Cahaya Temaram

Jika Aku Mati Besok

 

Matanya memerah dengan rambut kusut, dan langkah gontai. Lelaki itu berjalan menelusuri jalan batu kecil di tengah taman kota. Dia tampak tidak menikmati cahaya matahari yang mulai meredup di senja itu. Tatapanny kosong dan kakinya melangkah tanpa tujuan.

“Kamu tersesat tuan?” suara perempuan menyapanya. Dia duduk di sebuh bangku taman. Bisma tidak menoleh, dia hanya mengerlingkan matanya. Perempuan bergigi gingsul tersenyum manis padanya. Bisma terpaku sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.

“Kenapa tidak duduk dulu? Kamu kelihatan gak sehat” perempuan itu kembali menyapa.
Bisma merasa terusik dengn tawaran perempuan itu. Dia ingin segera pergi. Namun Bisma mengurungkan langkahnya saat kembali melirik perempuan yang masih tersenyum ramah itu. Ada perasaan lain yang membuat dia ingin tetap di situ.

Bisma lalu duduk di sebelah perempuan itu. Dia kembali menunggu perempun itu berbicara. Namun rupanya dia malah asik termenung sendiri.

“Pulang kerja?” Bisma bertanya pada perempuan yang menggunakan seragam PNS itu. Perempuan itu tidak menjawab, dia hanya tersenyum.

“Cuacanya bagus ya, mungkin itu yang menyebabkan kamu tidak tahan cepat cepat ingin ke taman tanpa ganti baju,”balas perempuan itu.

Spontan Bisma langsung melihat pakaian yang dia kenakan. Barulah dia tersadar masih menggunakan piyama. Seketika Bisma pun langsung salah tingkah, kaget bercampur malu. Dia pun kembali melihat wajah perempun itu yang sedang menahan tawa.

“Tunggu-tunggu, kamu enggak…kamu enggak…aku bukan pria yang terbiasa menggunakan piyama sebenarnya,”Bisma semakin salah tingkah. Muka pucatnya mulai memerah. Tawa perempuan itu pun meledak.

“Gak apa-apa, ko. Hanya saja aku teringat ayahku yang suka memakai piyama garis garis,” perempuan itu berkata sambil tetap tertawa.
Bisma menggaruk garuk kepalanya meskipun tidak gatal. Sial aku dianggap tua.

“Jadi ceritanya saya sudah tidak tidur tiga hari, lalu saya membuka majalah dan membaca kalau pakaian yang nyaman seperti piyama bisa membantu saya rileks, mengantuk dan tertidur,”Bisma berhenti sejenak, melirik wajah perempuan itu yang tampak menyimak apa yang dia ucapkan. Bisma pun kembali melanjutkan kalimatny.

“Saya lalu membuka lemari, memeriksa apakah ada piyama yang bisa saya pakai. Sialnya setelah saya pakai, barulah tersadar jika piyama ini merupakan kado dari mantan. Makin tidak bisa tidurlah saya jadinya,”

Tawa perempuan itu pun makin keras. Bisma akhirnya menyerah pada kekakuannya dan mulai tertawa kecil. Seketika pemadangan senja di taman pun mulai terasa indah.

“Memang kenapa kamu tidak bisa tidur?” perempuan itu bertanya. “Kalau boleh saya tahu?” dia pun melanjutkan pertanyaannya dengan nada sedikit ragu.

Bisma terdiam sejenak. Sebenarnya dia orang yang tertutup. Namun entah kenapa muncul rasa nyaman yang membuat dia tidak keberatan menceritakan masalahnya pada perempuan asing tersebut.

“Leukeumia. Stadium empat. Dokter bilang tinggal enam bulan lagi,”Bisma pun berkata singkat, matanya menerawang ke depan. Dia membayangkan suasana saat dokter memberikan vonis kepadanya tiga hari lalu. Itu sudah dokter ketiga yang dia kunjungi, dan hasil vonisnya sama dengan dokter sebelumnya.

Perasaan takut muncul pertama kali saat mengetahui kondisinya. Lama kelamaan rasa takut itu bercampur dengan sedih, lalu marah dan mempertanyakan mengapa dirinya yang harus mengalami penyakit itu. Rasa putus asa muncul dalam diri Bisma.

Namun perasaan itu berubah lagi, dia menjadi tak perduli. Dia seperti tidak ingin lagi melakukan apapun, berbicara dengan siapapun. Sepanjang hari dia menghabiskan waktunya dengan gelisah. Hingga akhirnya kakinya membawa dia melangkah ke taman itu.
“Kamu beruntung” perkataan perempuan itu memecah kesunyian.

Seketika Bisma menoleh. Jawaban perempuan itu sama sekali tidak dia sangka.

“Tidak semua orang tahu kapan dia mati. Tidak semua orang sempat mengucapkan perpisahan, atau sekedar berterima kasih pada orang-orang yang perduli pada kita. Tidak semua orang sempat untuk melakukan itu,”ujarnya.

Bisma pun termenung mendengar kata kata perempuan itu. Namun rasa terkejutnya belum sirna.

“Pernahkah kamu berpikir, kalau ini merupakan kesempatan kamu untuk menekan tombol jeda dalam hidup kamu? Coba pikirkan, apa saja yang kamu lewatkan karena terlalu sibuk dengan rutinitas kamu sehari-hari? Apakah kamu terlalu sibuk bekerja sehingga melupakan keluarga, atau kamu terlalu silau dengan orang di atasmu sehingga kamu lupa bersyukur akan hal hal baik yang kamu miliki. Berapa orang yang tersadar untuk bisa menekan tombol itu sebelum kematiannya? Berapa orang yang akhirnya menyesal karena terlalu larut dengan hal hal yang sebenarnya tidak esensial dalam kehidupan ini?”perempuan itu berkata dengan panjang lebar.

Mata Bisma semakin terbuka lebar saat dia mendengarakan perkataan perempuan itu. Percakapan ini sangat absurd. Namun apa yang dia katakan ada benarnya juga.

“Dan mungkin ini kesempatan kamu untuk melakukan sesuatu yang terpendam dalam diri kamu” kata perempuan itu lagi.

“Maksudnya? “ Bisma bertanya.

“Entahlah, seperti saat kita ikut marathon. Akan ada kekuatan lebih saat melihat garis finish di depan mata. Begitu juga dengan hidup. Jika kamu tahu saat terakhirmu, mungkin kamu memiliki keberanian untuk menyatakan cinta pada orang yang hanya bisa kamu lihat dari jauh misalnya?”perempuan itu berhenti sejenak. Mata kucingnya melirik Bisma dengan tatapan menggoda.

“Hahaha…”Bisma tertawa sambil menggarukkan kepalanya sekali lagi.

“Atau mungkin kamu ingin melakukan sesuatu yang lain. Seperti misalnya pergi ke tempat impian, tapi kamu selalu merasa uangmu tidak cukup karena banyaknya tagihan biaya masa depan, bayar cicilan rumah, tabungan pensiun, asuransi. Kamu membayar mahal untuk kenyamanan di masa depan, padahal kamu tidak tahu apakah akan sampai ke sana atau tidak. Ngomong-ngomong, Kamu punya tempat impian?”tanya perempuan itu.

“Himalaya. Mereka bilang itu tempat terindah di muka bumi, ” Mata Bisma mendadak bercahaya. Dia menghela napas panjang.

“Waktu, hal berharga yang sering manusia sia-siakan. Itu juga yang aku rasakan kemarin. Aku menangisi waktuku yang banyak terbuang percuma.”ujar Bisma.

“Iya, makanya kamu beruntung. Karena kamu memiliki waktu untuk memperbaikinya. Tidak semua orang mendapatkan kesempatan itu karena tidak semua orang mendapatkan peringatan kapan waktunya akan habis,”balas perempuan itu.

Suasana menjadi sunyi kembali. Tiba-tiba muncul pertanyaan dalam benak Bisma. Dia lalu melihat perempuan itu lagi. “Sekarang giliranku, jika kamu mati besok, apa yang kamu lakukan sore ini?” Bisma balik bertanya.

Perempuan itu nampak terkejut mendengar pertanyaan Bisma. Kena kamu, habis kamu sendiri ngomongnya aneh. Bisma serasa mendapatkan kesempatan membalasa perkataan `lancang` perempuan itu.

Perempuan itu terdiam sejenak. Dia menghela napas panjang.  Tak lama kemudian, dia mengangkat kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke sebuah gedung.

“Kamu liat gedung perkantoran itu? Di sana ada sebuah playgroup, temanku bekerja di sana. Dia teman lamaku. Tapi aku sudah lama tidak berbicara dengannya, kami bertengkar,”perempuan itu kembali terdiam sejenak.

“Aku selalu yakin kita bisa membicarakan masalah kita dengan baik, aku percaya dia cukup bijaksana. Tapi kami tidak melakukan itu. Hingga watu berlalu, aku merasa tidak mungkin lagi untuk bisa berbicara dengannya. Aku merasa pertemuan denganku hanya akan mengusik hari harinya yang sudah berjalan dengan baik. Tapi jika aku tau aku akan mati besok, mungkin aku akan memiliki keberanian untuk bertemu dengannya. Sekedar berbicara dengannya apapun yang akan terjadi, apapun tanggapan dia nanti. Mungkin aku akan berpikir lebih positif untuk bisa memiliki kekuatan melangkah ke tempatnya,”

Bisma menatap mata perempuan itu dalam. “Aku tidak tahu seberapa kompleks masalahmu. Tapi aku berharap kamu memiliki kesempatan untuk melakukan itu”

Perempuan itu terdiam sejenak, balas menatap dalam mata Bisma, lalu tersenyum tipis.

Warna kemerahan di langit semakin memudar dilahap gelap. Bisma merasa sudah saatnya dia pulang, sebelum semakin banyak orang yang menatap baju piyamanya dengan keheranan. “Kayaknya aku harus pulang, kamu masih lama?”

Perempuan itu kembali tersenyum. “Aku menunggu jemputan”

“Oh baiklah” Bisma berkata seolah dia tau siapa yang menjemput. Kekasihnya mungkin? Entahlah. Pikiran Bisma terlalu penuh dengan rencana apa yang akan dia lakukan dalam satu dua bulan ke depan. Kenapa jadi berubah gini ya perasaanku?

Bisma berdiri dan bersiap untuk pulang. Namun dia kembali berbalik ke arah perempuan itu. “Hey nona, setidaknya aku boleh tau namamu?”

Perempuan itu tersipu. “Kenanga” dia menjawab singkat.

“Terima kasih Kenanga. Aku berhutang budi padamu,” Bisma tersenyum lebar. Dia mendekatkan jari telunjuk dan tengahnya ke pelipis kanannya. Lalu mengacungkan tangannya seperti sedang hormat.

Bisma pun pulang ke apartemennya, bersiap untuk pulang ke Bandung. Tiba-tiba dia ingin bertemu dengan ayahnya yang tinggal sendiri setelah ibunya meninggal dunia dua tahun lalu. Sejak itu pula dia tidak berbicara dengan ayahnya. Memang ibunyalah yang selama ini selalu menjadi jembatan komunikasi antara Bisma dan ayahnya yang kaku.

Esok harinya pukul 06.00 pagi, Bisma sudah duduk di dalam taksi yang akan membawanya ke stasiun. Tak lupa dia membawa koran langganan untuk dibaca dalam perjalanan. Satu persatu dia buka lembaran koran tersebut. Hingga intuisinya menuntun dia untuk membaca berita di halaman 12. “Perempuan Berseragam PNS Tewas Tertabrak Minibus”. Mata Bisma terpaku menatap judul berita tersebut. Dia membaca berita itu lebih lanjut berita itu. Peristiwa itu terjadi saat korban hendak menyebrang jalan pukul 8 pagi, kemarin..Jasad perempuan itu terpelanting hingga ke depan taman..Perempuan itu diketahui bernama Kenanga….”

Bisma langsung menutup koran. Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat. Dia kembali membaca berita itu dengan seksama. Sampai tanpa terasa tangannya refleks meremas koran itu dan melemparnya ke sisi kursi yang lain.
Tatapan matanya menerawang jauh ke luar jendela, berusaha mengingat kembali pertemuan dengan Kenanga kemarin secara detail. Semuanya terasa sangat nyata.

Hingga akhirnya Taksi melewati taman tepat pertemuan itu. Tiba-tiba Bisma berbicara pada supir.

“Pak, bisa belok dulu sebentar ke gedung perkantoran itu, di sana ada play group. Berhenti dulu di sana ya pak,”kata Bisma. (tdk)***

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *