Cahaya Temaram

Cerita Seekor Kera

Dia seorang profesor muda, tampan dan mudah bergaul. Tak jarang mahasiswi yang mengaguminya, bahkan terlalu serius hingga memiliki rasa spesial padanya. Bisa dikatakan dia seorang intelektual yang flamboyan.‎ Gosip pun beredar bahwa pria yang terikat pernikahan itu memiliki kekasih seorang mahasiswi.
Potensinya membuat dia sibuk dengan berbagai pekerjaan tambahan. Menjadi pembicara juga menulis di surat kabar. Kariernya melesat di usia yang relatif muda.‎
Namun semuanya berubah saat dia dinyatakan terlibat dalam kasus flagiat. Surat kabar ramai memberitakan kasus tersebut. ‎Kariernya di perguruan tinggi tempat dia bernaung terpaksa dia lepaskan. 
 
Ada kabar yang menyebutkan dia pindah ke luar negeri. Entah bagaimana dengan kehidupan pernikahannya, karena gosip yang beredar tulisan flagiat itu sebenarnya dibuat oleh kekasih mudanya. Sepertinya dia terlalu sibuk sehingga tidak memiliki waktu untuk membuat tulisan yang ia janjikan. Namun dia tetap berambisi untuk bisa menyelesaikan segalanya di mata orang lain. Jadilah dia meminta bantuan kekasihnya yang mahasiswa itu untuk membuat tulisan sekelas profesor.
 
Romo mengerutkan keningnya saat membaca tentang pria itu di surat kabar. Tentu saja berita yang ada di koran itu tidak disertai embel embel kekasih gelap. Namun saya yakin dia mendengar selentingan tentang profesor itu. Romo sudah lama mengenalnya.
 
Aku hanya diam menunggu dia membaca sambil menikmati udara di sekitar taman gereja. Sampai akhirnya dia melipat surat kabar yang dibaca. Aku masih tetap terdiam menunggu reaksinya. Terlalu segan buatku untuk mendahului ucapannya.‎
 
Romo pun menghela napas panjang. Dia sedikit merubah posisi duduknya. Aku berpikir kalau dia akan memberikan komentar mengenai kasus tersebut. Namun dia malah memberikan sebuah dongeng untukku.
 
“Di sebuah desa, hidup seorang kera. Setiap hari dia mencuri kue dari toples milik petani. Dia selalu berhasil mencuri satu kue ‎setiap harinya tanpa ketahuan”
 
“Sampai akhirnya dia merasa ingin lebih. Dia ingin tiga kue sekaligus. Akhirnya kera memasukkan tangannya ke dalam toples dan mengambil tiga kue sekaligus. Tapi gara gara itu, tangannya jadi terlalu besar untuk keluar dari toples. Kera kesulitan untuk kabur sampai akhirnya ditangkap petani,”kata Romo.
 
Aku resapi semua cerita Romo. Namun tetap menunggu dia untuk menyelesaikan ceritanya.‎
“Manusia seringkali serakah menginginkan semuanya sekaligus. Bahkan di luar batas kemampuannya. Di situlah sumber kecurangan itu terjadi” jawab Romo.‎
Aku mengangguk-angguk mendengar ceritanya. Saya pun melanjutkan pembicaraan tanpa menyinggung kisah profesor tersebut. Sampai akhirnya aku‎ pamit untuk pulang. 
 
Meskipun demikian, cerita itu tetap terngiang di kepalaku. Bahkan saat aku beranjak menuju keluar gereja. Tiba-tiba saja aku memikirkan hal lain dari yang Romo katakan.
 
Bukankah kera tersebut bisa mendapatkan tiga kue tanpa mengambilnya sekaligus? Dia bisa mengambilnya satu persatu sebanyak tiga kali kan? Selama dia tetap waspada, aku rasa tidak masalah dia lebih banyak menyediakan waktu lebih banyak untuk berdiri depan toples.
 
Kita bisa memiliki banyak keinginan. Namun kita harus lebih cerdik meraihnya. Kita juga harus bersedia mengorbankan waktu untuk mengambilnya. Jangan menjadi kera bodoh yang menginginkan banyak hal namun dilakukan dengan curang. 
 
Suara suara di kepalaku masih bermunculan.‎
Aku pun berbalik sejenak, melihat Romo yang kembali membaca koran. Lalu berbalik lagi menuju arah gerbang keluar.
 
Mungkin benakku masih belum paham yang kau katakan Romo. Tapi biarlah sekarang kita berbeda paham dulu. Romo dengan jalan pikirannya untuk menahan segala nafsu dunia. Dan aku dengan pikiranku untuk tetap berpetualang dan mencoba segala kemungkinan. Ah dasar jiwa muda.‎ (tdk)***

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *