Cahaya Temaram

Dear Aksam, Ini Arti Namamu

Dear Aksam,

Jauh sebelum mengandung, ambu dan ayah sudah menyiapkan nama untuk anak kami, baik laki-laki dan perempuan. Pembicaraan mengenai nama buah hati merupakan salah satu topik khayalan indah bagi ayah dan ambu. Soalnya, kami harus menunggu lima tahun untuk menanti kamu lahir ke dunia.

Alhamdulillah yang ditunggu pun akhirnya datang juga. Seorang anak laki-laki yang kami beri nama Samudra Pangaksama.

Sebenarnya pemberian namamu semacam penggabungan visi dan misi dari ayah ambu. Kami percaya, makna dari nama yang diberikan orang tua merupakan doa yang akan mengiringi perjalanan sang anak kelak.

Sejak sebelum menikah, ambu sudah bercita-cita memberikan nama anak yang bernuansa Indonesia. Alasannya karena nama merupakan identitas diri. Sejauh apapun nanti kamu melangkah, ambu berharap kamu tidak pernah lupa dari mana berasal. Ambu juga berharap kamu tetap mencintai dan menghormati kebudayaan tempat kamu dilahirkan meskipun nanti sudah mengenal dunia luar.

Tidak hanya itu, ambu juga bercita-cita memberikan nama yang mudah dieja dan diucapkan oleh orang Indonesia. Selain tidak membuat orang sekitarmu keseleo lidah, nama tersebut juga melambangkan kesederhanaan dan lebih membumi. Sifat yang ambu harapkan ada pada anakku kelak.

Meskipun sederhana, namun bukan berarti kurang makna. Ambu yakin banyak kata-kata berbau Indonesia yang indah dan penuh makna. Beberapa kandidat nama pun sudah ambu dan ayah siapkan saat itu.

Sampai suatu hari, ayah menceritakan kisah pewayangan Jawa tentang “Bima Mencari Dewa Ruci” kepada ambu. Dalam kisah tersebut terdapat falsafah “Samudra Pangaksama” yang dikatakan oleh sang guru kepada Bima. Mendengar kisah tersebut, ambu langsung mendapat inspirasi. Sepertinya Samudra Pangaksama cocok untuk nama anak laki-laki. Ayah pun langsung setuju dengan pendapat ambu. Tak berapa lama, Ambu juga langsung mendapatkan ide untuk memberikan nama panggilanmu “Aksam”.

Tidak hanya dari ayah, semesta juga seperti mendukung pemberian namamu ini. Sebab secara kebetulan momen kelahiranmu menambah kaya makna dari nama tersebut.

Seperti diketahui, Samudra memiliki arti lautan yang sangat luas. Sementara Pangaksama dalam bahasa jawa artinya maaf atau pengampunan. Kalau disatukan secara biasa, Samudra Pangaksama bisa berarti lautan maaf yang luas. Ini sesuai dengan momen kamu dilahirkan yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Pada momen inilah semua umat muslim meluaskan hatinya untuk meminta dan memberikan maaf. Maaf tersebut melengkapi makna Idul Fitri yang menjadi hari kemenangan setelah sebulan penuh menahan hawa nafsu.

Namun dalam cerita Bima Mencari Dewa Ruci, Samudra Pangaksama juga memiliki makna tersendiri yaitu : orang baik memiliki hati seluas samudra. Sesuai dengan makna tersebut, ambu dan ayah berharap apapun jalan yang kamu lewati nanti, kamu tetap bertekad untuk menjadi orang yang baik. Tetap rendah hati saat berada di atas, dan tidak dengki saat berada di bawah.

Ambu juga memilihkan panggilan “Aksam” untukmu. Aksam sebenarnya diambil dari penggalan nama lengkapmu. Namun dalam bahasa Turki, Aksam juga memiliki arti kurang lebih sama dengan “senja”. Kamu tahu nak, senja merupakan momen yang spesial buat ambu. Karena momen itu selalu berhasil membuat ambu bergetar saat tidak sengaja melihatnya. Buat Ambu, senja tidak hanya sebatas indah. Saat itulah ambu selalu merenung tentang apa saja yang sudah dilewati selama ini.

Apakah ambu sudah menjalani hidup ini dengan baik dan berguna? Apakah ambu sudah memanfaatkan waktu sehingga tidak sia-sia? Apakah ambu sudah berusaha untuk mencapai cita-cita? Begitu sebagian pertanyaan yang muncul dalam benak ambu saat melihat senja. Pertanyaannya berat ya? Tapi ambu percaya, dengan merenung akan mengasah kebijaksanaan kita dalam menjalani hidup. Kebijaksanaan inilah yang juga ambu harapkan dapat melekat pada dirimu.

Lagi-lagi semesta juga mendukung pemberian nama panggilan tersebut. Karena kamu dilahirkan sore hari saat senja akan segera tiba. Suasana alam tersebut seperti ingin ikut menyambut kehadiranmu di dunia ini.

Awalnya ambu sempat berpikir untuk menambahkan nama keluarga di belakang “Samudra Pangaksama”. Namun pemikiran itu langsung ditolak ayah. Menurut ayah, penambahan kata lain pada namamu (meskipun nama keluarga), hanya akan merusak keindahan maknanya. Lagipula bukan kebiasaan orang Indonesia juga untuk menambahkan nama keluarga di belakang.

Selain itu, ayah berpikir bahwa dua kata itu lebih mudah diingat dan komersil. “Siapa tau anak kita nanti jadi artis, jadi gak perlu repot-repot ganti nama yang komersil” begitu kata ayah.

Ah begitulah nak ayahmu itu. Selalu gak serius saat ambu lagi serius. Padahal kan ambu jarang-jarang serius kaya gini. Jadi aja tulisan ini kurang keren. Gak formal gitu.

Tapi doa kami yang dititipkan pada namamu sangat serius loh nak. Apapun pilihan jalan hidupmu nanti, ayah dan ambu bertekad akan berusaha untuk menghormatinya. Hanya satu harapan kami, jadilah orang baik dan bijaksana. Aamiin. (tdk)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *