Cahaya Temaram

Pintu

Aku sering membayangkan jika dalam hidup, kita  dihadapkan banyak pintu. Secara naluri, manusia memiliki keinginan untuk masuk ke dalam pintu itu.
Saat kecil, pintu-pintu relatif terbuka dengan mudah. Bahkan pintu itu sudah terbuka sendiri sebelum aku berusaha untuk membukanya. Pintu itu adalah milik keluarga, yang senantiasa memberikan dukungan dalam perjalanan hidupku. Menyambut hangat aku yang akan pulang.
Namun saat aku mulai bersosialisasi dengan dunia luar, di sana lah aku mulai belajar, bahwa tidak semua pintu terbuka untuk kita. Bahkan untuk alasan yang tidak aku mengerti. Ada rasa tidak nyaman dalam diriku saat menghadapi situasi tersebut. Keadaan yang aku respon dengan semakin rendahnya percaya diri aku.
Awalnya, aku selalu berusaha untuk membukan setiap pintu yang tertutup. Ada yang dibuka dengan ketekunan, bujukan halus, bahkan dobrakan. Beberapa pintu itu akhirnya terbuka. Namun tidak semuanya, ada pintu yang tetap tertutup. Hal itu menimbulkan rasa kecewa dalam diriku. Namun aku memilih tetap berjalan.
Semakin dewasa, pintu yang tertutup ternyata semakin banyak. Perasaan kecewa semakin sering muncul dalam hatiku. Kondisi yang membuatku semakin tenggelam dalam rasa tidak percaya diri yang dalam.  Namun sebisa mungkin perasaan itu tidak aku ikuti dengan benci dan perasaan negatif lain. Buatku itu hanya menambah beban saja.
Hingga ada suatu masa saat aku terlalu lelah memikirkannya. Aku menjadi pesimis, putus asa, bersikap apatis dan tidak ingin berusaha lagi. Aku merasa diriku tidak berarti.
Sempat aku memutuskan seminimal mungkin mencoba untuk membuka pintu. Aku menjadi terlalu banyak perhitungan karena takut kecewa lagi. Aku menjadi orang yang rapuh dalam menerima penolakan. ‎Pintu kecil yang tertutup pun dengan mudah dapat mematahkan langkahku.
Saat itu aku ingin berhenti saja. Aku menjadi semakin lari dari apa yang harus kuhadapi. Ternyata sikapku malah membuat pintu yang tertutup semakin banyak. Dan aku semakin kecewa.
Namun aku tau ada sebagian kecil dari aku yang berpendapat lain. Sebenarnya dia terus berbicara mengingatkan, namun aku abaikan. Aku terlalu sibuk tenggelam dalam pikiranku sendiri.
Namun saat pintu semakin banyak tertutup, suasana menjadi lebih hening‎. Suara itu semakin keras. Dia adalah hati kecilku yang gemas melihat sikapku.
“Okeee, mari kita uraikan benangnya pelan-pelan”kata dia.
Aku yang sedang menyembunyikan kepalaku dalam bantal pun diam sambil menutup mata.‎ Tapi dia tetap melanjutkan.
“Benarkah semua pintu tertutup untuk kita?‎ “
Hmm aku coba mengingat kembali. Tidak juga sih, masih ada pintu yang terbuka, bahkan dengan senang hati.  Tapi aku terlalu sibuk memikirkan pintu yang tertutup.
“Apakah hanya aku yang sering menghadapi pintu tertutup?”
Hmm yaa sebenarnya tidak sih. Dari pengamatanku semuanya pernah menghadapinya. Bahkan orang yang terlahir keren sekalipun. Aku hanya tidak tahu saja apa yang mereka alami sesungguhnya.
“Jadi?‎
Jadi ya sebenarnya ini hal normal yang dihadapi semua orang sih. Aku lalu membuka bantal dan nyengir bodoh.
Namun jujur aku sering patah hati saat satu pintu tertutup, seolah-olah semua pintu lainnya pun demikian.
Lalu pikiranku pun bertanya, tapi kenapa mereka menutup pintu untukku? Aku begitu memperjuangkannya, begitu menghargainya. Memang ada pintu yang aku maklumi kenapa tidak terbuka. Namun sering pintu itu tertutup dengan alasan yang tidak aku mengerti.
Aku terus bertanya akan hal itu. Sampai akhirnya aku berkesimpulan tidak ada gunanya bertanya tentang hal di luar kendali aku. Karena seringkali penyebabnya tidak berkaitan dengan kita.
Aku pernah mendengar cerita teman satu kosan. Dia pernah membully temannya di satu sekolah. Namun dia sendiri yang bilang “sebenarnya aku gak tau alasannya sih kenapa sebel ma teman aku. Aku hanya gak suka aja saat melihatnya”. Hmm… dia aja gak ngerti alasannya, apalagi orang yang dibully ya.
Jadi sekarang aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkan mengapa begitu banyak pintu tertutup untukku. Aku menganggap itu adalah bagian yang akan dialami semua orang termasuk aku. Namun bila aku merinci alasannya bisa saja pintu tertututp karena :
Pemiliknya tidak melihat keuntungan untuk membuka pintu untukku. Tidak perlu menyalahkan hal ini, manusia terlahir dengan sifat egois. Kalau sifat alamiah manusia selalu memikirkan kebersamaan, tentu seorang ibu akan melahirkan jutaan anak (eh? Apa sih? Hehehe).
Kedua, pintu tertutup karena pemiliknya tidak selesai dengan dirinya sendiri. Dari sini aku melihat sebaiknya lupakan saja untuk masuk ke pintu ini kalau gak penting penting amat. Karena akan puyeng ke depannya.
‎Ketiga, pintu tertutup karena memang akan lebih baik jika tidak aku masuki. Well ini semacam takdir. Aku selalu percaya bahwa apa yang terjadi ada alasannya. Mungkin ini semacam jalur dari semesta untuk menunjukkan jalan tepat yang aku lewati.
Jadi‎ yang terpenting adalah bagaimana apa yang aku pikirkan dan lakukan. Aku harus berhenti merasa buruk, apalagi menyalahkan diri aku sendiri. Justru aku harus fokus sama apa yang bisa aku lakukan, karena dengannya aku bisa melakukan perubahan.
‎Aku harus lebih positif dalam memandang semua permasalahan. Kadang kita harus menggunakan logika untuk mengatasi rasa. Itu yang dilakukan oleh hati kecilku. Meskipun tidak semua rasa bisa diatasi dengan logika.
Selain itu, aku juga bertekad untuk lebih banyak membuka diri pada orang yang mengetuk pintuku. Mungkin ini semua pelajaran agar aku bisa lebih baik lagi sebagai manusia. Dan aku berharap tidak gagal dalam ujian kali ini.‎ (tdk)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *