Cahaya Temaram

Sihir Tuan Bond Berwujud Jalur Suara

Perusahaan film Eon Productions pastilah memiliki sihir sehingga nyaris selalu sukses memproduksi 24 film James Bond dalam kurun waktu 55 tahun. Nyaris semua film-filmnya meraih kesuksesan meskipun telah dibintangi enam aktor yang berbeda, berbagai sutradara, serta pergantian trend Hollywood di lima dekade.
Menurutku salah satu sihir itu adalah semacam hipnotis yang selalu ditayangkan di lima menit pertama pemutaran film. Penonton yang datang kembali ke bioskop terlebih dahulu dibawa ke sebuah dimensi lain, sehingga mereka langsung merasakan atmosfer yang sama di setiap film James Bond dan tidak mempermasalahkan perbedaan yang ada. Pada akhirnya mereka bisa duduk manis sambil berkata “Selamat datang kembali Tuan Bond”.
Disadari atau tidak, semua film James Bond selalu memiliki pembuka serupa. Film dimulai dengan adegan menegangkan yang berkesan, lalu siluet James Bond pun muncul dalam sebuah lingkaran dan menembak penonton, tak lama kemudian terdengarlah pembuka jalur suara (soundtrack) James Bond terbaru yang rata rata diiringi ilustrasi grafis berbau sensual.
Trademark inilah yang menyebabkan peran soundtrack James Bond sangat penting dalam menunjang film. Soundtrack tidak ditempatkan di akhir atau awal cerita, bahkan tidak juga hanya muncul sebagian sebagai lagu pengiring di adegan tertetu seperti film film lainnya. Soundtrack film memiliki peran lebih penting yang bertugas menghipnotis penonton untuk bisa segera masuk menuju dimensi dunia James Bond. Itulah sebabnya soundtrack tersebut ditempatkan sebagai bagian dari film itu sendiri, diperdengarkan utuh, dan ditampilkan secara khusus di tengah cerita.
Peranan penting itu membuat segala hal yang berbau soundtrack film James Bond juga selalu menjadi perbincangan hangat setiap film terbarunya dirilis. Jajaran penyanyi dan pencipta lagu legendaris berlomba untuk menampilkan karya terbaik dalam proyek film ini. Mereka sadar betul bahwa ini bukan lagu biasa, melainkan ajang adu gengsi karena akan dibandingkan dengan soundtrack film James Bond lainnya.
Tidak hanya memiliki komposisi yang menawan, kebanyakan lagu James Bond juga berusaha memasukkan ciri khas yang sama dari film tersebut. Mungkin ini yang menjadi alasan mengapa lagu lagu itu seperti berada dalam satu album, meskipun sebenarnya dirilis dalam waktu yang berbeda.
Jadi inilah yang aku lakukan sepanjang pekan kemarin, mendengarkan seluruh soundtrack James Bond mulai dari pemutaran perdananya tahun 1962, sampai film yang terakhir tayang tahun 2015. Aku mendengarkannya secara acak, namun sekarang ingin menceritakan lagu lagu tersebut secara berurutan sejak film James Bond produksi Eon pertama kali dirilis.
Meskipun berniat mendengarkan secara acak, aku tetap menempatkan Theme Song James Bond 007 di urutan pertama. Soundtrack film pertama James Bond Dr. No ini seperti memiliki magis yang menyeret jiwaku untuk memulai petualangan baru di dimensi James Bond. Coba saja pejamkan matamu saat mendengarkannya, berani bertaruh kamu tidak akan memikirkan hal lain selain pria flamboyan nan tampan yang memegang pistol.
Berkat kelegendarisannya, lagu ini terus digunakan di film film James Bond berikutnya sebagai pengiring saat cerita selesai dan over credit film ditayangkan. Tentunya ini membuat Monty Norman sebagai penulisnya menjadi kaya raya karena terus menerus mendapatkan royalti sepanjang masa.
Pada film berikutnya, produser rupanya belum terpikirkan untuk menampilkan penyanyi. Hal itu terlihat dari Film kedua James Bond From Russia with Love yang masih menampilkan lagu tema sama, namun dirubah aransemennya,
Barulah pada film ketiga Goldfinger, penyanyi mulai memiliki peranan dalam memperkaya soundtrack film. Medengarkan lagu lagu soundtrack James Bond di era 60-an bagaikan surga bagiku. Semua lagu-lagunya menampilkan deretan musik dengan sentuhan orkestra yang glamor nan mahsyur. Sebut saja Shirley Bassey yang menyanyikan lagu legendaris “Goldfinger” (1964) dan “Thunderball” (1965) yang dinyanyikan secara apik oleh Tom Jones. Setelah sering kehilangan arah saat mendengarakan lagu lagu masa kini (hahaha), aku pun menyadari kalau jiwaku  lebih menemukan zona nyamannya saat mendengarkan lagu lagu di era ini.
You only live twice (1967) sedikit mengubah pikiranku tentang lagu lagu ballad yang bertempo sangat lambat. Jujur aku terlalu tidak sabaran untuk mendengarkan lagu lagu semacam itu. Namun lagu yang dinyanyikan pertama kalinya oleh Nancy Sinatra tersebut terlalu indah untuk dilewatkan. Aransemen awalnya langsung membuatku tersenyum, dan aku langsung jatuh cinta saat menyimak dua kalimat awal di lagu tersebut. “You only live twice, or so it seems. One life for yourself, and one for your dreams”.
Mungkin keindahan ini yang menyebabkan lagu tersebut beberapa kali dinyanyikan ulang di era berikutnya. Sebut saja penyanyi kesayangan generasi 90-an, Bjork, dan band Coldplay yang konsernya di masa kini selalu dipadati puluhan bahkan ratusan ribu penonton.
Pada soundtrack berikutnya, aku kembali mendengarkan vokal Shirley Bassey dalam “Diamonds Are Forever” dan kembali jatuh cinta. Meskipun tidak bisa dipungkiri lagu ini tidak bisa menyamai pesona “Goldfinger” yang dia nyanyikan sebelumnya.
Sebenarnya ada film On Her Majesty’s Secret Service sebelum Diamonds Are Forever, tapi aku tidak tahu alasannya mengapa soundtrack tersebut kembali berbentuk instrumen musik saja. Selain itu, filmnya pun dianggap kurang laris di pasaran dengan pemeran James Bond yang terlalu beraksen Australia. Mungkin sang produser sedang kehilangan arah saat merencanakan proyek film itu.
Kembali ke pembahasan tentang lagu. “Live and Let Die” yang digubah oleh Paul Mc Cartney sempat membuatku shock saat pertama kali mendengarnya. Aku mendengarkan lagu ini setelah Tom Jones menyelesaikan tugasnya menyanyikan “Thunderball”. Tiba-tiba imajinasiku tentang sosok necis nan tampan langsung buyar dan berubah menjadi jajaran pria berambut mop tops serta menggunakan kacamata bulat. “Apa ini? The Beatles?”
Bukan, bukan karena lagunya jelek. Tapi aku merasa Paul Mc Cartney tidak berusaha untuk memasukkan unsur James Bond dalam lagu ini. Lagu ini terlalu “The Beatles”. Alhasil aku merasa absurd saat mendengarnya bersamaan dengan lagu lagu James Bond lainnya, dan spontan menekan tombol “skip”… ooops (lirik kiri kanan, semoga tidak ada penggemar The Beatles yang membaca tulisan ini). Untungnya lagu berikutnya yang aku dengar adalah “Skyfall” dari Adele, sehingga jiwaku bisa kembali tertarik dalam dimensi James Bond. Barulah saat mendengarkan lagu “Live and Let Die” untuk kedua kalinya tanpa sountrack James Bond yang lain, aku bisa mengatakan “hmm bagus juga”.
Tapi sepertinya aku memang kurang bisa menikmati lagu lagu di era 70-an deh. Karena aku kembali kehilangan arah di lagu lagu berikutnya seperti “No Body Does it Better” – Carly Simon dan “The Man with Golden Gun” – Lulu. Ngomong-ngomong “No Body Does it better” adalah lagu tema James Bond pertama yang judulnya tidak sama dengan film (The Spy Who Loved Me).
Tapi eh tapi enggak gitu juga sih. Buktinya aku masih merasa enak enak aja tuh mendengarkan lagu-lagu 70-an lainnya seperti The Doors. Mungkin kebetulan aja kali yah jenis lagu soundtracknya kurang aku minati. Atau bisa jadi pendapat ibu aku benar, kalau tahun 70-an itu musisi yang menonjol lebih banyak berbentuk band. Sementara soundtrack James Bond yang aku sebutkan di atas dinyanyikan penyanyi solo.
Barulah saat Shirley Bassey menyanyikan soundtrack James Bond ketiga kalinya untuk film Moonraker, aku bisa kembali tersenyum dan menikmatinya. Walaupun kalau boleh jujur, lagunya kurang bisa memikat seperti dua soundtrack yang dia nyanyikan sebelumnya.
Lima detik setelah intro lagu “For Your Eyes Only” dimainkan, aku langsung bisa menebak kalau ini lagu era 80-an. Benar saja lagu ini dinyanykan Sheena Easton untuk film james Bond tahun 1981. Lagunya lumayan bisa aku nikmati jika dibandingkan soundtrack James Bond setelahnya “All Time High” yang dinyanyikan Rita Coolidge untuk film Octopussy.
Kejadian yang sama terulang lagi saat aku mendengarkan intro lagu “A View to Kill”. Rasanya seperti mengenal lagu ini, dan setelah Simon Le Bon menyanyikan dua kata pertama, aku langsung berteriak “Duran Duran!”.  Secara otomatis aku pun langsung berdiri dan menggerakkan tubuh menikmati hentakan lagu ini. Sepertinya ini juga merupakan lagu James bond kesukaan Aksam, anakku yang berumur delapan bulan. Sebab, dia yang sebelumnya sedang bermain, langsung diam dan tertegun sepanjang lagu ini diputar.
Nuansa pop disko ala 80-an kembali muncul dalam “The Living Daylights” yang dinyanyikan A-Ha. Barulah pada “License to Kill” dari penyanyi kesayangan aku Gladys Knight, nuansa R&B mulai muncul. Mungkin karena terbiasa mendegarkan lagu-lagu penyanyi hitam manis ini, telingaku langsung bisa menerimanya dengan mudah meskipun sebenarnya tidak terlalu istimewa.
Nuansa R&B semakin kental saat Tina Turner menyanyikan “Goden Eye”. Ini musik yang sangat mudah didengarkan dan langsung bisa aku nikmati begitu saja. Sebagian artikel di internet menganggap lirik lagu ini kurang berkelas untuk soundtrack film James Bond karena meggambarkan perempuan yang terlalu terobsesi pada pria. Tapi ayolah, memang ada ya perempuan yang tidak terobsesi saat berhadapan dengan pria setampan Pierce Brosnan? Hmm.. penulisnya pasti tidak suka pria.
Deretan lagu berikutnya seperti membawaku pulang kembali ke rumah. Orang mengatakan jika kita cenderung akan nyaman mendengarakan musik-musik yang trend saat masa remaja. Mungkin itulah yang menyebabkan aku terasa akrab saat mendengarkan petikan gitar country Sheryl Crow dalam “Tomorrow Never Dies” juga nuansa elektronic rock semi grunge dalam “The World is Not Enough” yang dinyanyikan Garbage. Begitu juga irama Techno dalam “Die Another Day” yang dinyanyikann Madonna. Menurutku mereka cukup bisa menampilkan nuansa James Bond tanpa meninggalkan ciri khasnya masing-masing.
Sampai pada abad 21, aku mecoba mengingat empat film James Bond yang dimainkan Daniel Craig. Aku menonton semuanya bahkan berulang kali karena pada akhirnya sering diputar di tv kabel, Tapi kenapa aku ko gak ingat ya kalau lagu tema film Casino Royal adalah “You Know My Name”. Aku coba dengarkan lagu tersebut, dan predikatnya lumayan sih. Itu aja.
Selanjutnya adalah “Another Way to Die” yang dinyanyikan sama Jack White dan Aicia Keys. Nah kalau ini baru aku ingat. Kalau menurut aku sih lagunya cukup bisa dinikmati ya, Alicia Keys dengan dentingan pianonya dan juga raungan gitar Jack White. Tapi entah kenapa lagu mereka banyak mendapatkan kritikan pedas karena kolaborasinya dianggap aneh. Tapi dipikir pikir ini merupakan lagu James Bond pertama yang penyanyinya berduet. Jadi gak ada salahnya lah kita kasih sedikit penghargaan pada mereka heuheu.
Adalah Adele dalam “Skyfall” yang bisa mengembalikan keglamoran lagu James Bond dengan iringan orkestra dan vokalnya yang berkharisma. Nuansa ini dipertahankan oleh Sam Smith saat menyanyikan “Writing’s on the Wall” untuk film Spectre. Entah ini karena memang selera aku aja atau lagunya memang keren, tapi aku lebih suka kalau lagu lagu James Bond bernunsa klasik yng kental seperti yang dinyanyikan dua musisi ini. Menurutku lagu lagu jenis ini lebih menggambarkan tokoh dan cerita Bond.
Dan sekarang, selesai sudah petualangan kita membahas lagu tema James Bond yang telah dirilis. Jadi mana lagu yang menjadi favorit?
Hmm.. aku sempat ketagihan memutar ulang lagu “Thunderball” dari Tom Jones sebanyak puluhan kali dalam satu waktu. Begitu juga “Writings on The Wall” dari Sam Smith yang kudengarkan dengan penghayatan. Aku pun nyaris memilih ‘Golden Eye” dari Tina Turner sebagai lagu yang paling kusuka. Meskipun demikian pada akhirnya aku tak kuasa menolak pesona Shirley Bassey yang begitu menawan menyanyikan “Goldfinger”. Instrumen musik klasik nan glamor serta vokalnya yang menggelegar langsung menarik perhatian saat pertama kali mendengarnya.
Aku mencoba mendengarkan lagu tersebut untuk kedua kalinya. Kupejamkan mata saat lagu akan dimulai sehingga bisa menikmati intronya lebih detail. Tiba-tiba saja aku terbawa suasana. Aku membuka mata, berdiri dan mulai mengetukkan kedua kakiku ke lantai secara bergantian, berputar keliling ruangan, sambil menyanyikan beberapa lirik yang kuingat. Aku benar-benar larut dalam lagu sampai kusadari ada mata lelaki yang terpaku mengamatiku sampai mulutnya mangap. Laki laki itu adalah Aksam, hahaha.
Semakin penasaran, aku pun membuka youtube dan mencari penampilan Bassey muda saat menyanyikan lagu tersebut secara langsung. Mataku nyaris tidak berkedip saat melihatnya. Dia terlihat begitu percaya diri, nyentrik dan sangat menikmati setiap detik penampilannya dalam panggung. Hal itu membuat penampilannya begitu seksi dan otentik.
Aku lalu melihat video saat penyanyi kelahiran 1937 itu menyanyikan lagu yang sama tahun 2011. Tidak seperti Tom Jones yang sudah ngos ngosan menyanyikan Thunderball di usia senior, penampilan Bassey masih sangat prima. Bahkan dia nampak lebih berwibawa dengan suaranya yang semakin berat. Mungkin itulah yang menyebabkan saat dia selesai menyanyikan nada terakhirnya, jiwaku seperti ingin meloncat keluar, berlutut, dan melakukan gerakan penyembahan sambil berkata “oooh My Goddess”. (tdk)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *