Cahaya Temaram

Lelaki Bermata Bulat

“Dirgaaaaaaa”

Suara nyaring perempuan muda terdengar dari luar ruangan komunitas fotografi di sekolah. Decitan sepatu basket terdengar, menandakan pemiliknya berhenti mendadak setelah sebelumnya berlari cepat.

Tak lama kemudian wajah mungil yang dihiasi sepasang mata sipit muncul di balik pintu sekre. Dia menyapa lelaki muda yang duduk dalam ruangan sambil makan mie ayam. Lelaki tersebut bernama Dirga, teman sekolah yang menjadi sahabatnya sejak kelas 1 SMA.

“Oi, dipanggil diem aja” kata perempuan bernama Kinanti itu.

Sang pria tidak menoleh sedikit pun. Dia hanya diam sejenak, mengangkat kedua alisnya, lalu kembali mengangkat mie di depannya dengan menggunakan sumpit.

Seolah maklum dengan sikap sahabatnya tersebut, Kinanti malah tersenyum mendapatkan reaksi dingin Dirga. Dia lalu berjalan ke dalam ruangan sekre dan duduk di sebelah kiri temannya.

Ruangan tempat berkumpul komunitas fotografi itu berada di area belakang sekolah. Tempatnya memiliki luas 6 x 3 meter dan diisi dua bangku kayu panjang yang diletakan pada satu sisi. Di pojok ruangan, terdapat meja tempat menaruh berkas-berkas komunitas. Sementara dinding ruangan dipenuhi oleh foto-foto hasil karya anggota.

“Eh tau gak? Tadi malam aku ketemu cowo kece bangeeeet. Jadi yah pas acara pensi kemarin kan BrownSu main tuh, nontonlah aku bareng geng cewe di tengah lapangan. Setelah itu, giliran band ska main,” kata Kinanti.

Mata perempuan itu sejenak melirik Dirga. Belum ada reaksi dari temannya tersebut. Namun Kinanti tetap bersemangat melanjutkan ceritanya.

“Nah si band ska itu, awalnya main lambat. Eh tiba-tiba irama musiknya langsung cepet, trus cowo cowo sekitar pada skanking gitu. Brutal banget gila,”

Perempuan itu kembali melirik lawan bicaranya. Dirga masih menikmati mie ayam tanpa melihat sedikit pun pada Kinanti. Tapi Kinanti malah semakin bersemangat untuk bercerita.

“Nah pas lagi Brutal gitu, temen-temen cewe langsung panik dan mereka bubar dong. Sampai tiba-tiba aku kedorong sama cowo yang lagi skanking terus jatuh ke belakang. Dalam hati aku dah ngomong, mampus dah bisa keinjak-injak ini,”

Kinanti berhenti untuk mengambil napas dan meminum air mineral yang dibawa di tasnya. Melihat perempuan itu berhenti berbicara, Dirga yang tadinya membungkuk untuk makan pun mulai duduk tegak dan membuka mulutnya untuk menimpali pembicaraan Kinanti.

“Heit eit tunggu dulu, aku belum selesai!”kata perempuan itu.

Gerakan mulut Dirga pun terhenti. Dia lalu memiringkan bibir kanannya, memutar mata bulatnya ke arah yang sama, dan kembali membungkuk untuk memakan mie.

“Tapiiii, pas aku setengah jatuh gitu tiba-tiba ada cowok yang nangkep aku dong di belakang. Tau-tau aku udah ada di pelukan dia dan kita saling bertatap mata gitu. Aaaak! ” kata Kinanti.

Dirga mulai menghentikan kunyahaannya meskipun gumpalan mie masih tersisa di mulutnya. Dia berniat untuk mencoba kembali berbicara, namun gerakannya kalah gesit oleh Kinanti yang kembali bercerita.

“Tapi aku gak tau dia siapa, gelap banget soalnya. Aku cuman liat matanya belo terus ada wangi parfum aroma kayu gitu. Waktu aku berdiri terus liat ke belakang, dia dah ilang deh. Tapi kayaknya dia ngefans sama aku deh sampai siaga jagain aku di belakang,”

“Uhuk” tiba-tiba Dirga tersedak mie yang belum sempat dia kunyah. Kinanti yang sedang bersemangat cerita pun langsung berhenti dan melihat ke arah Dirga.

“Ya ampun bocaaaaah, makan mie aja keselek,”Kinanti tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Dirga.

Lelaki tersebut lalu menyimpan mangkok mie dan mengambil botol minuman yang dipegang Kinanti. Sisa air dalam botol mineral dia teguk habis untuk meredakan rasa pedas di tenggorokannya.

“Eh emang kamu gak datang ke pensi ya, ko aku gak….”

Ucapan Kinanti langsung terhenti. Dia tidak bisa menggerakkan kedua bibirnya karena dijepit oleh tangan Dirga. Perlakuan lelaki tersebut membuat bibirnya tertarik ke depann sekitar 3 cm.

Dirga pun mendekatkan tubuhnya ke arah Kinanti. Tercium aroma kayu dari tubuhnya. Sambil tetap mengunci bibir Kinanti, dia berkata dengan suara beratnya.

“Ba..wel”

Dirga melepaskan jepitan tangannya di bibir Kinanti. Dia lalu mengambil tasnya dan melangkah menuju pintu keluar.

“Dirgaaaa, ko kamu pulang gitu aja sih?” kata Kinanti dengan suara manja.

Mendengar protes dari temannya, Dirga yang sudah ada di depan pintu pun langsung berhenti dan berbalik.

“Kalau gak bisa pake sepatu cewe, pakai sneakers aja bodoh!”kata Dirga. Dia kembali berbalik dan berjalan ke luar ruangan.

“Apaan sih? Enak aja bilang bodoh,”Kinanti pun menggerutu. Keningnya berkerut dan bibirnya tetap dimonyongkan.

“Eh tar dulu. Sepatu cewe? Ko dia tau sih aku pake wedges? Itu kan baru pertama kali aku pake sepatu gituan, makanya kemarin gak bisa lari soalnya gak biasa. Trus aroma kayu…mata bulat….”

Tiba-tiba saja Kinanti tersadar. Dia pun langsung mengemas tasnya dan berlari mengikuti Dirga.

“Dirgaaaaaa” Kinanti kembali berteriak.

Namun Dirga tidak menghentikan langkahnya. Kinanti pun berlari hingga akhirnya bisa berjalan sejajar dengan pria tersebut.

“Dirga…” Kinanti berkata pelan sambil diam-diam melirik pria tersebut. Namun wajah Dirga tetap lurus, seolah tidak memperdulikan perempuan yang ada di sebelahnya.

Kinanti masih menyimak wajah Dirga. Ada rasa sesak yang timbul dari dadanya. Dia pun diam dan menunduk.

Hingga tiba-tiba ada jari-jari hangat meraih tangan Kinanti. Dirga menggenggam erat tangannya. Kinanti pun tersenyum. Ada aliran aneh yang menjalar ke pipinya. Namun dia beranikan diri untuk mengangkat kepala dan melirik ke arah Dirga.

Lelaki itu ternyata sedang memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun Kinanti tau kalau Dirga sedang berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah. Kinanti pun membalas genggaman erat Dirga. Mereka lalu berjalan bersama keluar gerbang sekolah. (tdk)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *