Cahaya Temaram

Perbincangan Antara Logika dan Keyakinan

‎”Baiklah, kalian boleh bicara” aku melirik pada Nay dan Geyu. Mereka seperti menahan napas saat terus menemaniku berjalan kaki dari wisma kantorku di dekat bundaran HI menuju Jalan Sudirman.
Geyu melirik Nay, seperti memberi kode untuk memulai percakapan terlebih dahulu. Melihat itu Nay tidak langsung berbicara. Dia melihatku sejenak dengan diam diam lalu memegang bahuku.
“Kamu sudah merasa lega?”ujarnya.
“Lumayan, tidak sesesak tadi. Ngomong-ngomong berjalan kaki di ruang terbuka bagus juga ya untuk menghilangkan energi negatif”kataku.
Nay tersenyum, lalu mengelus bahuku. “Well, wajar sih kalau kamu kesal saat dicurangi teman kerjamu,”ujarnya.
“Entahlah. Tadi aku marah, iya. Tapi kalau kupikir-pikir sekarang, dia juga korban dari sistem yang salah‎. Itulah sebabnya kemarin aku sempat berdebat dengan teman-teman lain soal sistem yang harus dirubah. Jangan melakukan pergerakan dengan berlandaskan kebencian pada satu orang. Eh aku malah dianggap aneh,”kataku panjang lebar.
“Bukannnya kamu memang aneh? Kamu kan INTJ” kata Geyu sambil tertawa.
“Sial”kataku.
“Menurutku itu karena cara berpikir kamu yang lebih jauh ke depan aja. Kamu sudah sampai Pondok Indah sementara yang lain baru sampai Jembatan Semanggi”Geyu menimpali.
“Yeah, dan aku dianggap aneh”kataku lagi.
“BTW kamu masih mau terus berjalan?” Nay bertanya.
Aku pun menyadari kalau sebentar lagi kami sudah sampai ke Gedung WTC. “Masih, aku masih merasa sesak,”kataku.
Kulihat orang-orang berjalan cepat di trotoar Jalan Sudirman. Waktu menunjukkan jam pulang kantor. Wajar jika jalanan dipenuhi manusia baik yang ada di trotoar maupun kendaraan. Andai tidak banyak polusi dari kendaraan sekitar, perjalanan ini akan lebih menyenangkan. Aku pun menyadari jika selama ini berjalan melawan arus.
“Kayaknya seru juga kalau kita jalan sampai Blok M. Terus mampir sebentar di toko buku buat beli novel,”kataku.
“Kamu yakin? Ough banyak debuuu. Kamu gak nyadar sesuatu‎? Liat tangan kamu,”kata Geyu.
Aku pun mengangkat kedua tanganku, ada banyak pola aneh di sana. “Sial‎, alergiku kumat,”ujarku.
“Jujur aku malu jika harus mengatakan pada orang lain kalau aku alergi debu. Itu membuatku seperti tuan putri manja,”kataku mendengus.
“Well  bukan keinginan kamu untuk alergi kan,”kata Nay mencoba menghiburku.
“Ah biar aku masukkan tanganku ke dalam saku baju saja. Semoga tidak semakin parah. Aku tidak ingin berhenti sekarang,”kataku.
“Oke, lagian lumayan juga berjalan kaki sekalian olah raga,” Nay tersenyum.
Kami pun berdiam sejenak karena waspada harus menyebrang. Pertigaan sangat padat oleh mobil, tak jarang di antara ‎mereka membunyikan klakson, membuat gaduh suasana jalanan.
“Kalau sudah begini aku jadi terlecut kembali berusaha untuk bisa berdiri di luar sistem. Aku tidak ingin terus berada dalam sistem yang membuat gairahku mati,”kataku melanjutkan.
“Nah itu masalahnya, kenapa kamu bisa berbeda pendapat dengan yang lain. Karena tujuan kamu berbeda. Teman-temanmu memiliki tujuan berada di ujung sistem hingga akhir, sementara kamu jauh lebih besar dari itu, tujuanmu berada di luar sistem. Itu yang menyebabkan kamu lebih objektif,”kata Geyu panjang lebar.
“Hmm bisa jadi..”kataku.
Dengan bersemangat Geyu pun melanjutkan teorinya.
“Itu seperti konsep ketuhanan serta surga dan neraka yang kita sering bincangkan selama ini. Manusia memiliki dua sisi, baik dan buruk. Mereka butuh arah. Tujuan yang tepat bisa membuat mereka menjadi baik, dan tatanan masyarakat pun relatif bisa berjalan tanpa gesekan,”kata Geyu. Dia berhenti sejenak untuk memasukkan permen kunyah ke dalam mulutnya.
“Masalahnya, jika tujuannya adalah sesuatu yang ada dalam sistem sekarang atau sebutlah jika tujuannya dunia semata, manusia cenderung mengeluarkan sisi negatifnya. Serakah, ingin berkuasa atas orang lain, mencapai tujuan dengan cara curang. Untuk itulah diciptakan konsep surga dan neraka bagi agama samawi atau bisa juga reinkarnasi pada agama Budha misalnya‎. Manusia harus memiliki tujuan di luar sistem, bahwa jika dia menjalani kehidupan yang baik di dunia, dia akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik setelah keluar dari sistem ini, begitu juga sebaliknya. Tujuan di luar sistem itulah yang bisa menekan sisi negatif manusia,”kata Geyu.
“Hmm..,”aku hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Geyu. Kulirik Nay yang berekspresi dengan datar. Aku tersenyum geli melihatnya. Aku hapal betul kalau Nay selalu menganggap agama terlalu sakral untuk dijelaskan secara logika.
“Nah, manusia butuh sesuatu yang disegani untuk menuruti sistem tersebut. Terciptalah konsep ketuhanan serta kitab suci yang menjelaskan tata cara untuk mencapai tujuan tersebut,”kata Geyu melanjutkan penjelasannya.
Geyu melirik Nay. Sepertinya Geyu menyadari kalau Nay mulai menunjukkan muka sebal. Dia pun merangkul Nay. “Dari situlah aku mempercayai bahwa tuhan itu ada. Karena saat aku membaca kitab suci, aku tidak percaya jika manusia sejenius apapun bisa membuatnya. Isinya begitu hebat dan jenius,”kata Geyu sambil melirik Nay.
Mendengar penjelasan Geyu yang terakhir, wajah Nay mulai bersahabat. Dia pun mulai menunjukkan senyumnya.
“Ya, banyak cara untuk mempercayai tuhan. Dan aku menghormati caramu untuk menemukannya. Tapi sebenarnya tuhan bisa dirasakan dari hati. Lagipula menurutku, keimanan paling sempurna itu bukan lagi atas dasar keinginan masuk surga atau takut masuk neraka, melainkan atas rasa syukur dan berterima kasih pada tuhan atas rahmatnya,” kata Nay.
“Ya itulah, makanya aku heran jika manusia mengatasnamakan agama untuk berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan pada orang lain. Itu seperti melenceng dari tujuan dasar mengapa agama itu ada,”ujar Geyu.
“Nah itulah…mengapa pemikiran seperti kalian harus disatukan. Kepercayaan dan logika. Agama membutuhkan ilmu, begitu juga sebaliknya,”kataku menengahi obrolan mereka.
Geyu dan Nay pun berpandangan. Mereka lalu mengangguk bersama.
“Gaes, sepertinya kita harus berhenti di sini deh. Aku bingung bagaimana caranya kita bisa berjalan menyebrangi jembatan Semanggi,”kataku.
“Iya yah, jembatan ini khusus untuk kendaraan. Tidak ada trotoar di sini,” Nay celingak celinguk mencari cara untuk menyebrangi jembatan Semanggi.
“Masa iya gak ada? Aneh juga. Tapi kalau tujuan kamu mau beli buku, di Plaza Semanggi juga kan ada toko buku,”kata Geyu sambil menunjuk mall di sebelah Jembatan Semanggi.
“Oh iya. Ya udah kita sudahi dulu saja jalan kaki kita sore ini.‎ Lagipula sudah magrib, kita shalat dulu,”kataku.
“Baiklah,”ujar mereka berbarengan.‎ (tdk)***
NB : Setelah sampai rumah, suami memberi tahu jika jembatan semanggi bisa disebrangi dengan naik jembatan busway dari depan Universitas Atma Jaya menuju Plaza Mandiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *