakang medis dari rencana tindakan dokter tersebut. Tapi ko dia ngomong ke akunya karena lebaran yah? Kenapa sih gak menjelaskan dengan alasan medis yang logis? Buat aku itu tuh nggak banget deh. Aku paham sih dokter juga manusia yang ingin kumpul keluarga saat lebaran. Tapi kalau dari sisi aku yang pasien, kan aku pengen opsi yang terbaik yah. Apalagi ini kehamilan pertama aku. Untuk bisa hamil pun harus menungg‎u sampai empat tahun lamanya. Jadi gak sreg aja kalau alasan aku mengikuti tindakan induksi karena supaya dokternya bisa bebas saat lebaran. 

Kalau dugaan aku sih sepertinya dokter tersebut jarang menerima pasien yang suka bertanya secara kritis deh. Beda aja penjelasannya, kurang logis gitu. Emang pas aku senam hamil dan liat daftarnya ternyata yang periksa di situ kebanyakan ibu-ibu mudah kelahiran 90-an dong. Sementara aku…errr. Jadi kebayang deh pasiennya masih polos unyu-unyu gitu dan gak kebanyakan bawel.

Nah di saat galau seperti itu, emak aku malah udah heboh bikin rencana ini itu seolah-olah rencana aku induksi tanggal 4 adalah harga mati. Padahal kan bisa aja yah brojol sebelumnya. Iiih mulai deh kebiasaan, suka riweuh sampe gak sensitif sama perasaan anaknya sendiri. Akhirnya aku ngomong sama ibu aku.

“Bun, menurutku aneh deh masa alasan aku induksi karena lebaran. Pan belum juga 40 minggu pas. Lah si aa juga dulu lahirannya pas 10 bulan kan? Aku mau cari opsi ke dokter lain aja. Bunda juga gak usah pipilueun (ikut-ikutan) deh heboh gara-gara pengen lebaran” kata aku panjang lebar.

“Enggak, aku mah gak pipilueun” kata ibu aku sambil manyun.

“Lah itu heboh” ujarku.

“Ya aku sih terserah kamu aja” lalu dia pun pundung. Errr baperrrrrrr.

Akhirnya aku mulai mencari lagi dokter obgyn yang bisa aku jadikan opini kedua. Pencarian membuahkan hasil saat menengok teman SMA ku, Ervin, yang baru saja melahirkan. Temanku merekomendasikan dokter Elise Johana Knoch yang membantunya saat melahirkan.

Sebenarnya sejak hamil delapan bulan, Ervin sudah mengajak aku untuk melahirkan di rumah sakit dan dokter yang sama. Biar barengan, gitu katanya hahaha ada-ada saja si Ervin mah. Tapi aku menolak karena sudah mulai kontrol ke dokter sebelumnya. Aku bertekad untuk gak pindah dokter selama ‎tidak darurat.

Meskipun demikian, saat itu aku belum berniat untuk langsung pindah ke dokter Elise. Aku ingin melakukan konsultasi sekali lagi dengan dokter aku yang sebelumnya. Namun aku akan mencoba untuk berkomunikasi dengannya sejelas mungkin. Jujur pindah dokter menjelang melahirkan bukanlah pilihan yang menyenangkan karena belum tentu dokter selanjutnya juga cocok. Dokter baru juga tidak memiliki catatan kehamilan aku sebelumnya. Tapi jika memang sudah mentok, terpaksa aku mencari opini kedua ke dokter Elise.

Hari Jumat tanggal 1 Juli, aku kembali ke dokter tersebut. Seperti biasa dia langsung berbicara pada orang yang mengantar (suamiku) bukan aku karena sedang berbaring. Jadi secara otomatis aku tidak mendengar dengan jelas pembicaraannya. Tapi aku coba sabar dan saat dia menghampiriku, aku bertanya saja lagi.

“Jadi gimana dok?”

“Ya ini belum ada pembukaan, jadi nanti Senin (tanggal 4) ibu datang saja ya ke UGD, nanti langsung induksi” ujarnya dengan cepat tanpa memberikan keterangan kenapa harus diinduksi.

Selesai proses pemeriksaan aku bertanya lagi. “Memangnya tidak ‎ bisa ditunggu dulu dok sampai selesai 41 minggu?”

Ditanya seperti itu, raut wajah sang dokter tiba-tiba berubah. “Kalau gitu ibu harus rajin hitung gerakan bayi. Jangan sampai bayinya keracunan kotorannya terus gak ada (read : meninggal dalam kandungan) loh bu. Memang pas jaman saya kuliah sih 42 minggu batas waktunya, tapi jaman sekarang 40 minggu udah harus dikeluarin”ujarnya.

Aku pun terkejut mendengar obrolan, ekspresi dan nada bicaranya. Bukannya membuatku yakin, si dokter malah terkesan menakut-nakutiku. 

Dalam hati aku bertanya “yakin lo mau melahirkan sama dokter ini?” Kebayang pas proses melahirkan yang katanya sakitnya ajib itu, aku masih harus menahan perasaan (hayah bahasanya) sama tenaga medisnya. Apalagi yah kalau dipikir-pikir, biaya melahirkan di rumah sakit tersebut berlipat-lipat dibandingkan di tempat lain. Jadi ada uang seharusnya ada pelayanan dong. Lah ini udah mahal, gak nyaman lagi hiks.

Tapi aku coba tetap tenang dan mencari tahu apa saja yang harus aku persiapkan jika memang harus induksi hari Senin.‎ Aku berpikir masih ada kemungkinan aku melahirkan dengan dokter tersebut. Jadi ya sudah aku bersikap seolah-olah memang akan melahirkan di situ dulu saja.

Besoknya aku langsung mantap mencari opini kedua ke dokter Elise. Untungnya aku daftar sehari sebelumnya karena pada hari Sabtu itu dokter Elise hanya menerima 15 pasien. ‎Aku ceritakan dengan jujur duduk permasalahannya bahwa aku sedang mencari opini kedua (tapi aku gak cerita kalau dokter sebelumnya beralasan induksi karena lebaran hehehe).

Kalau dipikir dengan jernih, pendapat dokter Elise sebenarnya sama dengan dokter aku yang sebelumnya. Tapi ada hal yang berbeda‎ dari kedua dokter tersebut. Begini ceritanya :

Aku sudah masuk ruangan dan disetting oleh asisten dokter sehingga siap diperiksa ditempat tidur. Tak lama kemudian dokter pun datang :

dokter Elise (DE) : Haloooo (dengan nada ceria – dia pun langsung cuci tangan dan bersiap USG)

Aku (A) : ya dok‎ (aku mikir ni dokter langsung USG aja tanpa nanya-nanya dulu)

DE : (periksa USG dan menunjukkan kondisi organ janin di monitor) bagus ya janinnya, wow pemuda harapan bangsa (maksudnya janinnya laki-laki)

A : (nyengir) jadi gini dok‎ bla bla bla (aku ceritain semuanya)

DE : ya memang bu, kalau saya lihat di sini janinnya sudah sempurna  yah dan siap dilahirkan. ‎Saat janin sudah matang itulah biasanya dia sudah bisa buang air besar. Dikhawatirkan kotorannya akan memcemari ketuban dan akhirnya meracuni bayi. Oleh karena itulah dokter sekarang lebih merekomendasikan induksi saja jika sudah menginjak 40 minggu. Ibu disini HPL nya sebenarnya tanggal 4 bukan tanggal 5. Tapi kalau saya, lebih suka untuk melewati HPL dulu sehari, baru induksi.

Pemeriksaan selesai, aku dan dokter duduk di meja. Di sana juga sudah ada suami aku.

A : oh kirain bisa sampai 42 minggu dok

DE : (senyum mesem-mungkin dia mikir ni pasien bawel amet hehehe) Jadi gini (menggambar lingkaran di notes) dunia kedokteran memang tidak bisa sebulat ini bu. Beda pasien, bisa beda hasilnya meskipun kasusnya sama. ‎Memang ada banyak kasus dimana kelahiran bisa sampai 42 minggu dan baik-baik saja. Tapi di sini ada resiko bayi keracunan. Jadi saya sih, kalau bayinya sudah siap ya kenapa tidak dikeluarkan saja. Nah makin pusing gak bu? 

A : I see, intinya ada dua opsi, tapi dokter tetap rekomendasikan induksi ya dok?

DE : ya seperti itu…

A : (diam manggut manggut‎-yah sama juga sih ya keputusannya. Tapi ini tuh penjelasannya lebih runut aja. Jadi aku lebih yakin dan paham sama penjelasan dokternya)

 —-lalu hening sejenak

DE : ‎ jadi gimana, mau melahirkan sama siapa? (dokter ngomong dengan nada bercanda)

A : (nyengir) hmmm…

DE : ya udah gini saja, saya kasih surat buat UGD . Jika ibu ingin melahirkan di sini, bisa daftar dulu sama suster di UGD, terus ibu bisa visit tour buat liat kamar dan nentuin kelasnya.

A : oh iya dok gitu aja

DE : (senyum)

A : dok punten saya mau nanya lagi. Kalau dokter itu mamanya Y*** atau tantenya ya?

DE : (nyengir, kayanya beliau kaget ditanya gitu hahaha) saya tantenya.

Oke pertanyaan terakhir emang gak penting sih hahahaha. Cuman saya dan ervin penasaran aja, karena nama belakang dokter Elise ini ‎sama dengan teman SMA kami yang turunan bule Jerman. Jadinya nanya deh, dan bener kan sodaraan hihihi. Meskipun aku gak tau, dia pakai Knoch itu dari namanya sendiri atau suaminya.

Kembali ke topik, aku dan suami‎ akhirnya memutuskan buat daftar dulu aja. Jaga-jaga kalau harus melahirkan di sini. Kami juga melakukan tur ke kamar perawatan. Hasilnya ko kamarnya lebih bagus ya, padahal tarif melahirkan normal di sini lebih murah. Sekitar 2/3 dari tarif melahirkan di rumah sakit sebelumnya. Tapi untuk tarif caesar sama sih.

Setelah pulang, aku pun jadi dilema kembali. Jadi melahirkan dimana? Toh rekoemndasinya sama, tetap diinduksi juga. Aku merasa tidak enak pindah rumah sakit karena kan sudah senam hamil dan periksa di rumah sakit sebelumnya. Tapi yah jujur hati aku ko lebih nyaman sama Dokter Elise ya, lebih ada rasa percaya gitu. Memang keputusan tindakan mereka sama, tapi cara komunikasinya itu loh membuat aku nyaman dan mantap untuk akhirnya melakukan induksi. Keraguan pun jadi hilang dan akhirnya mencoba pasrah untuk melakukan apa yang menurut dokter paling baik. Dokter Elise‎ juga tipe orang yang hangat dan keibuan, mungkin karena sudah senior ya.‎ Akhirnya setelah mendapatkan dukungan dari suami, aku pun memutuskan untuk bali lagi ke rumah sakit tersebut tanggl 5 Juli dan menjalani proses melahirkan dibantu oleh dokter Elise.

Dear dokter, bidan, dan suster yang baik, tolong lebih positif thinking yah kalau ada pasien yang kritis semacam aku. ‎Mereka gak bermaksud menyepelekan diagnosamu ko. Mereka cuman masyarakat awam yang gak tau apa-apa. Itulah sebabnya mereka ingin tau lebih banyak tentang diagnosa dan tindakan yang akan diambil. Dengan mengetahuinya, pasien setidaknya bisa menyiapkan mental dan lebih yakin dalam menjalani prosedur medis. Bukankah ada cerita yang bilang kalau kesembuhan pasien tidak hanya terletak pada keahlian tenaga medis, namun juga faktor sugesti? Semoga semakin banyak tenaga medis yang dengan senang hati memberikan penjelasan ya. Aamiin. (tdk)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *