Cahaya Temaram

Sepotong Cheese Cake

Ada sosok yang memperhatikanku dari kejauhan. Aku pun melihat ke arahnya. Seorang pria menggunakan seragam oranye. Aku langsung menebak bahwa dia tukang parkir di jajaran toko ini.
Pria itu nampak salah tingkah saat kutengok. Namun dia tidak berkata apa apa. Hanya mengangguk padaku sambil tersenyum.
Aku tertegun sejenak, bertanya pada diri sendiri tentang apa yang salah. Tak lama kemudian aku menyadari bahwa aku duduk di tempat dia biasa beristirahat.
“Oh, ini tempat bapak ya?” kataku salah tingkah. Namun aku masih tidak rela beranjak dari tempat itu. Aku masih ingin larut dalam lamunanku di tempat itu, di depan emperan sebuah toko.
 
“Gak papa neng” kata bapak itu sambil mengisyaratkan agar aku bisa tetap duduk di sana. Aku pun jadi merasa tidak enak. Tapi masih tidak ingin beranjak. Aku memang sedang menyebalkan. Entah berapa banyak pikiran mumet yang mampir di kepalaku saat itu. Perasan tak menentu yang membuat aku ingin sendirian dan melamun di pinggir jalan.
 
Aku melirik kembali tukang parkir itu. Mungkin dia merasa heran melihat gadis muda yang duduk di emperan toko sendirian. Semoga dia tidak berpikir macam macam. Tapi instingku mengatakan bapak itu orang yang baik.‎
“Duduk sini pak” kataku memaksa. Tukang parkir itu terlihat ragu, namun akhirnya duduk juga di sebelahku. Mungkin dia tidak enak jika menolak.
Aku coba tersenyum padanya. “Cheese cake di sini enak ya. Paling enak se Bandung”kataku.
Memang awalnya tujuanku mampir ke toko itu untuk membeli cheese cake. Entah kenapa ada perasaan lebih baik setiap menyantap kue itu. Meskipun selalu ada pertentangan batin jika mengingat angka timbangan yang bertambah.
Mendengar ‎ucapanku si bapak kembali tersenyum. “Saya belum pernah nyoba sih neng”
“Oh ya? Padahal bapak kan kerja di sini” kataku sambil tertawa kecil. Kami pun tertawa bersama.
 
Aku pun menebak, mungkin harganya memang terlalu mahal. Saat bulan tua, aku juga sering menghindari membeli kue itu sih.‎
 
“Memang bapak sudah berapa lama jadi tukang parkir di sini?”tanyaku lagi.
 
“Yah sekitar sepuluh tahun ya neng”kata dia kembali tersenyum ramah.
“Lama juga ya pak,”
 
“Iya ya neng” si bapak pun tertawa. Sepertinya dia baru menyadari waktu yang cepat berlalu.
Aku pun terdiam sejenak.  ‎Sebenarnya banyak pertanyaan yang tiba tiba mampir di kepalaku. Apakah dia tidak ingin mencari pekerjaan lain? Memang cukup ya uang dari tukang parkir? Bagaimana jika dia tua nanti, apakah tidak khawatir jika tidak sanggup lagi bekerja? Tidak khawatirkah dia akan masa depannya? Serta pertanyaan pertanyaan‎ lain yang aku urungkan karena menurutku sangat tidak sopan membicarakannya pada orang yang baru dikenal. Ah naluri wartawanku terlalu kuat menempel rupanya.
 
“Bapak punya anak?” tanyaku lagi.‎
 
“Alhamdulillah neng, ada dua”katanya lagi.‎
Aku pun menunggu si bapak untuk melancarkan pertanyaan padaku. Mungkin dia ingin bertanya, kenapa aku seperti gadis aneh yang melamun di emperan toko. Mengapa wajahku terlihat kusut. Mengapa aku terus terusan menghela napas seperti orang yang putus asa.‎ Atau mungkin saja dia ingin bertanya apakah aku sudah coba berobat ke dokter?
 
Lama berselang, namun dia tidak berkata apa apa. Mungkin si bapak ini terlalu baik untuk bertanya selancang itu.‎
“Lagi rame pemilu ya neng” tiba tiba si bapak memecah kesunyian.
“Iya pak, bapak milih siapa?”tanyaku lagi.
Si bapak pun tertawa. “Saya mah yang berpihak sama rakyat kecil aja”‎
“Iya ya pak”kataku tersenyum.‎
“Bentar ya neng” si bapak pun berdiri lalu berlari ke arah pintu masuk. Rupanya ada mobil yang akan parkir. Aku melihat gerakannya yang gesit. Padahal badannya cukup gempal. Dia nampak bersemangat menjalankan perannya. Tak lupa dia pun tersenyum pada pengendara mobil yang dia bantu. Meskipun pengendara mobil itu sama sekali tidak melihat wajahnya.
Dia lalu berlari ke arah yang lain. Rupanya ada mobil yang akan keluar parkir.
Ada perasaan positif saat melihat gerak gerik bapak itu. Aku merasakan keikhlasannya dalam bekerja. Meskipun upahnya mungkin tidak terlalu banyak. ‎Senyuman selalu dia lontarkan pada pengendara mobil yang parkir. Meskipun sebagian besar dari mereka tidak membalas bahkan mungkin tidak menyadari sapaannya.
Aku pun berdiri dan beranjak masuk ke dalam toko kue. Toko ini khusus menjual cheese cake, tidak menjual kue lainnya. Mungkin itulah sebabnya cheese cake yang dijual toko ini merupakan yang paling enak se Bandung.
‎Aku membeli dua potong kue, lalu beranjak kembali ke tempat bapak tukang parkir yang telah kembali duduk.
“Saya pergi ya pak. Ini buat anak bapak” kataku sambil menyerahkan sepotong cheese cake.
Si bapak parkir pun terkejut melihatku. Namun aku buru buru menyimpan kue itu di samping tempat duduknya sebelum dia menolaknya. Aku langsung berlari kecil menjauhi si bapak. Lalu berbalik lagi ke arahnya.
 
“Makasih ya pak” kataku ‎tersenyum sambil melihat ekspresi si bapak yang masih melongo. Aku kembali balik arah menuju motorku.
 
“Makasih ya neng” kata si bapak dari jauh. Aku kembali berbalik dan tersenyum ke arahnya.
 
Entah kenapa ada yang berbeda sejak pertemuan itu. Aku menjadi lebih bersemangat. Aku menyadari banyak orang yang menjalani hidup lebih sulit dariku. Namun mereka tetap ikhlas menjalaninya. Mungkin ini yang harus aku lakukan. Aku harus lebih banyak melihat, mendengar, dan merasakan keadaan di sekitarku. Dengan demikian, aku punya sejuta alasan untuk bersyukur.‎
 
Delapan tahun berlalu, aku kembali ke toko kue itu. Aku memang sudah lama tidak mampir ke sana karena tidak lagi berdomisili di Bandung. 
 
Aku sempat bertanya tanya apakah bapak itu masih jadi tukang parkir di sana. Tapi ternyata tukang parkirnya sudah ganti. Aku berharap itu karena dia sudah mendapatkan pekerjaan lebih baik. Semoga saja. Aamiin. (tdk)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *