Cahaya Temaram

Paket Lebaran Dari Surga

Seperti sebagian besar ibu hamil lainnya, sejak awal aku berharap bisa melahirkan secara normal. Selain lebih alami, melahirkan normal juga bisa cepat pulih, resiko lebih rendah, meminimalkan alergi bayi dan tidak bisa dipungkiri biayanya jauh lebih murah.

Segala cara aku lakukan supaya bisa melahirkan normal. Sejak usia kandungan 24 minggu aku sudah mulai yoga hamil. Aku juga ikut senam hamil dan rajin jalan kaki menanjak setiap pagi. Cara-cara itu dipercaya bisa membantu agar bisa cepat melahirkan dan prosesnya lancar.

Namun hingga 40 minggu dan hari perkiraan lahir (HPL) sudah lewat, tanda melahirkan belum juga muncul. Setelah konsultasi ke dua dokter, mereka sama-sama merekomendasikan induksi. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti prosedur tersebut.

Banyak yang bilang untuk menunggu dulu saja sampai 41 minggu karena proses induksi katanya lebih sakit dibandingkan persalinan spontan. Tapi aku pasrah saja karena khawatir bayinya keracunan seperti yang dikatakan dokter. Aku pikir toh belum pernah melahirkan, jadi mana aku tahu kalau induksi lebih sakit. Anggap saja sakitnya melahirkan ya memang seperti itu.

Antrian di “Pejagalan”

Akhirnya sehari setelah HPL, aku dan suami datang ke rumah sakit dengan membawa tas berisi baju dan kebutuhan menginap lainnya. Kebetulan waktu itu sehari sebelum lebaran, jadi kami datang sangat pagi untuk menghindari macet. Setelah memberikan surat dokter ke petugas UGD, aku pun mengalami pemeriksaan CTG terlebih dahulu untuk mengetahui gerakan janin dan level kontraksi. Hasilnya gerakan janin bagus namun kontraksi masih minim. Selain itu belum ada pembukaan sama sekali.

Perawat lalu menjelaskan bagaimana proses induksi dan resiko-resikonya. Diantaranya adalah pecah rahim kalau kontraksinya terlalu kuat. “Eww terus gimana dong suster?” aku langsung kaget gitu. Perawat bilang, itu bisa dicegah dengan pemantauan intensif sama bidan-bidan yang siaga di ruang bersalin. Selain itu, dijelaskan juga kalau induksi gagal, itu berarti aku harus setuju untuk langsung proses caesar. Karena kalau enggak, bisa berbahaya juga buat ibu dan bayi.

Meskipun sempat serem, tapi aku senang deh sama prosedur rumah sakit yang menjelaskan proses tindakan dan resiko-resikonya secara detail. Perawat yang bertugas juga menjawab dengan baik setiap pertanyaan dariku. Oh iya perawat-perawat yang ada di ruangaan bersalin sebenarnya adalah bidan, jadi memiliki ilmu tentang persalinan.

Selain formulir persetujuan, aku juga diminta memilih dokter spesialis anak yang akan memeriksa bayi jika sudah lahir nanti. Aku pun langsung memilih dokter Tjoa Siaw Ling sesuai dengan rekomendasi temanku yang seminggu sebelumnya melahirkan di tempat yang sama. Katanya dokter Ling sangat baik dan ramah.

Pemeriksaan dan proses administrasi tersebut ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama. Setelah dzuhur, aku baru dipindahkan ke ruang bersalin. Ruangan tersebut terdiri dari tempat tidur melahirkan, boks bayi, sofa (untuk penunggu), meja obat-obatan, lampu sorot, juga kamar mandi. Ternyata aku tidak langsung diberi tindakan induksi, melainkan infus pematangan rahim terlebih dahulu. Menurut bidan, ini semacam rangsangan agar mulut rahim lebih lunak dan siap untuk melahirkan. Jika langsung induksi namun rahimnya belum matang, dikhawatirkan tidak akan mempan karena jalan lahirku sama sekali belum ada pembukaan. Infus pematangan rahim ini diberikan dua labu. Satu labu membutuhkan delapan jam. 

Oalah kalau gini sih berarti kemungkinan aku melahirkannya besoknya pas hari lebaran dong. Soalnya pertama kali dipasang infus pukul 14.00. Padahal aku sempet mikir bakalan melahirkan sore itu juga heu heu. 

Berbeda dengan ibu hamil yang datang ke rumah sakit setelah ada tanda melahirkan, aku menghabiskan lebih banyak waktu di ruangan bersalin. Biasanya ibu yang sudah ada tanda melahirkan, hanya “mampir” ke ruangan bersalin selama beberapa jam. Setelah proses melahirkan selesai, mereka langsung dibawa ke ruangan perawatan. Sementara aku menghabiskan waktu lebih dari 24 jam di ruangan tersebut. Itu membuat tingkat kecemasan aku bertambah dua kali lipat karena jadi mendengar proses kelahiran ibu-ibu lain selama masa menunggu. 

Memang setiap ibu ditempatkan di ruangan bersalin yang terpisah. Tapi yang namanya melahirkan normal, selancar-lancarnya juga mana ada yang hening. Pasti ada aja suara terdengar dari yang heboh sampai yang sangaaaaaaaaaat heboh. Setidaknya ada empat proses persalinan yang terpaksa aku dengarkan saat pra induksi. 

Persalinan pertama yaitu sore jelang buka puasa. Gak tau kenapa aku malah senyum-senyum sendiri dengernya. Soalnya dokternya gokil banget! Dokternya laki-laki dan sangat bersemangat. Dari pas datang aja dia dah nyapa perawat-perawat dengan ramah dan bersemangat. Yang bikin gokil adalah nada bicara si dokter saat membimbing ibu melahirkan, hebooooh banget hahaha. Saking hebohnya, suara dokter lebih kedengeran dari si ibu yang lagi ngeden. Suara dokternya juga empuk dan bersemangat bak komentator bola. “Iya bu, ayo, sebentar lagi, yak terus.. terus..terus,” kata si dokter. Tak lama kemudian, terdengarlah suara tangisan bayi. “Selamat ya bu, sudah jadi ibu” kata si dokter. 

Sumpah aku jadi penasaran siapa sih dokternya. Kayaknya menyenangkan banget. Tapi iseng banget gak sih kalau nanya sama perawat heu heu.

Persalinan kedua, ini yang bikin lutut aku lemas. Gimana enggak, si ibu heboh banget teriak-teriak berjam-jam dari pukul 4 pagi sampai akhirnya melahirkan jam 7.30. Padahal kamarnya jauhan gitu sama kamar aku. Tapi teriakannya membahana banget. “Aaaargh…sakit..gak kuat….suster…sakit…Arggh…” begitu teriakannya.

Terus aja seperti itu non stop sampai melahirkan. Dengerin orang melahirkan teriak teriak saat diri sendiri akan melahirkan tuh bener-bener bikin perut mulas. Mana suami lagi shalat Idul Fitri di lapangan deket rumah sakit lagi, jadi aku sendirian di kamar. Tapi daripada penasaran, akhirnya aku nanya sama perawat yang kebetulan lagi periksa tensi aku.

 “Suster, kenapa ibunya? Diinduksi ya?” ujarku curiga.

Perawat sempat diam, seperti ragu gitu menjawabnya heu heu. Tapi akhirnya dia jawab juga kalau ibu itu memang diinduksi tapi ketika bukaannya sudah besar.

Glek..jadi nanti aku bakalan kaya gitu yah. Tiba-tiba saja aku mengerti perasaan sapi yang sedang mengantri di rumah jagal.

Persalinan ketiga yang aku dengar yaitu tepat di sebelah kamar aku. Tapi persalinannya lancar banget. Aku cuman dengar si ibu pas ngeden bentar terus tiba-tiba ada suara bayi aja. Waah mungkin si ibu udah jago ya karena bukan anak pertama.

Sementara persalinan keempat gak benar-benar aku dengar karena ruangannya berada di ujung. Aku cuman dengar cerita dari suster kalau ada yang melahirkan bayi prematur dan berat badan bayinya sangat kecil sehingga harus masuk NICU.

Banyaknya orang yang masuk setelah aku tapi udah keluar duluan itu agak bikin drop juga. Lah aku kapan yak? Lama amat.

Dua labu habis ditransfer melalui pembuluh darah. Suster mengecek pembukaan, masih bukaan tiga aja setelah 16 jam diinfus. Mulai ada feeling kalau kehamilaan aku tuh emang kebo banget. Kebukti pas hamil gak rasain mual. Terus si janin aman aja meskipun sempat jatuh saat 7 bulan, kontraksi hebat karena kecapean pas 4 bulan, dan juga dibawa lari 5 km saat hamil 1 bulan (waktu itu aku gak tau kalau lagi hamil).

Tapi kata bidan, fungsinya pematangan rahim memang bukan untuk bukaan sih, jadi jangan terlalu khawatir kalau belum terlalu banyak progress. Mengenai cek bukaan lahir sendiri bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dilewati karena ngilu banget. Tapi aku secara berkala harus menjalaninya beberapa kali. 

Untungnya perawat-perawat yang bertugas di sini sebagian besar sangat menenangkan. Setiap melakukan tindakan yang kira-kira bakalan bikin sakit atau gak menyenangkan, suster selalu memberikan empati melalui perkataan-perkataan. Jadi aku jalaninnya gak terlalu ngenes hehehe. Mereka juga seperti tahu caranya meredakan kecemasan aku dengan obrolan dan candaan. Mungkin karena sudah pada senior juga ya  jadi lebih ngemong.

Menjalani lebaran di rumah sakit benar-benar tidak terasa auranya. Sama sekali tidak terdengar suara takbiran. Keluarga juga hanya menengok sebentar lalu pulang lagi. Aku lebih banyak menjalani waktu di rumah sakit berdua saja sama suami. Saat malam takbiran, aku langsung disuruh istirahat sama perawat agar memiliki tenaga saat melahirkan nanti. Pagi harinya, suami yang baru pulang dari shalat Idul Fitri hanya membawakan siomay sebagai pengganti ketupat dan opor hahaha. 

Induksi

Karena aku baru mencapai bukaan tiga dan belum terasa mules yang kuat, dokter menginstruksikan bidan buat mulai melakukan induksi. Tapi tidak langsung induksi obat, melainkan balon. Jadi induksi ini memasukkan alat semacam karet (seperti balon) dalam vagina yang kemudian diisi air sehingga mengembang di dalam. Rasanya? Biasa aja kok, kaya dikelikitik gitu deeeeh hohoho. 

Tapi itu bohong pemirsa, karena rasanya syakiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit banget. Pengen teriak, namun coba tenang dengan atur napas. Tapi ahirnya ngejerit juga sambil istigfar. Suster pun coba menenangkan dengan bilang sabar ya bu, memang sakit banget. Pasien sebelumnya mah sampe nangis-nangis. 

Iya sih pengen nangis, tapi inget pas kelas prenatal kata bidannya sebisa mungkin gak nangis atau teriak-teriak soalnya kaya buang-buang tenaga gitu. Mending tenaganya simpen buat ngeden nanti biar lancar.

Saat dicek, ternyata bukaan langsung meningkat dari tiga jadi lima. Ooh pantes sakit, langsung nambah dua gitu bukaannya.

Setelah induksi balon selesai, suami yang tadinya ngumpet di balik tirai (wkwkwkkwk) langsung nyamperin gitu. Dengan mata berkaca-kaca, dia langsung meluk trus bilang “I love you”. Katanya dia ngeper liat alatnya panjaaang banget hahaha.

Tapi peluk-pelukannya cuman bentar, karena tiba-tiba aku merasakan kontraksi yang tak tertahankan. Aku sampai gak bisa ngomong dan cuman meremas lengan suami. 

Meskipun sakit, dalam hati aku bersyukur karena berpikir tanda-tanda melahirkan sudah muncul. Jujur menunggu tandai-tanda melahirkan sejak sehari sebelumnya membuatku jenuh dan lelah. Apalagi sambil menunggu aku terus diperiksa bukaan. Pengen bilang “oke aku siap merasa sakit, lets do it!”

Tapi baru aja kontraksi hebat empat kali, loh ko ilang lagi? Perut kembali adem ayem. Suster yang datang mengecek pun langsung bisa menebak kalau induksinya gak mempan karena aku masih bisa senyum-senyum gitu. Ough dasar kebooooooooo!!!

Setelah istirahat selama sejam, akhirnya dokter menginstruksikan senjata pamungkas yaitu induksi obat yang disalurkan melalui infus. Dosis obat induksi diberikan secara bertahap sampai batas maksimal. 

Oke, siapkan mental. Jadi terngiang-ngiang lagi teriakan ibu yang diinduksi tadi subuh. Tapi ya sudahlah pasrah, yang penting lahirannya selamat.

Dosis induksi pun ditambahkan secara berkala. Tapi kok masih adem ayem aja yah aku. Udah mulai pendarahan sih sejak induksi balon. Tapi gak ada kontraksi yang berarti jitu. Aku pun masih gembul makan opor dan ketupat lebaran yang disediakan rumah sakit. Duuuh keboooo!

Hingga akhirnya perawat menyampaikan kabar kalau aku harus sudah mulai puasa. Karena apa? Karena induksinya ada kemungkinan gagal dan akhirnya aku harus caesar. Iiiih bete banget. Rasanya pengen ngacak ngacak kamar rumah sakit wkwkwkkw. Tau mau caesar mah, udah aja langsung dari kemarin. Gak usah giginian dulu.

Harap maklum yah kalau esmosi jiwa. Soalnya udah lelah banget dan stres nunggu tanda melahirkan dari hari sebelumnya. Udah dapat perlakuan macam-macam pula yang ngilu-ngilu. Selain itu, entah kenapa ada rasa ngedrop banget pas harus caesar. Semacam duuuh payah banget sih aku masa harus caesar. Tapi mau gimana lagi, induksi dosis tinggi pun sama sekali gak mempan di tubuh aku.

Saat itulah om dan tanteku datang menengok aku yang lagi manyun karena harus caesar. Mereka pun menghibur aku kalau caesar adalah sesuatu yang baik juga karena prioritasnya keselamatan ibu dan bayi. Lagian kata mereka aku masih beruntung loh belum mules-mules. Karena banyak kasus udah mules induksi eh ujungnya caesar juga karena bukaan gak nambah. Jadi sakit dua kali deh. Ada juga yang udah bukaan sepuluh harus caesar juga karena kepala bayi gak turun. Eww.

Tak lama kemudian, dokter spesialis obgyn Elise Johana Knoch pun menampakkan mukanya. Seperti biasa dia menyapa dengan ceria. Dokter pun menjelaskan kembali kalau aku harus caesar karena sudah melewati proses induksi dan gak mempan. Dia juga bertanya apakah aku sudah paham resiko caesar apa saja. Aku ngangguk saja (udah lemas hahaha). 

Akhirnya aku bertanya “Jadi kapan operasinya dok?”

“Sekarang”

Apeu? Eeeeeh ko cepet amat. Duh yakin nih ya mau operasi. Ko aku mendadak ngeper, deg-degan abis hahaha. Abisnya gak siap mental sih buat ada di meja operasi.

Tak lama kemudian perawat mulai menyiapkan aku buat operasi. Aku pun diminta mencopot gigi palsu. Katanya takut tidak sengaja tertelan. Akhirnya aku menitipkan gigi palsuku pada suami sambil mewanti-wanti berkali-kali supaya gak hilang. Karena aku gak mau kebahagiaan aku menjadi ibu ternodai dengan rasa ngenes harus kembali ompong untuk sementara waktu hahaha. Bikin gigi palsu kan gak bisa langsung jadi. Kalau ilang, ya terpaksa aku ompong dulu.

Saat persiapan itulah, aku bertanya pada bidan

“Tapi suami boleh nemenin kan suster?”

“Bapak kuat gak liat operasi?”tanya perawat sama suami aku.

“Kayaknya aku gak usah masuk aja suster”kata suamiku.

Aku pun langsung mangap dan melihat ke arah suamiku. Tiba-tiba saja aku merasa terkhianati. Karena dia janji bakalan nemenin aku melahirkan. Ish syebel.

Suamiku bilang, dia masih bisa nemenin kalau aku melahirkan normal. Tapi dia gak bakalan kuat kalau liat aku operasi. Awalnya aku sempet bete, tapi kalau inget muka dia pas aku abis induksi, emang mendingan gak usah sih. Entar ada yang pingsan di dalam lagi hahaha.

Sekitar 30 menit kemudian, aku pun sudah berada di atas ranjang yang membawaku ke ruangan operasi. Suami menemaniku sampai ke depan ruangan pemulihan operasi. Sebelum berpisah, aku pun kembali menyampaikan pesan padanya “kakak, gigi palsu aku jangan sampai hilang ya!”

Genggaman Hangat

Sampailah aku di ruangan depan kamar operasi. Ruangannya luas banget, tapi sepi. Beberapa ranjang berjajar seperti UGD. Tapi tidak ada satupun yang terisi. 

Dua orang laki-laki berpakaian operasi langsung menghampiriku. Aku dipindahkan ke ranjang lain, telanjang dan hanya ditutupi kain tebal.

Tidak lama kemudian, aku langsung dibawa ke ruang operasi. Hal yang pertama aku liat adalah lampu sorot  di atas meja operasi. Makin tegang karena semuanya terjadi begitu cepat. Aku pun kembali dipindahkan ke meja operasi (ini kenapa dipindah-pindah mulu sih, gak berat apa gotong badan aku yang lagi buncit).

Seperti di film-film atau serial ala dunia kedokteran, dokter dan perawat yang ada di ruangan operasi kagak ada serius-seriusnya. Mereka malah becanda ngobrol ngalur ngidul sebelum operasi. Kalau yang aku tau sih itu bukan karena mereka gak fokus buat operasi ya, tapi itu cara buat mengurangi ketegangan. Yup, katanya sih para tenaga medis ini seringkali ketegangannya melebihi pasien saat operasi karena takut salah gitu. Jadi ya udah aku maklum ajah meskipun aneh ngedenger becandaan mereka. Garing banget wkwkkwk.

Dokter Elise ternyata sudah ada di ruang operasi. Dia pun mendekati dan menyapaku. Aku langsung bertanya apakah aku bius lokal atau total. Ternyata aku bius lokal yang berarti selama operasi aku masiih sadar, hanya bagian perut ke bawah yang lumpuh.

Dokter Elise bukan satu-satunya dokter di ruangan tersebut. Di sana juga sudah ada dokter anestesi laki-laki yang lebih dulu bersiap-siap (maaf aku lupa namanya, soalnya cuman ketemu sekali pas operasi itu). Tak lama kemudian dokter Ling Spesialis Anak pun datang. Sebenarnya aku tidak tahu wajah dokter Ling seperti apa. Aku baru tahu saat dia datang dan disapa oleh dokter Elise. Perawakannya mungil dan raut wajahnya seperti masih muda.

Dokter anestesi pun memintaku duduk lalu membungkuk. Karena sudah mendengar cerita proses caesar, aku pun segera tau kalau akan disuntik anestesi di tulang belakang. Tapi aku bete sama dokter ini karena galaaaak banget. Dia suruh aku buat lebih nunduk lagi sambil dorong kepala belakang aku. Duuh dokter gak liat apa perut aku segede gaban, ini tuh dah maksimal bangeeeeet nunduknya.

Gak sampai di situ, dia bilang tahan jangan gerak-gerak meskipun sakit. Cara ngomongnya itu loh kaya ngospek aku, Iiih syebel. Dokter Elise pun datang menghampiriku dan coba menenangkanku. Dia bilang kalau rasanya akan sakit, tapi tahan saja ya. 

Ya sih, namanya juga tulang belakang pan sensitif banget ya. Apalagi kalau sampai ditembus jarum suntik. Aku pun sudah siap-siap nahan sakit. Dokter galak lalu menyemprotkan cairan ke punggung belakang aku, mungkin itu anestesi juga ya untuk mengurangi sakit saat disuntik. Tak lama kemudian suntikan pun selesai. Tapi ko biasa aja ya sakitnya, kaya disuntik di tangan gitu. Padahal kata tante aku yang pernah caesar, rasanya sakit banget. Waaah ternyata si dokter galak canggih juga.

Aku pun langsung dibantu berbaring oleh perawat pria. Tubuhku juga dipasang alat pendeteksi jantung dan tekanan darah. Tak lama kemudian kakiku langsung kesemutan. Kata dokter sih itu berarti biusnya sudah bekerja.

Perasaan gak sampai lima menit deh kaki aku makin lama makin berat dan gak bisa digerakkan sama sekali. Saking cepatnya aku sempat ngerasa panik. Tiba-tiba aja aku merasa sesak napas.

“Oke tia, tenang! Sebenarnya kamu bisa napas, lagian udah ada selang oksigen juga di idung. Ini karena panik aja,”kataku dalam hati.

Tapi tetap saja aku jadi spontan tengok kiri kanan gitu. Ada perasaan ngenes juga gak ditemenin suami. Kalau ada dia kan aku bisa menggenggam tangannya. Itu cara yang biasa suami lakukan buat nenangin aku kalau lagi cemas.

Sampai akhirnya dokter Ling tiba-tiba menghampiriku. Dia bertanya kenapa, ada yang bisa dibantu. Spontan aku berani ngomong “boleh saya pegang tangan dokter?” 

Aku sudah pasrah sama jawabannya. Ditolak juga gak apa apa karena absurd banget gak sih permintaanya hahaha. Tapi ternyata dokter Ling dengan mantap langsung bilang boleh. Mungkin dia mengerti kalau banyak pasien yang panik jelang operasi. Akhirnya sepanjang operasi, aku memegang tangan dokter Ling. 

Genggaman itu ngaruh banget lagi, karena sepanjang operasi aku jadi tenang banget dan prosesnya berjalan lancar. Meskipun dokter Ling bilang, dia gak bisa megang tangan aku lagi kalau bayinya sudah keluar. Karena tugas dia kan segera memeriksa kondisi bayi begitu lahir. Tapi itu gak masalah, karena aku cuman panik di awal saja sih. Syukurlah…makasih dokter Ling yang baik.

Operasi pun dimulai dan benar-benar gak kerasa apa-apa di bawah. Aku tidak bisa melihat prosesnya karena dihalangi oleh tirai. Namun aku tau sudah mulai pembedahan karena darah mulai mengalir melalui selang penyedot cairan. Entah kebetulan atau tidak, selang itu melintas di atas kepalaku jadi bisa melihatnya.

Tau-tau saja semua orang di ruangan bertindak cepat. Perawat pria melakukan gerakan yang menekan perut bagian atasku dengan sekuat tenaga. Tapi aku tetap sama sekali tidak terasa apa-apa. Perasaanku mengatakan bahwa bayinya akan keluar. Darah semakin banyak mengalir melalui selang. Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi dan ucapan selamat dari dokter dan perawat bahwa aku telah menjadi ibu dari bayi laki-laki.

Tapi aku belum bisa merasa senang saat itu karena tiba-tiba saja merasa melayang dan seperti akan kehilangan kesadaran. Kondisi itu sempat membuatku panik kembali. Aku coba atur napas agar bisa tetap sadar. Spontan aku melihat ke sekeliling dan mendongakkan kepala,  ternyata dari tadi dokter galak terus memantau kondisiku. Aku bertanya apakah pusing yang aku rasakan adalah sesuatu yang wajar. Dia bilang iya wajar. Entah kenapa suaranya jadi lembut dan gak galak lagi.

Oh iya, aku kan kehilangan banyak darah dalam satu waktu yah. Pantas saja jadi pusing dan terasa akan pingsan. Begitu pikirku.

Ketegangan itu langsung mencair saat tiba-tiba pipi sebelah kiriku disentuh sesuatu yang sangat lembut. Aku tengokkan kepala ke atas, ternyata itu adalah pipi bayiku. 

Seketika itu juga semua perasaan lelah, sedih, marah selama proses jelang persalinan langsung hilang dari diriku. Semua berganti dengan kebahagiaan dan rasa syukur karena melihat bayiku lahir dengan selamat. Ini seperti paket lebaran terindah yang pernah kuterima.

Kucium pipi lembutnya dan bertanya pada perawat yang membawa bayiku apakah dia sehat. Perawat menjawab normal dan sehat, namun bayinya akan dibawa sementara dan diperiksa lebih lanjut oleh dokter.

Perawat sempat membimbing mulut bayi untuk menyusu di payudaraku. Memang bukan inisiasi menyusui dini jatohnya. Sebab bayi yang menjalani operasi caesar berbeda dengan normal. Setelah beberapa menit menyusu, perawat membawanya untuk diperiksa lebih lanjut. Sementara dokter Elise masih menjahit sayatan operasiku.

Tak lama kemudian operasi selesai. Dokter Elise langsung pamit dan dadah-dadah kiss bye sama aku (yaelah dokter, mentang-mentang lagi libur jadi langsung pamit deh hahaha). Meskipun dokter Elise tidak lebaran, namun ternyata suaminya merayakan hari raya tersebut. 

Ternyata dokter galak lah yang bertanggung jawab mengawasiku sampai aku siuman dan siap untuk dibawa ke ruang perawatan. Aku lalu dibawa ke ruang pemulihan yang bentuknya seperti UGD tapi sepi tersebut. 

Di ruang pemulihan, aku diberi selimut tebal dua lapis dan dibaliknya dipasang alat yang mengalirkan udara panas. Aku pernah mendengar cerita sepupu bahwa hal yang paling membuatnya trauma pada proses caesar adalah sesaat setelah operasi tersebut. Sebab tubuh kita akan sangat menggigil. Hal itu pula yang aku rasakan. Tubuhku sangat menggigil hingga bergetar kencang.

Setelah beberapa menit, perawat perempuan meminta perawat yang laki-laki memberikan aku injeksi obat khusus untuk meredakan gejala tersebut. Sebab dia melihat reaksi tubuhku lebih menggigil dari seharusnya.

Akhirnya aku diberikan obat yang dimaksud melalui infus. Sesaat setelah diberi obat, aku kembali melayang dan seperti akan hilang kesadaran. Ternyata obatnya cukup keras ya. Mungkin itu sebabnya tidak diberikan jika tidak terpaksa. Memang begitu diberikan obat, tubuhku terasa jauh lebih hangat dan tidak gemetaran lagi.

Setelah satu jam lebih, akhirnya aku disiapkan untuk dibawa ke ruang perawatan. Dokter galak yang sempat menghilang kembali mengecek keadaanku. Dia jauh lebih ramah dari sebelumnya. Mungkin karena sebelum operasi dia merasa grogi ya jadinya galak hahaha nebak aja.

Akhirnya aku dibawa keluar ruangan perawatan. Saat pintu dibuka, suamiku langsung celingak celinguk dengan wajah tegang. Aku memegang tangannya dan bertanya mengenai kondisi bayi. Sebab suamiku menemani bayi saat diperiksa oleh dokter Ling. Suami bilang bayinya sehat serta sudah diimunisasi hepatitis B dan Vitamin K.

Pasca Operasi

Sampai ruang perawatan, keluarga besar sudah menunggu. Padahal aku bilang tidak perlu menengok dulu karena kasian mengganggu lebaran mereka. Tapi tetap saja sebagian keluarga besar menengok aku dan bayiku.

Sebelum pergi meninggalkan ruangan, perawat memberikan beberapa pesan agar proses pemulihan berjalan dengan baik. Pertama aku tidak boleh menggunakan bantal selama 24 jam karena bisa menyebabkan sakit pada otot leher. Hal ini juga bisa menyebabkan pusing. Aku juga tidak boleh turun dari tempat tidur selama 24 jam tersebut. Namun yang agak menyiksa adalah aku tidak boleh minum dan makan dulu. Duh, padahal haus banget pasca gemetaran tadi.

Perawat mengatakan, aku harus menunggu ususnya berisik dulu baru boleh mulai minum. Usus berisik gimana sih? Ternyata itu bisa diperiksa pakai stetoskop. Kalau mulai ada kerubuk-kerubuk, udah boleh minum deh meskipun untuk pertama kali hanya tiga teguk dalam waktu 10 menit sekali.

Meskipun belum boleh duduk, namun suster tetap menganjurkan aku untuk banyak bergerak dengan berbaring ke kiri dan kanan agar cepat pulih. Cukup sulit dilakukan karena masih ada residu obat bius di tubuhku. Padahal sejak keluar ruangan operasi aku sudah berusaha untuk menggerakkan kakiku. Sampai-sampai perawat bilang “ibu semangat banget”. Soalnya waktu itu aku ingin segera bisa menyusui bayiku. Itung-itung penebusan karena proses inisiasi menyusui dini tidak berjalan optimal. 

Namun dari semua bagian tubuh yang lumpuh karena bius, panggul merupakan yang terakhir bisa digerakkan atau diangkat. Mungkin karena memang obat biusnya disuntikkan di sana ya. Dan tentu saja tantangan lainnya adalah menahan sakit luka sayatan operasi. Memang harus sabar yah. Tapi aku berusaha bersyukur dan mengobati sakitnya dengan perasaan bahagia bisa memeluk bayiku

Malam hari pasca melahirkan benar-benar waktu yang heboh buat aku dan suami. Semua keluarga sudah pulang, tinggal kami berdua di rumah sakit. Sementara bayi terus menangis sepanjang malam. Kami benar-benar belum paham kenapa bayi menangis. Benar-benar trial and eror. Aku yang belum bisa bergerak cuman bisa mengandalkan suamiku dalam merawat bayi. Sebelumnya perawat memang sudah mengajarkan suamiku untuk mengganti popok, menggendong bayi dan membedongnya. 

Setelah berjam-jam menikmati hebohnya jadi orang tua baru, akhirnya kami berkesimpulan bahwa sang bayi tidak mau tidur sendirian di boks melainkan ingin tetap dipeluk ambunya. Mungkin dia masih adaptasi ya dari dalam rahim ambu ke dunia luar. Dia masih ingin merasakan kehangatan dan mendengar detak jantung ambunya. Karena aku sulit bergerak, akhirnya bayinya aku ketekin aja hahaha. Maaf ya nak, tapi kamu langsung pules loh.

Besok paginya adalah saat yang juga menyiksa buatku. Bukan karena sakit luka operasinya sih, itu bisa aku tahan. Tapi karena aku kelaparan hahaha. Maaf ya pemirsa, aku kalau telat makan suka uring-uringan memang. Dengan sabar aku menunggu saat makan pagi tiba-tiba. Hingga akhirnya petugas nutrisi tiba. Loh mana piringnya? Dan kecewalah aku karena untuk pagi itu aku hanya boleh mengkonsumsi nutri drink! Masya Allah…kriuk…

Ya iyalah, emang harus bertahap kali gak bisa langsung makanan padat gitu. Udah gitu siangnya aku kena PHP juga. Soalnya si perawatnya kan bilang kalau siang aku udah boleh makan bubur. Asiiiik, lumayan lah ya bubur ayam buat ganjel lambung. Eh taunya yang datang bubur sumsum. Doenk! Ouuuughhh…aku lapaaaaaaaaaaar. Kalau bubur sumsum ko kaya gak makan gitu ya hahaha.

Sampai akhirnya jam 18.00 petugas gizi datang lagi. Aku langsung antusias gitu ngomong “sekarang nasi tim yah bu?” 

Petugas gizinya bengong terus ngomong “oh ibu mau makan sekarang? Soalnya sekarang baru waktunya minum susu”

Aku langsung mengangguk-angguk “kalau bisa sih sekarang!”

Nah sesuai instruksi perawat, setelah 24 jam aku sudah boleh berdiri. Tapi sebelumnya dilakukan secara bertahap mulai dari duduk dengan bantuan dipan rumah sakit yang ditinggikan, lalu duduk di tepi tempat tidur, berdiri dan akhirnya jalan. Kalau langsung berdiri dikhawatirkan bisa pusing. Benar-benar harus sabar nahan sakitnya, tapi juga harus dipaksakan bergerak sebisa mungkin agar bisa cepat pulih. Gak tau yah kalau aku sih karena  pengen banget ngurus bayi sendiri jadinya semangat buat coba bergerak terus meskipun sakit.

Oh iya, gak usah khawatir sama luka operasinya karena jaman sekarang dah canggih sih. Perbannya sudah pake plastik jadi kita bisa langsung mandi setelah 24 jam. Lukanya juga cepat mengering. Besoknya aku sudah diijinkan pulang oleh dokter Elise.

Seminggu kemudian, banyak orang yang pada bengong liat aku udah jalan seperti biasa. Katanya aku tergolong cepat sembuh untuk orang yang baru operasi caesar. 

Aku gak tau pasti kenapa. Cuman waktu itu bayiku sempat masuk rumah sakit lagi karena kuning. Di saat itulah aku kaya yang mengabaikan rasa sakit aku demi jagain dia. Apalagi pas si bayi pulang ke rumah, aku seperti gak mau kecolongan dia sakit lagi. Jadi maksain banget nahan perih luka operasi dan tulang ekor yang linu (bekas suntikan bius). Aku juga udah langsung mandiin bayi sendiri dan cuci baju bayi pakai tangan. Awalnya masih yang suka pengen nangis kalau ngangkat beban berat atau membungkuk. Tapi lama-lama jadi biasa. Sepertinya banyak bergerak itulah yang membuat proses penyembuhan aku cepat. 

Aku juga mulai pake stagen sejak pulang dari rumah sakit. Emang banyak yang pro kontra sih tentang penggunaan stagen pasca operasi. Tapi kalau ke aku jatuhnya malah bantu banget buat ngurangin rasa sakit, karena kulit yang kendur pasca hamil jadi keangkat dan gak gesek bagian lukanya. Seminggu setelah pulang dari rumah sakit, aku kontrol ke dokter untuk lepas perban.

Baby Blues?

Sejak hamil besar, aku sudah mewanti-wanti suami untuk membaca artikel mengenai baby blues. Soalnya banyak temanku yang mengalaminya. Gejalanya seperti sering menangis sendirian dan lama di kamar mandi, atau jadi enggan memperhatikan bayinya. Katanya sih pengaruh homorn yang berubah drastis pasca melahirkan. Aku berpikir kondisi tersebut membutuhkan pengertian dari orang terdekat karena banyak yang malah jadi salah paham dan membuat keadaan makin runyam. 

Aku juga banyak membaca artikel mengenai cara mengatasi baby blues. Sebisa mungkin aku meminimalisir gejala ini karena ingin menikmati masa mengasuh anak seoptimal mungkin.

Tapi ternyata kesiapan aku menghadapi baby blues ini justru ampuh buat mengusir gejala tersebut. Karena sudah banyak tau dan didukung suami, aku sedikitnya bisa mencegah saat mulai muncul bibit-bibit syndrom tersebut. Jadinya aku tetap bisa merasa bahagia pasca melahirkan.

Kalau dipikir-pikir, emang ibu masa kini (ciyee ibu kekinian) yang baru melahirkan rentan terkena baby blues. Pas baru melahirkan aja aku garuk-garuk kepala sendiri, ko perut aku jadi klewer klewer melenyoy gini sih wkwkwk. Jelek banget ih! Gedenya masih sama kaya hamil 6 bulan, tapi gak kenceng melainkan klewer-klewer. Emang sih sebulan kemudian perut aku mengecil, tapi masih kaya hamil empat bulan hahaha.

Belum lagi strech mark yang membahana di sekitar perut, pangkal lengan, dan betis. Mungkin itu yang bikin sebagian ibu jadi shock yah dan gak percaya diri. Nah berhubung aku kondisi sebelumnya gak mulus-mulus amat dan juga gak langsing (sama sekali tidak hahahah) jadi aku ngakak sendiri aja liat si klewer klewer. Aku percaya diri aja kalau nanti bisa membaik asalkan kita olah raga dan jaga makanan. Liat aja Dian Sastro, abis melahirkan chubby, sekarang jadi langsing kembali dan kece berat sampai bisa main AADC 2. Berkat #pertemanansehat dan #jangankasihkendor –> Standarnya Dian Sastro, ketinggian mpok -_- 

Selain itu, yang bikin baby blues adalah keamatiran kita sebagai orang tua baru. Jadinya timbul perasaan gak percaya diri buat ngurus anak sendiri dan stres deh. Aku berusaha mengatasinya dengan mencoba tenang, banyak baca buku tentang parenting saat hamil, dan juga bertanya pada dokter atau bidan. Dengan demikian, kita dapatkan ilmu dan gambaran dari sumber yang tepat. Kalau ada orang yang gak kompeten ngomong ini itu mah tutup kuping aja deh. Toh gak ada satu pun manusia yang langsung jago jadi orang tua. Ibu aku aja yang udah pengalaman punya anak dua, sekarang suka banyak lupanya cara ngurus bayi. Jadi dibawa santai saja.

Sumber baby blues yang ketiga adalah letih. Emang capek banget ya pemirsa yang namanya ngurus bayi. Kadang aku bisa nunda pipis sampai dua jam kalau bayinya lagi rewel. Jadwal makan berantakan. Mandi pun bisa jam lima sore.

Belum lagi kaya nyuci, setrika baju dia, belanja kebutuhannya dan lain-lain. Apalagi kalau harus ngurusin rumah tangga kaya masak dan beres-beres rumah. Errr gimana gak stress.

Jadi aku sih alih-alih memaksakan diri jadi ibu hebat yang mengurus semuanya sendiri, aku pasrahin aja menerima kekurangan diri apa adanya. Makanya aku sangat berterima kasih banget saat ibu aku menawarkan bantu jagain bayi. Apalagi selama aku cuti melahirkan, aku harus pisah kota dulu sama suami. Bantuan keluarga (atau bisa juga pengasuh) setidaknya membuat ibu baru bisa sejenak beristirahat dan tetap bahagia. Aku percaya, ibu yang bahagia akan menularkan perasaannya pada sang bayi.

Sekarang, bayiku sudah berumur satu bulan dan membesar. Udah makin gampang pegel kalau gendong dia. Ko dia cepet besar ya? Udah gitu makin lama makin gemesin lagi ngeliat ekspresinya. Jadi pengen hamil lagi…eeeeh?

Tapi kalau ingat tiap hari harus begadang dan tidur tiga jam doang buat jagain si orok…hmm, mari kita pasang alat kontrasepsi! (tdk)***

3 Comments

  1. Ester

    Hallooo salam kenal yaa… mau tanya ni, lhiran d RS Borromeus kemren bun? Kalo udah tindakan induksi bgtu, tapi ujung nya caesar kena biaya nya double ga itu bun? Thanks before

    Reply
  2. Fani

    Hallo mba… terima kasih buat sharing cerita lahiran nya 🙂 dan selamat buat kelahiran dede bayinya.. sm nih mba saya jg kebetulan sdh lewat bln dan disaranin induksi jg sm dokter elise, blh minta infonya mba klo sdh induksi dan hrs caesar itu kena biayany gmn ya mba ? Terima kasih 🙂

    Reply
    1. cahayatemaram (Post author)

      Hai mbak fanny, maaf ya kalau telat. Kmrn sama perawatan bayi disinar krn kuning, kelas 1 sekitar 29 jt mbak. Semoga lancar ya persalinanny 🙂

      Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *