Cahaya Temaram

Memori

 

Mana yang kamu pilih, kembali menjadi usia 10 tahun dengan segala pengetahuan yang kamu punya sekarang, atau langsung loncat ke umur 45 tahun dengan uang sebesar… (ah lupa angkanya pokoknya gede banget lah)?
Pertanyaan yang saya temukan secara random di instagram itu berhasil membuat pikiran saya menari nari membayangkan pilihan itu. Apa yang saya pilih? Tentu saja jawabannya yang pertama. Ya, saya bisa mendapatkan banyak kesempatan. Saya ingin belajar lebih banyak lagi saat kembali remaja. Ikut lebih banyak kegiatan di luar sekolah dan menjelajah lebih banyak tempat. Serta yang tidak kalah penting, saya tidak akan mendengarkan omongan orang lain yang dulu sempat membuat rasa percaya diri luntur.
Kalau balik lagi ke remaja, saya tidak‎ akan melewatkan kesempatan untuk mengikuti pertukaran pelajar saat SMA. Saat kuliah, saya akan lebih banyak memanfaatkan liburan panjang untuk menjelajah budaya nusantara. Saya juga ingin mengenal lebih banyak teman. Menurutku yang paling berharga dari masa remaja adalah dimana saat pertemanan bisa berada di atas segalanya bahkan pacar sekalipun.
Pacar? Tentu saja saya tidak lagi tertarik dengan lelaki ABG puber yang jerawatan. Malas rasanya jika harus bersingungan dengan pria galau yang belum tau jati dirinya. Biarlah pada bagian ini saya tetap dengan pengetahuan yang dimiliki sekarang hahaha.
Sementara pilihan kedua, sangat jauh dari pikiran saya. Entah naif, belagu,atau apalah itu, uang tidak pernah menarik hati saya sejak dulu. Meskipun ya kalau jujur, saya butuh uang juga sih. Tapi kalau dihadapkan pada pilihan lain, uang seringkali menjadi prioritas selanjutnya. Misalnya dalam pekerjaan, saya lebih memilih bekerja di bidang yang lebih memenuhi passion saya namun bergaji pas-pasan, dibandingkan dengan berpendapatan besar tapi membosankan. Begitu juga dengan memilih pasangan, saya malah agak fobia sama pria kaya raya apalagi turunan orang tua. Ough!
‎Lagipula sangat disayangkan kalau saya tiba-tiba berumur 45 tahun, itu berarti saya harus meloncati pengalaman 11 tahun dari sekarang. Meskipun saya tidak tahu apakah saat usia 45 tahun, akan memiliki uang sebanyak itu atau tidak. Namun bagiku pengalaman hidup adalah harta yang paling berharga. Jadi, pilihan pertama menurut saya jauh lebih baik.
‎Tapi itu adalah pemikiran awal saya…
Selanjutnya tiba-tiba saja segala memori di masa lalu melintas di pikiran saya. Segala hal tentang memori bersama keluarga, teman, dan orang-orang yang mampir dalam kehidupanku. Semua hal yang berhubungan dengan perasaan bahagia, terharu, sedih, bodoh, dan menyesakkan.
Memang tidak semuanya menyenangkan. Kadang saya tergoda untuk menghapus beberapa bagian dari memori itu. Tapi benarkah saya ingin menghapusnya? Saya bertanya sekali lagi pada diri sendiri.
Tidak. Saya tidak ingin menghapusnya. Saya pun berkata lantang dalam hati.
Karena memori itu yang menjadikan diri saya saat ini. Oke, saya yang sekarang memang tidak sempurna dan belum memiliki “prestasi” yang menonjol. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidup, saya mencintai ‎diri sendiri.
Saya mencintai diri saya yang menyadari banyak kelebihan juga kekurangan. Di usia ini,  saya mengetahui dan yang paling penting meyakini kelebihan yang saya miliki dan belajar memanfaatkannya. Buat saya ini penting karena sebelumnya seringkali tidak percaya diri. Di sisi lain, saya mencintai diri saya karena merima kekurangan diri sendiri dan belajar untuk mengendalikannya. Mengejutkan memang bahwa perasaan menerima kekurangan diri ternyata merupakan hal yang menyenangkan. Tapi itu merupakan hasil dari sebuah proses yang sangat panjang.
Saya juga mencintai diri saya yang telah menemukan arti hidup ini. Memang masih banyak pertanyaan, tapi setidaknya saya tidak segelisah yang dulu. Sekarang saya tahu apa yang menjadi bagian penting dalam hidup saya. Apa yang harus saya perjuangkan terlebih dahulu.
Saya juga mencintai diri saya yang lebih tahu apa yang harus dilakukan. Memang inilah yang membuat saya tergoda untuk kembali muda. Kenapa saya tidak mengetahuinya lebih dulu?
Tapi bagaimana kalau jawabannya memang karena dulu bukan waktu yang tepat? ‎Karena setelah 34 tahun, saya menemukan bahwa apa yang menjadi keinginanku, seringkali baru terwujud setelah menunggu saat yang tepat.
‎Lalu jika saya kembali menjadi remaja, meskipun masih dengan memori sekarang, akankah semua hal yang berarti itu hilang? Jika saya menjalani hidup yang berbeda saat remaja, bukan tidak mungkin saya akan bertemu dengan orang-orang yang berbeda dengan yang ada dalam memori saat ini. Apakah saya rela kehilangan itu semua?
Tidak. Saya tidak rela kehilangan semua memori itu.
Seperti yang sebelumnya saya bilang, pengalaman hidup saya sama sekali tidak sempurna. Memori yang saya miliki tidak semuanya manis. Namun memori inilah yang membuat saya mencintai diri sendiri seperti sekarang.
Jika saya kembali remaja seperti khayalan itu, memang katanya saya tidak akan kehilangan memori. Namun bukan tidak mungkin bukti nyata dari memori itu akan hilang karena saya menjalani hidup yang berbeda. Tanpa bukti yang nyata, akhirnya memori itu menjadi samar dan bercampur dengan ilusi.
Ah dari sini saya menyadari bahwa memori itu unik. Dia bisa menjadi kelemahan manusia karena melepaskan kesempatan untuk mendapatkan kesenangan lebih. Tapi di sisi lain, memori inilah yang justru membuat manusia untuk belajar lebih banyak lagi, lebih bijak lagi.
Dan pada akhirnya, tentu saja hidup di masa sekarang adalah pilihan yang terbaik. Hidup di usia yang sekarang dengan mensyukuri apa yang dimiliki saat ini, termasuk memori yang telah dilalui.
Dear Allah, terima kasih telah menjadikan aku yang saat ini.‎  Aku tidak pernah merasa sebaik ini sebelumnya. Aneh ya, padahal kehidupan saya sama sekali tidak sempurna. Tapi memori merubah banyak sekali pemikiran saya tentang segala hal yang dialami.
Jadi biarlah saya menjadi diri yang sekarang. Berusia 34 tahun, memiliki mimpi, dan masih bersemangat. Selamat 34! (Tdk)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *