Cahaya Temaram

Rindu

Malam ini mungkin menjadi puncak rinduku pada mereka, gadis-gadis kecil yang kutemui dua tahun lalu. Maaf jika harus kutuliskan ceritanya di sini. Bukan bermaksud riya, tapi aku benar-benar rindu mereka.

Gadis-gadis kecil itu aku temui di sebuah panti asuhan di Arcamanik, Bandung. Waktu itu, aku diajak teman kuliahku berbuka puasa bersama di panti tersebut.

Sebenarnya panti yang ada di Arcamanik itu khusus anak laki-laki. Tapi karena mereka ada acara lain, jadi yang menemani kami buka puasa adalah anak-anak perempuan yang sebenarnya tinggal di panti Kacapiring, Bandung.

Aku sempat berpikir bahwa yang lebih dibutuhkan anak-anak panti adalah biaya untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Itu yang sering aku lakukan sebelumnya pada panti lain, memberikan sumbangan lalu pulang. Tapi semuanya berubah saat bertemu gadis-gadis kecil itu.

Sejak awal bertemu, aku menyapa mereka dan mencoba untuk mengobrol. Awalnya mereka malu. Bahkan saat ditanya pun suaranya pelan sekali. Tapi aku tidak menyerah dan mencoba memancing mereka untuk lebih banyak berbicara. Aku belai kepalanya, dan berbicara dengan lebih sabar.

Semakin lama mereka semakin terbuka. Aku pun jadi bisa memeluk mereka. Aku pangku mereka bergantian bahkan dua sekaligus. Ya, bisa sekaligus. Karena berat tubuh anak-anak yang usianya berkisar antara 4-7 tahun itu sangat ringan. Tulang-tulang menyembul di punggung mereka, tangan-tangannya kurus. Kondisi itu saja sempat membuatku ingin meneteskan air mata, tapi aku tahan habis-habisan. Aku mau mereka merasa disayang, bukan dikasihani.

Ternyata mereka langsung menunjukan respon, bahkan lebih dari dugaanku. Saat mulai terbuka, mereka berebut untuk dipangku olehku atau sekedar dielus-elus. Bahkan saat kami akan shalat berjamaah, ada seorang anak perempuan yang menangis. Ketika ditanya kenapa menangis, dengan suara pelan dia mengatakan ingin shalat berjamaah bersebelahan denganku, tapi tidak bisa karena temannya sudah mendahului.

Dari situlah aku memahami, yang dibutuhkan anak-anak panti bukan hanya sekedar uang, tapi perhatian. Bukan karena pengurus panti tidak berusaha memberikan kasih sayang, tapi ya memang kemampuannya terbatas.

Saat aku bertanya pada ibu asuh, dia mengatakan hanya ada dia, suaminya dan satu orang ibu-ibu yang mengurus sekitar tiga puluhan anak di satu panti. Hmm kalau aku bayangkan, jangankan membelai dan memeluk, memasak untuk jatah puluhan anak setiap hari saja sudah sangat merepotkan. Belum lagi mereka harus memastikan kebersihan rumah, juga administrasi sekolah anak dan mengatur kebutuhannya.

Bertemu dengan mereka membuatku ingat betapa beruntungnya aku yang dibesarkan dengan orang tua lengkap. Aku mendapatkan perhatian eksklusif dari orang-orang sekitarku. Beda dengan anak panti yang “haus belaian dan perhatian”. Aku berpikir mungkin itu pula yang mempengaruhi tingkat percaya diri mereka. Makanya saat aku ajak ngobrol pertama kali, suara mereka sangat pelan dan ragu-ragu.

Sayangnya itu yang tidak banyak disadari banyak orang, termasuk aku. Kebanyakan para donatur hanya datang, memberi makanan atau uang lalu pergi. Jarang yang memberikan waktu untuk sekedar menemani mereka mengobrol, bermain, atau membacakan buku cerita secara rutin. Padahal bisa jadi itulah yang mereka butuhkan dan rindukan.

Ah tapi waktu memang “lebih mahal” dari uang. Aku pun demikian, rasanya sulit untuk bertemu dengan mereka lagi. Memang aku sekali-kali masih berkunjung ke panti Arcamanik. Tapi sudah tidak ada gadis-gadis kecil itu lagi karena sebenarnya panti yang di Arcamanik khusus anak laki-laki. Sementara anak perempuan ada di Kacapiring.

Sebenarnya aku yakin anak laki-laki juga sama sih membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Tapi tau sendiri kan anak laki kalau kurang perhatian, jatuhnya jadi tengil dan jahil banget. Alhasil aku bawaannya malah jadi pengen jewer mereka hahahahaha.

Duh apa mungkin ini karena ada ego juga dalam diri aku ya, yang ingin merasa dibutuhkan. Makanya aku lebih nyaman dengan anak perempuan yang lebih membuat iba. Padahal kan sama saja laki atau perempuan.

Itulah yang membuat aku berpikir untuk tetap mengunjungi panti asuhan di Arcamanik dan tidak pernah berkunjung ke Kacapiring. Aku takut jika kerinduanku hanyalah sebuah ego untuk merasa dibutuhkan. Tapi malam ini, aku sudah tidak bisa membendung lagi rasa rinduku.

Oh iya, aku juga percaya bahwa anak-anak panti inilah yang menjadi faktor X kenapa aku akhirnya bisa punya anak. Padahal sudah beberapa dokter yang memvonisku susah hamil. Sebab ibu panti mengatakan, mereka mendoakan aku setelah shalat tahajud berjamaah. Aku percaya kalau Allah akan mengabulkan doa anak-anak yatim.

Duh kalau dipikir-pikir, ternyata aku yang membutuhkan mereka ya daripada sebaliknya. Makasih banyak ya. Aku rindu kalian.(tdk)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *