Cahaya Temaram

Saat Menua

“Kenapa sih tadi malam. Kamu senyum-senyum sendiri?” Nay menyapaku yang sedang berusaha untuk tertidur.

“Oh itu, aku baru tau dari instagram kalau ulang tahunku sama Dita Von Teese deketan,”kataku sambil tetap menutup mataku.

“Bwahahaha ati-ati ngomongin dia di sini. Entar diceramahin loh” Geyu tiba-tiba muncul dari balik lingerie ala Dita yang tersimpan di lemari.

Aku pun nyengir, lalu mencoba membuka mata perlahan. “Udah gitu, kita sama-sama ada di angka kembar loh tahun ini, aku 33, dia 44. Jadi gokil aja,”

Aku lalu mengucek mata dan meninggikan posisi bantal. “Eh tau gak gaes, hari ini tuh melebihi ekspektasi aku loh. Kemarin aku sempat berpikir untuk melewati hari ini dengan selowwww, sunyiii, hanya ada aku, hati aku dan Allah. Aku ingin lebih banyak merenung,”

“Yup kamu bilang sudah tidak bergairah lagi merayakannya sejak 22,”kata Geyu.

Aku pun mendengus “Ya, bagiku hari ulang tahun saat dewasa seperti alarm yang bilang oi waktu kamu makin berkurang loh. Apalagi akhir-akhir ini aku sedang tidak nyaman dengan diri sendiri,”

“Jadi apa yang melebihi ekspektasi kamu?” Nay ikut berbaring di sebelahku.

“Hmm, entahlah sejak pukul 12 malam kemarin hingga detik ini banyak kehangatan yang aku rasakan, beberapa kecupan dan pelukan dari keluarga. Sapaan-sapaan dan canda dari sahabat melalui pesan pribadi dan juga keluarga besar lainnya. Bagiku semuanya begitu personal, berbeda dengan tahun sebelumnya. Mungkin ini yang membuat banyak orang begitu semangat merayakannya, karena ada banyak kehangatan dan perhatian saat sedang ulang tahun,”ujarku tersenyum.

“Padahal malam kemarin kamu menangis saat berdoa,” Nay menoleh padaku.

“Ya, aku merasa Allah baik, meskipun aku bukan orang baik. Aku berterima kasih padaNya. Sangat..,”kataku sambil menghela napas panjang. Kami pun terdiam sejenak.

“Kamu lihat dia?” aku mengarah pada perempuan yang sedang berlari di benakku.
“Kamu yang 13?” Nay menjawab.

“Iya, aku iri padanya. Kadang aku malu padanya. Aku merasa dia lebih hebat dari aku yang sekarang,”aku kembali menghela napas dan terdiam.

“Ada banyak hal memalukan dalam diri aku sekarang. Aku sering merasa takut, mudah berprasangka buruk, gampang menyerah,”

“Sial, kamu menua!” Geyu menyeringai.

“Dulu kamu sering mengejek perilaku para orang tua yang seperti itu. Dan sekarang kamu seperti mereka,”ujarnya lagi.

Aku pun tertawa. “Jangan-jangan aku terkena karma.”

Kulihat ke arah Geyu yang sedang menari ala Dita. Namun dia gagal. “Stop! Kamu menggelikan” kataku tertawa.

Gerakan Geyu malah semakin liar dan tentunya semakin gagal. Sampai akhirnya dia terpeleset dan jatuh ke lantai. Dia lalu menggerutu.

“Entahlah, aku kehilangan keberanian, tapi kamu tampak baik-baik saja. Bukannya kamu sumber keberanianku?” kataku pada Geyu.

“Yang pasti aku masih ingin belajar menari,” dia menjawab sambil memeriksa rambut dan make up nya yang berantakan.

“Hmm..baiklah, aku udah ngantuk nih. Kita tidur dulu gaes,” aku membetulkan kembali bantalku. Aku baru saja akan menutup mataku, sampai aku teringat akan Nay yang dari tadi terdiam.

“Selamat tidur Nay,”kataku sambil tersenyum ke arahnya.

“Selamat tidur sayang” Nay pun tersenyum lalu bangkit dan berbalik menuju ke dalam kotak tempat dia beristirahat.

Aku melihatnya pergi dari belakang. Tiba-tiba saja aku sadar, ada yang berbeda dari Nay. Dia terluka di sana sini. Oh Nay, dan kamu diam, kamu selalu diam saat terluka.

Nay dan Geyu kembali dalam kotak. Tinggal aku sendiri dengan mata menerawang ke arah atap kamar.

Ya, bukan ambisi yang hilang namun ketulusan. Ketulusan yang memberikan energi lebih banyak untuk lebih berani.

Kupejamkan mataku, menahan air mata yang mulai meleleh. Tapi akhirnya dia mengalir juga di sisi kedua mataku.

Maafkan aku Nay. Aku tidak tau harus berbuat apa, bingung dan gelap. (tdk)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *