Cahaya Temaram

Ko Bisa Sih Ada Ribuan Jenis Teh?

Berbeda dengan kopi, hingga saat ini teh masih dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Teh masih dikenal sebagai minuman murah dengan rasa dan jenis yang terbatas. Imej itu begitu melekat sehingga tak jarang ada konsumen yang protes saat tukang bakso memasang tarif Rp 1.000 untuk segelas teh tawar. “Teh aja ko bayar?”begitu kira-kira protesnya. Hayo siapa yang sempat ngomel kaya gitu? Hehehe.

Kenyataannya teh yang banyak dinikmati masyarakat Indonesia memang yang murahan karena kualitasnya rendah. Budaya kita juga jarang menjadikan teh sebagai minuman yang istimewa. Berbeda dengan Jepang yang memiliki tradisi upacara minum teh (ochakai) penuh khidmat. Begitu juga tradisi afternoon tea yang banyak dilakukan sosialita di Inggris. Sementara orang Cina jaman dulu ada yang hanya bisa menikmati minum teh paling sering sebulan sekali. Sebab mereka terbiasa mengkonsumsi teh kualitas tinggi yang harganya mahal.

Kalau boleh jujur, aku juga termasuk orang yang awalnya cuman tau teh itu palingan teh melati atau matcha yang sedang trend saat ini. Sampai akhirnya aku mencicipi teh yang lain dari aku konsumsi. Di situ aku baru ngeh kalau teh banyak macamnya.

Sejak itu aku mulai banyak baca tentang teh juga mengikuti pertemuan tea tasting. Makin ke sini ko makin ngerasa bodoh banget ya tentang teh. Karena ternyata jenis teh itu banyaaaakkkkk banget dan masing-masing memiliki keunggulan yang menarik. Tidak hanya rasa, teh juga kaya akan filosofi, sejarah, budaya dan seni. Bahkan teh Indonesia banyak juga yang memiliki kualitas tinggi dan diburu pecinta teh mancanegara. Sayangnya orang Indonesia sendiri gak banyak yang mengenalnya.

Daripada mencak menclok dapat ilmunya, akhirnya aku memutuskan ikut workshop pengetahuan dasar tentang teh. Di situ aku belajar, kenapa sih teh bisa banyak macamnya? Padahal kan yang namanya teh mah mau di India, Indonesia, Jepang, Cina dll species pohonnya cuman satu yaitu Camellia Sinensis. Terus kenapa? Katanya sih karena ini :

1) Varietasnya emang ada dua macam
Jadi klasifikasi dari Camellia Sinensis itu emang ada dua macam gaes, yaitu Sinensis dan Assamica (buat yang gak ngerti apa itu species dan varietas, coba buka buku biologinya ya hohoho).

Nah jenis Assamica ini umumnya tumbuh di daerah tropis seperti Indonesia. Tanamannya memiliki daun yang lebar, soalnya kan sinar mataharinya banyak jadi proses fotosintesisnya pun maksimal. Hal itulah yang menyebabkan teh jenis ini aroma dan rasanya cenderung kuat.

img_20161127_170048

Daun teh kering jenis Sinensis (kiri) dan Assamica (kanan).

Sementara varian lainnya yaitu Sinensis berasal dari daerah sub tropis seperti Cina, Taiwan dan Jepang. Daun tehnya biasanya kecil dan panjang. Aroma dan rasa tehnya pun lebih lembut.

 

Meskipun punya habitat masing-masing, tapi banyak ko yang membudidayakan varian teh tersebut tidak pada tempatnya. Misalnya di Indonesia, saat ini sudah ada yang membudidayakan teh Sinensis meskipun memerlukan perlakuan khusus.

2) Tempat ditanam
Nah ini yang barusan dibahas di paragraf terakhir. Meskipun tehnya sama, namun lokasi penanaman menentukan hasil teh itu seperti apa. Teh yang ditanam di kebun A, bisa berbeda dengan di Gunung B meskipun menggunakan bibit yang sama.

3) Proses Produksi
Saat ini terdapat berbagai macam pengolahan teh dan ini bisa sangat berpengaruh terhadap hasil akhir baik rasa, aroma, bentuk dan warna. Pembagian proses yang pertama yaitu jika dilihat dari oksidasinya. Di sini teh dibagi menjadi empat macam yaitu green tea, Black tea, oolong, dan white tea. Tapi penjelasannya mendingan terpisah aja kali ya di lain artikel. Biar gak kepanjangan.

Proses pemanasan daun teh setelah dipetik juga memengaruhi hasil akhir dari teh itu sendiri. Pada umumnya teh dipanaskan dengan metode pan fried atau menggunakan wajan di atas api. Namun di negara Jepang, penghentian proses oksidasi biasanya dilakukan dengan cara steam. Ada juga teh yang hanya dijemur di bawah terik matahari seperti white tea.

Jenis teh juga semakin bervariasi karena ada yang dicampur dengan bahan lain. Misalnya yang dicampur bunga seperti teh melati atau dicampur buah kiwi.

Teh ini tidak hanya dicampur dengan buah namun juga popcorn. Aku menemukannya di sebuah kedai teh di Jakarta Selatan.

Teh ini tidak hanya dicampur dengan buah namun juga popcorn. Aku menemukannya di sebuah kedai teh di Jakarta Selatan.

Nah itu dia poin-poin yang bisa membuat teh menjadi banyak banget jenisnya. Emang sih cuman tiga poin, tapi kalau dikawin silang, bisa menghasilkan ribuan jenis teh. Itulah sebabnya kita bisa menemukan teh yang cenderung manis, asam atau umami. Ada juga yang meninggalkan rasa pahit, atau hilang begitu saja setelah diminum. Jadi gimana? Sudah siap untuk berpetualang mencicipi berbagai macam teh? (tdk)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *