Cahaya Temaram

Malam ini Aku..

Dear Galaksi,
Sempat aku berpikir, rasa itu bisa dikendalikan. Hanyalah reaksi kimia yang bisa dibalikkan. Luka yang membuat pikiran itu‎.
Kini, luka juga yang menggoyahkan pikiran itu. Mungkin ini hukuman atas kesombonganku‎.
Kini, aku melupakan cara menghapus luka‎. Dan mulai berdamai hidup bersamanya.‎ Mulai memaafkan ketidaksempurnaan dalam diri ini.
‎Orang bilang gelisah adalah anugrah bagi penulis. Aku tidak tau apakah ini caraNya memberikan berkah padaku. Aku tidak tau. Aku hanya ingin terus berjalan, dengan rasa yang lebih positif. Bukan, bukan karena aku baik. Tapi pikiran negatif buatku terlalu berat untuk dipikul. Aku tidak sehebat itu.
Dear Galaksi,
Bayang Bayang penyesalan menghantuiku. Aku terlalu takut melukai orang lain. Bukan, bukan karena aku welas asih. Hanya saja tak sudi menanggung rasa bersalah.‎ Aku tidak setabah itu.
Namun yang terbaik dari semua ini adalah, aku mulai belajar untuk berani menerima diri sendiri, lengkap dengan kebodohannya‎, keegoisannya, dan kelemahannya. Tiba-tiba saja ada perasaan nyaman akan hal itu. Aku lelah bersembunyi dari diri sendiri.
Lagi lagi luka yang membentuk pemikiranku, juga usia. Sial, aku menua!
Dear Galaksi,
Malam ini aku gelisah, dan mulai terbunuh sepi. (tdk)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *