Cahaya Temaram

Tembok

Teung…sst..”
“Oi…oi….Iteung!”
“Iteung..sampai kapan kamu mau di sana?”
Suara Geyu ‎dan Nay bergantian menggangguku. Sebenarnya sudah dari kemarin mereka terus memanggil dari cahaya di atas sana.
Aku sedikit malas menanggapinya. “Aku pingin sendiri dulu”kataku dengan tatapan mata kosong. Aku masih betah di sini, dalam ruang hampa yang gelap. Dingin dan terapung.
“Kamu udah di sana tiga hari”bisik Nay.
“Dan hari ini kamu butuh berdiri, bangun dari tempat tidur nona bau” kata Geyu.
Aku diam saja. Malas menjawab. Tapi akhirnya terusik juga oleh mereka yang dari kemarin celingukan di sana.
“Aku lagi sakit kan” ujarku.
Geyu memutar bola matanya. Dia tau bukan‎ itu alasannya. Kami pun terdiam lama.
Hening.
“Harusnya sejak awal aku gak membuka tembok itu, ya kan?”kataku tiba-tiba. Masih dengan mata yang kosong.
Mereka pun terdiam, lalu salah tingkah.
“Tembok yang selalu aku bangun bertahun-tahun lamanya‎. Agar aku tidak terlalu larut dalam perasaan itu,”kataku. Mereka masih diam.
“Ada sebuah pintu di sana, dan entah kenapa aku membukanya waktu itu,”kataku lagi.
Nay menghela nafas. “Waktu itu kamu merasa aman. Kamu merasa situasinya sudah berubah dan gak bakalan terjadi apa-apa. Iya kan?”
“Tapi terjadi dan…” aku pun tidak bisa melanjutkan pembicaraan. Ada perasaan sesak menghampiri. Aku terpaksa menangis untuk meredakannya.
“Aku merasa brengsek…”ujarku kemudian.
“Oh Come on!” Geyu‎ nampak tidak sabar melihat sikapku. Dia tidak suka perasaan yang sentimentil.
Aku pun menyeka wajahku. Lalu mengambil napas panjang.‎ “Belum pernah aku berpikir untuk mengubah masa lalu. Tapi sekarang, kadang aku berpikir ingin melakukannya. Andai aku tidak pernah datang ke pertamuan itu”kataku.
“Yakin?” Geyu langsung menukasku. “Lemah!”ujarnya singkat, padat dan menukik.
Aku pun diam, lalu melihat Nay. Dia tersenyum lembut.
“Bukan itu yang kamu inginkan”kata dia sambil mengangkat kedua alisnya dan menggerakkan kedua bola matanya ke kanan atas.
Aku pun tertawa kecil dan bodoh. Aku ingat benar bahwa Nay sangat keras mela‎rangku untuk pergi ke sana dulu. Tapi aku mengabaikannya. Oh Nay…
“Ya tinggal tutup lagi pintunya. Ya kan?”kata Geyu.
“Pintu yang mana? Temboknya sudah retak lalu kini hancur”kataku.
“Oalah ya udah deh, kelar..!”Geyu menggaruk-garuk kepalanya.
Aku tertawa miris melihat wajah bodohnya. Lalu terdiam lagi. Tiba-tiba ada tangan yang terulur. Tangan Nay.
‎”Yuk…”kata Nay.
Aku bingung melihatnya.
“Ada banyak orang yang menyayangi kamu di sana. Kamu harus kuat demi mereka, apapun yang terjadi, apapun yang kamu rasakan, apapun yang membebanimu, selalu ingat untuk bersyukur karena ada mereka di sana,”kata dia.
Aku diam. “Meskipun aku brengsek?”
“Well… sepertinya mereka menerimamu apa adanya”kata Nay sambil mengangkat kedua bahunya.
Aku pun kembali tertawa kecil.
“Nay… memang aku bisa bertahan ya dengan kondisi kaya gini?”tanyaku.
“Kamu tidak akan tahu akhir sebuah cerita kalau tidak pernah membuka halaman selanjutnya sayang,”katanya lembut.
Aku pun tersenyum. Lalu menghela napas panjang dan meraih tangan Nay. (tdk)***‎

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *