Cahaya Temaram

Ternyata Percintaan Itu Seperti Teori Ekonomi

Pas SMA, aku paling lemah sama pelajaran ekonomi. Angka di raport pun pernah kebakaran, karena nilai ujian akhir aku cuman 2,7 aja. Duh, parah banget ya?

Inilah yang menyebabkan aku belajar ilmu eksak mati-matian supaya bisa masuk jurusan IPA. Jadi kan aku bisa jauh-jauh sama pelajaran ekonomi. Pengalaman mendapatkan nilai buruk, bikin aku jadi benci sama pelajaran tersebut.

Anehnya kebencian itu berubah jadi rindu. Bahkan sekarang aku dipercaya kantor buat jadi wartawan ekonomi. Loh ko bisa? Jawabannya ada di isi tulisan ini sih. Kalau penasaran, baca aja yah sampai selesai hehehe.

Ternyata bidang ini semakin dipelajari, semakin menarik. Malah kalau dipikir-pikir, banyak teori ekonomi yang bisa dianalogikan dengan hubungan percintaan. Jadi lebih asik buat mempelajarinya. Analogi ini juga yang sering aku pakai waktu membuka praktek pelacuran (pelayanan dengerin curhatan) teman-teman tentang masalah percintaan mereka.

Jadi inilah beberapa kibulanku tentang korelasi antara teori ekonomi dan kasus percintaan (beuh dah kaya judul sripsi nih). Loh ko kibulan? Ya karena ini cuman teori gokil-gokilan, jadi gak usah dianggap serius. Apalagi sampai dijadikan kajian seminar hohoho.

1. Menciptakan Pasar
Ini sebenarnya wejangan dari wartawan ekonomi senior waktu aku masih lajang. Awalnya bikin aku geli, tapi dipikir-pikir bener juga.

Saat jatuh cinta, seseorang seringkali terlalu banyak melakukan penyesuaian untuk menarik perhatian orang yang diincarnya. Misalnya si dia suka sama lagu jazz, tiba-tiba aja cd musik koleksi kamu penuh dengan genre tersebut. Padahal sebelumnya kamu lebih suka K-pop.

Atau bisa juga saat si dia memimpikan pasangan dengan rambut model Rhoma Irama. Kamu langsung datengin salon buat dikeriting ala raja dangdut. Padahal aslinya rambut kamu rancung kaya sapu ijuk. Pokoknya apapun dilakukan untuk memenuhi standar dia.

Kalau ujung-ujungnya bikin wawasan atau pengalaman kamu bertambah sih bagus-bagus aja. Tapi kalau terlalu fokus sama selera si dia, ish rugi banget gaes. Kenapa? Karena itu berarti kualitas kamu gak bakalan lebih dari selera dia. Apalagi kalau penyesuaian itu membuat kamu gak jadi diri sendiri. Mending kalau dia jadi ngelirik kamu, kalau enggak ya gigit jari ajah.

Daripada kamu terus-terusan menyesuaikan diri sama selera pasar tertentu. Mendingan kamu fokus untuk meningkatkan kualitas diri sendiri dan ciptakan pasarmu sendiri. Dengan begitu, siapa tau kedepannya kamu mendapatkan pasar eh orang yang lebih oke dan cocok dari sebelumnya.

Meningkatkan kualitas di sini misalnya jadi lebih kece (bisa perawatan kecantikan atau rajin olah raga), lebih tajir (gak bisa diboongin kalau ini ngaruh sih hehehe), lebih pinter (bukan dalam akademik, tapi lebih ke wawasan yang makin luas dan open minded), lebih percaya diri, lebih ramah, lebih enak diajak ngobrol, lebih dewasa, lebih rajin ibadah, lebih gampang tersenyum, lebih suka menolong orang, lebih positif thinking, lebih, lebih, dan lebih lainnya. Pokoknya fokus sama meningkatkan daya tarik diri kamu sendiri.

Seperti halnya barang, semakin tinggi kualitasnya akan meningkatkan permintaan pasar. Bahkan meskipun harganya tinggi, orang gak segan-segan nabung buat beli barang tersebut. Itu ibaratnya sebuah perjuangan buat dapetin barang tersebut.

Jangan takut juga buat jadi unik dan gak sesuai selera si dia. Karena terkadang kalau kitanya udah memiliki kelebihan andalan lain mah, orang suka mengesampingkan “keunikan” itu. Gak jarang kan pas suka sama seseorang kita suka bertanya-tanya “ko bisa ya suka sama dia, padahal kan dia…”.

Jadi daripada ngejar-ngejar seseorang sampai kejang tapi ujungny makan ati, mendingan fokus buat meningkatkan kualitas diri. Tinggalin orang yang gak menghargai usahamu. Jadilah orang yang diinginkan, terus biarkan mereka yang berjuang buat kamu!

2. Investasi
Buatku menjalin hubungan itu seperti investasi yang harus dipupuk secara konsisten. Tapi untuk mendapatkan manfaat optimal, kita harus tau strategi dalam berinvestasi. Misalnya menentukan jenis, kapan, berapa banyak dan bagaimana berinvestasi tersebut. Jangan sampai yang tadinya mau untung, malah jadi buntung!

Kibulan poin ini tercipta dari pengalamanku dengan suami. Waktu sebelum menikah, aku sempat kaget karena dia termasuk tipe pacar yang pelit. Dia cuek aja ngeliat aku bayarin ongkos angkot berdua pas masa pedekate. Terus setiap kencan juga, ya kita bayarnya patungan. Gak ada tuh yang namanya istilah co bayarin ce. Kalau disindir, suami suka becanda dengan bilang bahwa dia pendukung kesetaraan gender.

Kita juga jarang banget jajan di tempat mahal, seringnya di pinggir jalan. Pas aku ulang tahun juga dibeliin kadonya pajangan boneka gitu (terus aku garuk-garuk kepala karena kadonya kaya buat ke anak SD hahaha).

Padahal para lelaki terdahulu paling anti tuh yang namanya membiarkan aku mengeluarkan uang sepeser pun saat jalan bareng. Malah ada yang marah, pas aku beliin dia susu yang harganya Rp 5.000 doang hohoho.

Tapi aku mikirnya, gak apa-apa deh toh aku punya penghasilan sendiri. Jadi kan punya uang buat menyenangkan diri sendiri. Menurutku mendingan dapet lelaki yang (agak) pelit tapi baik, daripada royal tapi nyakitin (curcol nih yeee).

Ternyata kebiasaan pelit itu berubah secara signifikan saat menikah. Misalnya saja gak ada angin gak ada hujan, dia suka tiba-tiba ngasih uang (di luar uang reguler) dalam jumlah yang menurut aku lumayan. Katanya terserah mau dipakai apa, buat belanja atau pergi ke spa juga boleh.

Makin ke sini, dia makin sering ngasih banyak kejutan lainnya seperti beliin tas branded buat kado ulang tahun atau ngajak makan malam romantis di restoran fine dining terbaik di Jakarta. Trus yang bikin terharu, dia niat banget nabung dari bulan-bulan sebelumnya cuman buat ngasih kejutan itu.

Karena penasaran, aku nanya sama dia. Ko sejak nikah berubah jadi lebih royal sih? Padahal kan biasanya orang lain kebalikannya. Pas pedekate atau pacaran royaaaaal banget ngasih ini itu. Eh pas udah dimiliki malah melempem.

Suamiku pun langsung ngomong : nah itu namanya investasi bodong! Ngapain royal sama orang yang gak pasti jadi sama kita. Udah beliin ini itu, taunya nikah sama orang lain. Rugi banget!

Mending investasi sama istri atau suami, kan dia yang nemenin sampai tua. Ini ibarat kita mau investasi reksadana misalnya. Tentu kita disarankan untuk menanamkan uang di perusahaan yang jelas, kredibel dan memiliki kemungkinan besar untuk tetap beroperasi dalam jangka panjang.

3. Marginal Utility
Nah sekarang lanjut ke teori yang agak advance. Dalam ilmu ekonomi, kita mengenal istilah marginal utility yaitu sebuah konsep tentang tingkat kepuasan seseorang dalam mengkonsumsi barang. Berdasarkan hukum Gossen atau yang biasa dikenal dengan law of siminishing disebutkan bahwa marginal utility akan semakin sedikit apabila orang tersebut terus menerus menambah konsumsinya dan pada akhirnya tambahan nilai guna tersebut akan menjadi negatif.

Contohnya kaya gini : kita abis lari 5 km di siang hari yang terik. Begitu selesai, langsung datang ke warung buat minum segelas air putih. Karena haus banget, air itu kerasa sangat segar dan bernilai 10. Setelah itu kita minum lagi gelas kedua dan ketiga, masih kerasa segar sih tapi nilai kenikmatannya bakalan berkurang jadi 8. Sebab kita kan udah gak terlalu haus lagi.

Nilai kenikmatan itu akan terus berkurang kalau kita terus-terusan menambah segelas air. Bahkan di titik tertentu, air tersebut malah bikin enek dan akhirnya muntah. Itulah yang dikatakan bernilai negatif.

Begitu juga dalam suatu hubungan, gak bisa dipungkiri perasaan cinta bakalan berkurang seiring dengan berjalannya waktu. Buktinya pas aku kecil sering denger ibu-ibu ngobrol “Kalau dah nikah mah sama suami sayangnya beda ya, kaya adik kakak gitu (cieee adik kakak ketemu gede)”. Mungkin maksudnya tetap sayang tapi hasratnya dah gak menggebu-gebu kaya awal lagi kali yah. Begitu juga saat aku mendengar nenek temanku yang usianya 70 tahun lebih. Dia memutuskan buat gak tidur sekamar lagi sama suaminya. Alasannya : “ah hareudang (gerah)”.

Ya terus gimana dong? Pan kita pengen tetep awet romantis sampai tua kaya Ainun – Habibie. Kalau menurut aku sih, biar gak muntah ya kasih jarak lah minum air putihnya, jangan sekaligus gitu. Begitu juga dengan hubungan, gak ada salahnya kan kasih ruang sama pasangan dan diri kita sendiri. Kalau nempel terus kemana-mana atau di sms terus tiap satu jam, ya bosen juga sih. Jangan khawatir si dia bakalan lupa, pan yang namanya manusia mah butuh air putih. Kalau lupa minum, entar dehidrasi dong hehehe.

Terus gimana caranya nambah nilai yang tadinya flat tujuh terus, pengen balik lagi jadi sembilan atau sepuluh. Bisa added value (menambah nilai) sih, misalnya sesekali mencampurkan air putih itu dengan lemon, es, dan gula. Jadi tambah segar deh.

Begitu juga dengan relationship, biar gak monoton, bisa kan sesekali liburan atau mencoba hal baru barengan. Atau kita menambah nilai diri sendiri dengan menambah wawasan, sehingga masih nyambung dan asik banget kalo ngobrol sama si dia yang kariernya semakin menanjak.

4. Teori Sapi Perah
Dan ini dia alasannya kenapa tiba-tiba aku yang benci pelajaran ekonomi, berbalik jadi tertarik sama bidang itu. Alasannya adalah…pak Tommy.

Yup, dia adalah dosen mata kuliah Manajemen Pemasaran di kampus aku dulu. Sebenarnya aku mahasiswa Fakultas Pertanian sih, tapi ternyata di kampusku diajarin juga beberapa mata kuliah di bidang ekonomi. Soalnya percuma kan jika kita bisa menghasilkan produk pertanian yang berkualitas, tapi gak bisa mengelola tata niaganya.

Nah pak Tommy inilah dosen yang membuat aku dan teman ce lainnya rebutan buat duduk di bangku depan pas dia mau ngajar. Loh emang dia ganteng? Hmm tergantung definisi kamu tentang ganteng sih. Kalau definisi ganteng versi kamu itu adalah lelaki pendek, bulat, botak, dan berkacamata, iya dia ganteng.

Tapi haloooo, please deh. Sebagai perempuan dewasa (ciyee), kayaknya udah gak jamannya lagi memasukkan kategori ganteng unyu-unyu dalam “top 3 kriteria pria menarik versi gue”. Kalau versi aku sih, pria menarik itu dipengaruhi oleh kematangan, sikap, dan otak. Meskipun kadang suka ngiler juga sih liat yang bening-bening hehehe.

Nah pak Tommy ini, dari awal mengajar aja sudah terlihat kharismanya. Dia juga pinter dan termasuk tipe dosen yang gak fokus sama teori melulu. Soalnya dia punya usaha sendiri, jadi tau banget gimana caranya memasarkan sebuah produk secara nyata di lapangan.

Hal itu ditambah dengan cara mengajar dia yang menarik banget dan bikin kita gak bosen. Dia sering bikin perumpamaan yang gokil dalam menjelaskan istilah pemasaran.

Perumpamaan yang paling aku ingat adalah “teori sapi perah”. Suka kepikiran gak sih, ko ada ya perusahaan yang memasarkan lebih dari satu produk dengan jenis yang sama. Misalnya aja perusahaan mie instan, dia dari awal sudah mengeluarkan produk dan berhasil jadi semacam legenda gitu. Merknya udah merajai pasar dalam jangka waktu yang lama.
Tapi tiba-tiba dia mengeluarkan merk mie instan lainnya. Loh ngapain ya? Pan udah punya merk mie instan sebelumnya.

Udah gitu merk barunya seringkali berkualitas lebih rendah tapi murah. Atau cuman produk yang sekali booming tapi kurang punya faktor kontinuitas tinggi. Jadi tujuannya dari penciptaan merk tersebut adalah menjual sebanyak mungkin meskipun kurang memperhatikan sisi idealisme.

Nah kalau dalam teori sapi perah, bisa jadi itu strategi perusahaan untuk meraih sokongan dana tambahan. Jadi bisa aja penghasilan dari penjualan produk lama yang berkualitas itu lagi stagnan. Terus perusahaan berpikir gimana caranya ya dapat uang tambahan? Akhirnya dibuat lah merk produk baru versi yang kira-kira bisa jadi booming dan laku. Seringkali produk ini trial and erornya tinggi jadi resikonya juga tinggi. Tapi kalau berhasil, bisa bikin untung banyak. Uang yang dihasilkan, kemudian dialirkan untuk mengembangkan produk mie instan yang lama sehingga tetap nomor satu di pasaran.

Karena tujuannya tersebut, perusahaan juga tidak terlalu merasa khawatir jika sewaktu-waktu si produk sekunder ini gak bertahan lama di pasar. Citra perusahaan sebagai produsen mie legend juga gak tercoreng karena kan merknya berbeda.

“Jadi gimana sampai sini, ada pertanyaan?” kata pak Tommy.

Kelas pun hening.

Pak Tommy pun sepertinya menyadari kalau anak didiknya masih pada lemot hohoho. Apalagi jam kuliah dia pas siang hari, di saat kedua mata lagi berat-beratnya sehabis makan siang.

Untuk mempermudah mahasiswa dalam menyerap materi kuliahnya, Pak Tommy pun menganalogikan strategi marketing tersebut seperti pacaran. Bayangkan kamu memiliki lebih dari satu pacar. Pacar yang pertama tampan atau cantik, tapi kere. Kamu cinta sama dia dan ingin terus bersama dia. Tapi masalahnya yang namanya pacaran butuh uang dong buat jalan-jalan dan sebagainya.

Akhirnya kamu pacaran lagi lah sama pria yang kaya, tapi jelek. Kamu ambil keuntungan dari dia, terus uangnya dipakai buat pacaran sama si ganteng deh. Kalau ketahuan? Ya udah putus aja, kan yang penting masih punya pacar yang ganteng.

Oooh jadi gitu pak. Otomatis aku ketawa lah denger penjelasan dia.

“Tuh kan, dari sini aja saya bisa tau, mana yang player, mana yang korban. Kalau yang ketawa (denger penjelasan dia), itu biasanya yang player” ujar dia cuek sambil ngelengos.

“Damn! Maksudnya pak? Saya player gituh? Errr….”umpatku dalam hati.

Satu semester berlalu, tibalah ujian akhir. Tapi pas belajar aku sempet bingung gitu liat catatan mata kuliah Pak Tommy. Ko cuman dua lembar doang? Dipikir-pikir pantes aja catatannya cuman dikit. Soalnya kan dia lebih banyak ngasih studi kasus pas kuliah.

Akhirnya aku pasrah aja ngadepin ujian. Pas liat soalnya, ternyata cuma satu, kurang lebih seperti ini :

“Anda berencana akan membuka satu jenis usaha. Apa usaha tersebut, dimana, siapa sasaran konsumen anda, kapan, dan strategi apa yang dilakukan untuk membuka usaha tersebut agar bisa meraih pasar? Jelaskan maksimal satu halaman kertas polio”

Hoo jadi begini soalnya. Aku pun mulai lah menulis satu kertas polio. Saat nilai ujian diumumkan, yeay dapat nilai A. Berhasil…berhasil!

Sejak itulah aku jadi gak parno lagi sama bidang ekonomi. Terima kasih pak Tommy, sudah merubah pandanganku tentang bidang ekonomi. Ternyata ekonomi itu seksi juga. (tdk)***


 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *