Cahaya Temaram

Berkubang Dalam Hasrat

Apa yang bisa membuatmu begitu berhasrat atau sering juga disebut passion? Kalau aku, menjadi wartawan adalah saat pertama kalinya aku merasakan hasrat yang begitu besar.
 
Ironisnya, kisahku bermula dari ketidakompetenan untuk menjadi wartawan. Aku bukan orang yang suka menulis sejak sekolah atau kuliah. Setidaknya aku tidak pernah mencobanya. Aku terlalu larut dalam cap anak pendiam nan kaku yang disematkan oleh orang-orang di sekitarku. Tak terasa hal itu mempengaruhi rasa percaya diriku untuk mencoba hal-hal yang kreatif termasuk menulis.
 
Sebelumnya, aku juga bukan orang yang menyimak berita. Oke, ini memalukan memang. Tapi aku akui sebelumnya hanya membaca koran pada kolom-kolom entertainment atau pengetahuan umum, bukan isu. Aku juga bukan orang yang kritis dalam sebuah organisasi. 
Hingga saat akhir SMA, intuisi menuntunku untuk bercita-cita menjadi wartawan. Alasannya sederhana, aku tidak ingin menjalani pekerjaan yang membosankan. Buatku wartawan adalah pekerjaan yang seru karena relatif pergi ke tempat berbeda, bertemu dengan orang yang berbeda, belajar hal baru, bahkan menjalani hal baru setiap hari. Itu saja alasannya. Namun hasrat menjadi wartawan tumbuh menjadi semakin besar. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mendaftarkan diri ke Fikom Unpad. 
Tapi hasrat itu langsung redup kembali. Berbagai hambatan membuatku terpaksa banting haluan ke Fakultas Pertanian.‎ Jauh banget ya jurusannya?
Bisa dikatakan, aku berhasil lulus kuliah dengan baik.‎ Bahkan aku mendapatkan IPK tertinggi di Fakultas Pertanian saat itu. Tapi dalam hatiku menjerit. Aku tetap ingin menjadi jurnalis, meskipun rasanya makin jauh untuk bisa ke sana. Bagaimana bisa perusahaan media menerima orang yang sama sekali tidak kompeten untuk pekerjaan itu.
Aku semakin tidak percaya diri. Ditambah lagi kondisi ekonomi keluarga yang menuntutku untuk cepat mencari pekerjaan. Aku melupakan passion, idealisme bekerja dan tetek bengek lainnya. Saat itu yang aku pikirkan adalah mencari pekerjaan agar tidak lagi membebani ibu yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga sejak ayah meninggal. Dua bulan wisuda, aku mendapatkan pekerjaan dengan upah yang lumayan buat standarku.
Satu tahun aku bekerja menjadi operator call centre perusahaan telekomunikasi terkemuka. Pekerjaanku memberikan informasi produk, menerima keluhan, atau memberikan bantuan pada konsumen melalui telepon. Maaf jika harus kukatakan itu adalah pekerjaan yang luar biasa gila! ‎Sebenarnya aku masih bisa menahan diri jika dimarahi karena konsumen yang protes tentang pelayanan. Tapi saat itu sistem call cantre memungkinkan banyak telepon iseng yang masuk. Mungkin mereka kesepian atau entah kenapa, yang pasti menyebalkan luar biasa.
Sudah bukan hal yang aneh jika ada caroliners (sebutan buat pekerja seperti aku waktu itu) yang menangis di lorong kantor. Yup aku pun pernah mengalaminya. ‎Tidak setiap hari mood kita baik dan bisa sabar melayani konsumen yang macam-macam kan? Tapi tetap saja kami harus melayani sebaik mungkin dengan ancaman sanksi jika ketahuan tidak ramah. Tak ayal, aku pun pernah keluar ruangan dan menangis saking kesalnya.
Awalnya aku bertahan karena upahnya lumayan. Sampai akhirnya aku pernah jatuh sakit. Aku merasa pusing dan demam. Ajaibnya saat meminta ijin pulang, team leaderku tidak mengijinkan. Tentu saja aku kaget karena aku sudah dalam kondisi hampir pingsan, tapi masih tidak diijinkan pulang. Aku terpaksa menangis karena benar-benar tidak sanggup lagi bekerja. Melihat itu, team leader akhirnya mengijinkan pulang.
Kenapa seperti itu? Awalnya tentu saja aku menyalahkan team leaderku. Tapi dipikir-pikir itu terjadi karena sistem yang gila. Tekanan target perusahaan sangat luar biasa yang membuat team leaderku tidak ingin ketinggalan poin. Target pula yang membuat team leaderku akhirnya kehilangan empati pada anak buah.
Pulang ke rumah, aku benar-benar tumbang. Badanku demam, kepala pusing dan lemas luar biasa. ‎Selama tiga hari, aku tidur terlentang  20 jam sehari. Coba kalau lagi sehat lalu tidur 20 jam, yang ada kepala kleyengan. Tapi waktu itu aku merasa sangat lemas hingga sulit bergerak.
Aku hanya membuka mata saat disodori makan atau minum oleh ibuku.‎ Itu pun benar-benar harus dipaksa dulu oleh ibu. Entah kenapa sulit bergerak bahkan hanya untuk mengunyah bubur atau menelan air putih. Ibuku begitu telaten memaksaku memberikan asupan bubur lima sampai enam kali sehari. Memang lebih sering, karena tak jarang aku hanya sanggup makan tiga sendok. “Ayo, biar sedikit yang penting masuk”begitu kata beliau.
‎Pada hari ketiga, ibu mengatakan akan membawaku ke rumah sakit jika besok tidak ada perkembangan. Aku pasrah saja. Sebenarnya bukan kebiasaan ibu untuk membawa anak sakit ke rumah sakit. Tapi mungkin waktu itu beliau melihat kondisiku mengkhawatirkan.
Untung besoknya aku mulai mengalami kemajuan. Aku mulai banyak meminum air putih dan ternyata itu membuatku lebih segar. Waktu tidurku pun berkurang. Tapi suaraku habis, mungkin radang tenggorokan.
Aku akhirnya memutuskan untuk meminta ijin tambahan pada team leaderku. Aku meminta tolong ibu untuk meneleponnya karena suaraku habis.‎ Lagi-lagi team leaderku sulit memberi ijin, dia bahkan memaksa berbicara denganku untuk membuktikan apakah aku benar-benar sakit. Setelah mendengar suaraku yang nyaris tidak terdengar, baru dia memberi ijin. Aku kecewa karena tidak dipercaya. Padahal aku selalu mencapai target dan tidak pernah bolos kerja sebelumnya.
“Ini gila, aku harus mencari pekerjaan lain”ujarku saat itu.
Ya, aku depresi dengan target, jenis pekerjaan, dan lingkungan yang penuh dengan tekanan. ‎Pekerjaan ini juga tidak bisa memberikan kepastian karena statusku pegawai out sourcing. Aku pun mulai memasukan lamaran ke perusahaan lain.
Ternyata ada ‎puluhan orang di kantor itu yang berpikir untuk mencari pekerjaan lagi. Sisanya, orang yang sebenarnya tidak nyaman tapi malas beranjak. Mungkin ada yang benar-benar menyukainya, tapi aku tidak tahu siapa hohoho.
Banyaknya pencari kerja yang lain itu membuatku akhirnya mendapatkan berbagai informasi lowongan pekerjaan. Sampai akhirnya temanku memberitahu kalau ada lowongan kerja di perusahaan media tertua di daerahku. ‎Temanku berkata kalau dia ingin mendaftar jadi periset karena kuliahnya di jurusan statistik. Tapi mataku tidak bisa lepas dari syarat menjadi wartawan di iklan lapangan pekerjaan itu.
Aku termangu, di sini tidak ada ketentuan bahwa aku harus bisa menulis atau lulusan fakultas komunikasi. Mereka menerima semua jurusan S1 manapun asalkan IPK memenuhi (kalau boleh sombong, aku tidak pernah melihat syarat IPK saat mencari pekerjaan karena pasti terpenuhi hahahaha–> lalu dikeplak sendal)‎.
Yup, perusahaan media itu memang tidak mencari seseorang yang sudah jadi. Mereka semacam ingin membentuk sendiri wartawannya, jadi lebih fokus mencari yang berpotensi lalu diasah dengan pelatihan selama setahun oleh perusahaan.
Aku lalu memasukan lamaran ke perusahaan media tersebut. Masih dengan rasa tidak percaya diri yang sama. Tapi ah tidak ada salahnya mencoba. Lagipula perusahaan ini ada di kota yang sama denganku tinggal saat itu. Jadi tidak terlalu menyulitkan saat menjalani proses seleksi di antara pekerjaan sebelumnya. Mungkin kalau perusahaannya ada di Jakarta, lain ceritanya.
Tapi ternyata prosesnya sangat panjang dan lama. Ada tujuh proses seleksi yang harus aku lewati. Pertama wawancara dengan SDM. Aku lulus, sementara temanku yang memberi tahu info pekerjaan ini justru tidak lulus. Namun akhirnya dia mendapatkan pekerjaan di sebuah bank.
Seleksi kedua adalah tes tulis Bahasa Indonesia, ketiga tes tulis Bahasa Inggris, keempat wawancara Bahasa Inggris. Tes yang berulang kali dalam waktu berdekatan sempat membuatku kesulitan karena harus tukar libur dengan teman kantor call centre. Untungnya ada teman-temanku yang bersedia. Oh iya, waktu libur saat menjadi caroliners tidak berdasarkan tanggal merah melainkan jadwal shift. Jadi kami bisa tukar libur dengan teman saat ada keperluan pada hari tertentu.
Empat seleksi awal aku lalui dan lulus. Seleksi ke lima adalah tes psikolog. Kerikil mulai menghadang saat pergi dari rumah untuk menjalani tes, aku kecelakaan motor. Aku terpelanting dan kepalaku terbentur jalan. Untungnya helm ku memenuhi SNI dan dikaitkan dengan benar, jadi aku baik-baik saja heuheuheu. Meskipun shock dan agak gak yakin sama otakku (apakah masih utuh atau sudah hancur jadi bubur sum sum), aku datang ke tempat tes tepat waktu dan berhasil lulus kembali.
Saat melihat hasil pengumuman di website, aku sempat berpikir ko masih banyak yang lulus ya. Masih sekitar 60 orang dari awalnya hampir seribu pelamar. Masa iya diterima semua 60 orang?‎ Aku lalu baca tes berikutnya ternyata focus grup discusion. Apaan tuh? Pikirku. Aku masih meraba-raba jenis tes macam apakah itu.
Ya ampun ternyata semacam diskusi. Rasa tidak percaya diriku muncul lagi, gimana aku bisa lulus kalau aku orangnya super pendiam dan suka berdebat.‎ Sebelum tes aku sempat berkunjung ke rumah omku yang akrab dengan berbagai perusahaan media. Dia bilang kalau perusahaan media yang aku lamar memiliki karakter berita yang positif (atau sebagian orang yang skpetis mengatakan tumpul hohoho, tapi aku lebih suka berpikir positif :).. ). Kalimat itu terngiang dan ternyata membantuku untuk lolos tes FGD.
Ternyata tesnya dibagi per kelompok. Grupku waktu itu ada tujuh orang. Kami diminta untuk menulis terlebih dahulu tentang satu tema. Kelompokku mendapatkan tema internet (waktu itu belum ada facebook, jadi internet belum seheboh seperti saat ini). Setelah itu kami berdiskusi tentang tema yang sama.
Bagiku berada di meja diskusi seperti di tengah kerumunan nyamuk‎. Teman Kelompokku saling berdebat satu sama lain. Ada yang terlalu bersemangat sampai memotong pembicaraan orang lain. Sementara aku masih saja terpaku. Aku tidak biasa berbicara dalam kelompok besar jika tidak diminta.
“Tia, ngomong! Kamu gak bakalan bisa lulus kalau diam terus”kata suara dalam otakku.
Aku masih diam, mendengar suara nyamuk. Aku coba lebih tenang dan fokus. Tunggu, tunggu kenapa mereka semua membicarakan tentang sisi negatif internet?”
“Maaf boleh saya berbicara‎?”kataku tiba-tiba menyela pembicaraan.
“Kamu gak usah minta ijin brengsek” suara dalam otakku kembali muncul.
Tapi suara nyamuk itu langsung berhenti. Mereka semua melihatku.‎ Melihat reaksi itu, aku langsung grogi. Kenapa mereka seperti terpesona dan berhenti gitu waktu aku berbicara hahaha. Tapi aku berusaha tenang dan melanjutkan kalimatku.
“Saya setuju pendapat teman-teman bahwa ada dampak‎ negatif dari internet, dan itu perlu kita waspadai. Tapi pertanyaannya, adakah teknologi yang tidak menimbulkan dampak negatif? Jika berbicara pornografi, jauh-jauh hari kita sudah menontonnya lewat ponsel (tiba-tiba aku teringat saat kepo mengotak ngatik ponsel sahabat lelakiku waktu kuliah dan menemukan video porno di sana hahahaha.Everything happen for a reason)‎”
Aku berhenti sejenak dan melihat beberapa ‎bapak-bapak di ruangan yang mesem mesem. Suasana ruangan masih hening. “Tapi apakah kita harus menyingkirkan ponsel? Tentu tidak, karena kita sangat membutuhkannya untuk berkomunikasi. Begitu juga dengan internet bla bla bla… Lalu kenapa kita sebagai media tidak mempromosikan sisi positifnya bla bla bla…. Terima kasih”. Lalu suara nyamuk pun berdengung kembali.
Oke, mudah buat orang di tahun ini buat mengatakan sisi positif internet. Tapi waktu itu internet masih di awang-awang buat sebagian masyarakat Indonesia. Paling akrab internet. digunakan fitur chatting yang itu tuh (hayo siapa yang suka chatting dengan orang gak dikenal? Hehehe…ASL please!). Penggunaan email juga masih menggunakan nama alay (oh itu aku ya).‎ Dan yang paling banyak dimunculkan dalam diskusi saat itu adalah internet merupakan penyebar pornografi. Udah itu aja. Sementara perdagangan elektronik (ecommerce), google map, gojek, pokemon dll, belum muncul ke permukaan karena penggunaan smartphone belum populer di Indonesia. Bahkan aku masih ditertawakan saat mengatakan bahwa internet bisa membantu kita dalam berbelanja (dan lihat sekarang, siapa yang tertawa paling akhir).
Lalu bagaimana dengan hasil tesnya? Nah itu. Pendapat itu adalah momen satu-satunya ‎aku berbicara. Momen kedua aku berbicara saat ditanya oleh salah satu penguji yang ingin tau lebih dalam tentang pendapatku. Setelah itu selesai. Aku keluar ruangan dengan gontai. “Bagaimana aku bisa lulus diskusi dengan hanya sekali berbicara dalam forum?” pikirku saat itu.
Tapi ternyata aku lulus. ‎Aku termasuk tiga orang yang lulus dalam kelompok tersebut. Ternyata tes ini memangkas lebih dari 2/3 pelamar. Hingga akhirnya hanya belasan orang tersisa untuk tes medis. Aku masih meraba-raba alasan kenapa aku lulus. Menyatakan sudut pandang yang berbeda mungkin? Entahlah, aku tidak berusaha memastikannya.
Saat general check up, aku sempat menyepelekannya. Aku pikir ini hanya tes basa basi. Semuanya pasti lulus. Tapi tes ini ternyata mengugurkan satu (atau dua, aku lupa) orang dan satu orang lainnya lulus dengan catatan.
Akhirnya aku mulai pelatihan di kelas selama tiga bulan. Lagi-lagi ada batu kerikil karena baru seminggu pelatihan aku kecelakaan motor lagi dan kali ini cukup parah. Aku terpaksa absen seminggu. Aku paksakan masuk pelatihan lagi meskipun belum pulih benar. Aku benar-benar takut kehilangan kesempatan.
Kecelakaan itu sempat membuatku trauma naik motor. Tapi aku tetap mencoba kembali naik motor meskipun tanganku bergetar saat pertama kali memulainya. Menjadi wartawan dengan menggunakan‎ angkutan umum adalah ide terburuk, pikirku saat itu.
Setelah di kelas selama tiga bulan, tibalah saatnya mulai ke lapangan. Untung sistemnya masih tendem dengan senior jadi masih ada kesempatan buat aku belajar. Karena meskipun sudah belajar di kelas, aku masih benar-benar bodoh dalam menulis.
Aku ingat tugas pertamaku adalah di pos kriminal alias kepolisian. Hari pertama liputan dan menulis berita aku dipanggil oleh asisten redaktur. Dia melihat tulisanku, dan menatap tajam ke wajahku. Mungkin dia ingin ‎mengatakan “What The F*cking H*ll is this??” tapi tidak tega karena  melihat wajahku yang waktu itu masih polos bin imut-imut. Akhirnya dia hanya menghela napas sambil ngomong,
“Kamu lagi tendem sama siapa sekarang?”tanya asisten redaktur tersebut.
“Pak ucup”kataku‎.
“Liat tulisannya besok”kata dia dengan ekspresi dingin.
“Iya pak”. Aku pun pamit mundur.
Tapi yah tapi aku waktu itu gak nyerah. Aku mulai membaca tulisan seniorku.‎ Aku banyak bertanya tidak hanya pada wartawan senior yang sekantor namun juga media lain. Sampai sebulan kemudian asred yang sama mengatakan “kamu belajar cepat ya”. Dari situ aku bisa bernapas sedikit lega.
Begitu juga saat senior tendemku yang lain memintaku membuat feature. Itu tulisan feature pertamaku. Aku lagi-lagi dipanggil, lalu dia berkata “tulisanmu‎ bikin aku ngantuk”. Aku hanya nyengir, lalu dia pun mulai mengajarkanku beberapa tipsnya.
Dipikir-pikir aku sangat bersyukur banget karena banyak dipertemukan senior-senior yang berbaik hati.‎ Lagian aku tuh gak bermasalah dengan didikan yang keras. Jadi mau dimarahin atau diomongin apa juga selama itu tujuannya mendidik aku mah malah semangat-semangat aja.‎ Menurut aku itu tuh salah satu bentuk perhatian yang perlu disukuri. Karena bisa aja kan dia malas kasih masukan dan edit langsung berita aku tanpa kasih masukan. Atau bisa jadi atasan hanya diam saja, tapi ternyata ngomongin di belakang. Nah ini yang paling malesin.
Tapi ternyata sepertinya aku memang ditakdirkan untuk terus merasa bodoh. Sebab saat mulai nyaman dan menguasai satu desk, a‎ku seringkali dipindahkan ke bidang lainnya. Tentunya bidang baru ini memiliki tantangan tersendiri.
Misalnya saja di desk kesehatan, tantangannya tidak ada wartawan media lain di Bandung yang khusus ngepos di sini. ‎Jadi aku seringkali harus membuat isu sendiri, kenalan dengan narasumber mulai dari nol sendiri. Awalnya bikin deg-degan karena tiap pagi harus mikir, bikin berita apa aku? Tapi lama-lama semuanya mengalir. Malah beritaku sering banget masuk halaman satu.
Baru saja tune in di desk ini, tiba-tiba aku dipindahkan jadi wartawan wilayah Cimahi. Tantangannya kalau dari segi luas wilayah sih kecil, cuman tiga kecamatan. Paling yang bikin capek adalah jaraknya yang cukup jauh dari rumahku. Tapi tantangan terbesar karena konsep halaman di mediaku yang sedang berubah, menyebabkan aku harus mengerjakan semua berita di satu halaman. Untungnya itu hanya tiga bulan, karena setelah itu aku mendapatkan partner. Di sini aku kembali dipertemukan dengan orang-orang baik. Teman media lain yang mengajari aku tentang perkotaan, juga asred dan redaktur yang banyak memberikan masukan.
Tapi yang paling mengejutkan saat aku ditugaskan di hiburan. Gak salah? Aku bener-bener gak tau musik, film, atau nulis yang bagus tentang semua itu. Aku bahkan bertanya sama asisten redakturku sebelumnya “kenapa aku dipindahkan? Gak puas sama kinerja aku?” hahaha. Dia pun menjawab, awalnya aku tidak ingin dilepas ke desk lain. Tapi redaktur hiburanlah yang memaksa agar aku pindah. Aku makin bingung. Tapi ya sudah, masa aku menolak tugas.
Akhirnya liputan hiburan juga yang terbit mingguan. Tulisan-tulisan edisi pertama aku berikan ke redaktur. Dia tidak berkata apa-apa. Saat terbit, aku baca tulisanku dan banyak dirombak. Temanku di Cimahi menghiburku kalau tulisanku bagus untuk orang yang baru pertama bertugas di hiburan. Aku pun dengan sedih bilang, kalau itu bukan lagi tulisanku yang sebenarnya.
Edisi kedua aku kirim ke redaktur melalui email. ‎Tapi redaktur malah memanggilku untuk berbicara langsung.
“Sebenarnya aku bisa saja memilih ms. X (teman senagkatanku) untuk jadi wartawan hiburan. Lebih mudah kan, udah bagus tulisannya” kata dia sambil melihat ke layar komputer. Temanku itu memang sudah piawai menulis artikel hiburan.
Aku pun terdiam lemas mendengarkan redakturku berbicara. Tiba-tiba saja aku merasa tidak berguna.
Dia lalu kembali berbicara. “Tapi aku tidak mau seperti itu. Aku tidak mau hanya satu wartawan di koran ini yang ahli di bidang hiburan. Aku ingin membentuk wartawan hiburan baru. Dan diantara teman seangkatan, saya lihat kamu yang paling cepat belajar. Jadi jangan kecewakan penilaian saya ya,”
Saya terkejut mendengarnya. Tapi ada adrenalin yang mengalir cepat dalam diriku. Tiba-tiba aku ingin banyak belajar lagi. Aku mulai menikmati bidang ini.
Begitu seterusnya aku berpindah-pindah dari satu bidang ke bidang lainnya. Mungkin yang paling sering di antara angkatan aku. Sebab, banyak diantara teman-teman yang spesialis hanya satu desk. Berbeda denganku yang sudah mencicipi semuanya kecuali desk luar negeri hohoho.
Lalu apakah aku sekarang jadi wartawan yang hebat? Enggak juga sih biasa aja. Hmm apa ya? Dulu sempat sih jadi juara lomba tulisan tingkat nasional. Tapi ya udah, setelah itu apa lagi ya? Perasaan standar-standar aja hehehe (ya terus ngapain bikin tulisan ini panjang lebar??? *dilemparbotolaquaramerame).
Tapiiiii, aku kasih tau sesuatu yah. Aku tuh gak pernah merasa lagi kerja loh saat jadi wartawan (kecuali kalau ngerjain tugas negara hehehe). Ya aku bertanggung jawab sih sama semua tulisan yang aku buat. Tapi gak tau yah, aku ko lebih ngerasa jadi wartawan itu kaya lagi berpetualang aja. Apalagi kalau dikasih kesempatan buat ngobrol-ngobrol khusus sama orang yang menginspirasi. Deuh, orang mah harus bayar mahal buat dapat kelas inspirasi dari orang sukses, lah aku mah bisa ngobrol-ngobrol panjang berdua, gratis lagi.‎
Kadang aku bertanya, ko bisa ya waktu kerja di kantor sebelumnya aku jatuh sakit sampai segitunya. Padahal kan cuman duduk di ruangan aja. Sementara pas jadi wartawan, aku kadang suka nekad nembus hujan demi berita. Tapi Alhamdulillah sehat. Dari situ aku simpulkan kalau stres juga berdampak buruk sama kesehatan fisik.
Emang sih, yang sedihnya saat jadi wartawan juga banyak. Apalagi kalau melihat kondisi media sekarang ko kaya gini ya. Misal, berita berita yang ada lebih banyak lip Service dari pejabat daripada investigasi lapangan. Berita-berita juga sama semua di tiap media. Kadang aku juga kecewa pada perusahaan yang tidak seidealis seharusnya. Tidak lupa juga kondisi media cetak yang was-was karena semakin tergeser media online. Gak bisa dipungkiri semuanya sempat bikin patah semangat. Sempat bikin kesenangan jadi wartawan menurun juga. Tapi aku selalu bilang sama diri sendiri “kamu kerja buat ngasih makan diri kamu pengalaman, pengetahuan, dan relasi. Jadi tetap positif thinking dan fokus bangun diri kamu sendiri”‎.
Apalagi setelah aku baca judul buku Rene Suhardono “Your Job is Not Your Carier”‎. Aku langsung mikir, bener juga ya. Mau kondisi sekitar aku kaya gimana juga, ya aku mah berusaha buat membangun diri sendiri aja. Soalnya siapa jamin kalau aku bakalan selamanya ada di sini?
Loh katanya jadi wartawan itu passion, ko bakalan beranjak? Iya, sampai saat ini aku masih bersemangat ko liputan. Tapi sebagai manusia aku memiliki rasa ingin lebih dari yang aku punya.‎ Ada rasa yang mengajakku untuk melangkah ke tangga selanjutnya.
Sejak dulu banyak orang yang menyarankan agar aku pindah ke media yang lebih besar. Itu tidak salah, tapi bukan itu yang aku inginkan. Jika harus melangkah, aku sudah tidak ingin lagi terikat dengan perusahaan apapun. Cukup pernikahan saja yang mengikatku hahaha.
Aku memiliki mimpi untuk bisa berdiri sendiri. Jadi saat aku memperkenalkan diri, aku bisa mengatakan “saya tia” bukan “saya tia dari media…”. Bersamaan dengan itu, aku mulai berani memunculkan hasrat yang sebelumnya terkubur lebih dalam daripada mimpiku menjadi wartawan.‎ Hasrat yang kemudian membuat hidupku bergairah di antara kelelahan di usia dewasa.
Tapi lagi-lagi aku bermimpi dengan lancang. Aku kembali berangkat dari ketidakkompetenan aku untuk mencapai mimpi itu. Bahkan bisa dibilang jalannya masih gelap.
Apakah aku akan kembali menjadi “bajingan yang beruntung”, atau mimpi ini akhirnya hanya akan jadi cerita bagi anak cucu nanti? Ah biarlah waktu yang membuktikan. Sekarang aku hanya ingin terus melangkah, karena bagiku diam terlalu lama berarti mati. (tdk)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *