Cahaya Temaram

Cerita di Balik “Aku Ingin Menciummu Sekali Saja”

Beberapa waktu lalu, aku menonton film “Aku Ingin Menciummu Sekali Saja” di Kineforum, sebuah bioskop komunitas di Taman Ismail marzuki. Dalam sinopsisnya, film ini menceritakan tentang remaja lelaki di Papua yang bertemu dengan perempuan dari pulau sebrang. Perempuan itu selalu terlihat murung dan membawa alkitab.
‎Sampai menit ke -30 menonton film itu, aku benar-benar dibuat puyeng. Keningku terus terusan berkerut sejak awal film itu diputar. Ya, aku kesulitan memahami film garapan Garin Nugroho tersebut. Film itu penuh dengan simbol kejadian di Papua dan ayat Alkitab. Dua hal yang tidak dekat denganku di kehidupan sehari-hari.
Aku jadi ingat dulu sempat membaca artikel yang memuat wawancara dengan Hanung Bramantyo. Sutradara yang menjadi murid Garin Nugroho itu mengatakan bahwa film-film gurunya memang rumit ‎dan tidak mudah dia mengerti. Wah seorang Hanung saja bilang rumit, apalagi aku yang penonton film biasa.
Jadi ya sudahlah aku tidak usah terlalu pusing apakah nantinya akan memahami film itu atau tidak, yang penting nonton sampai habis. Menurutku tidak meninggalkan bioskop sampai film habis adalah bentuk penghargaan pada pembuat karya tersebut.
Namun ternyata, kisah remaja dan perempuan itu hanyalah sebuah kulit dari film tersebut. Di dalamnya kita disuguhkan tentang ‎kondisi Papua yang mencekam pada tahun 2001. Ketua Presidium Dewan Papua Theys Hiyo Eluay dikabarkan diculik oleh aparat. Dalam film tersebut digambarkan kemarahan rakyat Papua atas kejadian itu. Konflik sosial pun terjadi antar rakyat Papua yang merasa bersebrangan. Eluay akhirnya ditemukan tewas di mobilnya .
Dari sini pikiranku mulai terhenti. Tahun 2001 aku baru masuk kuliah kan, dan aku sama sekali tidak menyadari ada kejadian seheboh ini di salah satu bagian Indonesia. Kemana saja aku?
Ya, aku memang pernah mendengar berita tentang kematian They. Tapi aku tidak menyangka jika situasinya seheboh dan seemosi ini di Papua. Entah kenapa dulu aku merasa peristiwa ini bukan bagian dari diriku. Kalau bahasa alaynya mah, feelingnya gak nyampe.
‎Dari sini aku mulai memahami yang tersirat dalam film ini. Sepertinya Garin memang ingin mengedepankan betapa kita, orang Indonesia yang tinggal di Jawa, terlampau egois untuk mengabaikan apa yang terjadi di pulau lain di nusantara. Kita, atau katakanlah saya, terlalu terlena untuk menganggap bahwa semua Indonesia adalah seperti Jawa dengan segala fasilitasnya, hedonismenya, dan roda ekonomi yang relatif mumpuni.
Tahun ini aku berkesempatan mengunjungi beberapa wilayah di luar Jawa. Aku pergi ke Balikpapan. Biaya hidup di sana mahalnya minta ampun, tapi kondisi infrastruktur kotanya seperti kabupaten yang relatif tertinggal di Jawa Barat.
Aku juga pernah menempuh perjalanan 7 jam dari Padang ke Solok Selatan yang meliuk-liuk‎ memutar gunung. Di sini aku bertemu dengan tikungan 180 derajat. Setiap pemilik kendaraan yang melewati jalur tersebut, harus memastikan tangki kendaraannya penuh karena tidak setiap sudut jalan bisa ditemukan pemukiman apalagi tukang jualan bensin.
Pada bulan Oktober, aku juga pergi ke Pulau Bangka. Saat menempuh perjalanan, temanku dengan semangat menceritakan tentang jembatan besar yang baru saja dibangun.  Tidak lama kemudian, seekor biawak melintas di jalan raya yang kami lewati. Sebelumnya aku tidak membayangkan bisa bertemu dengan biawak di jalan raya sebesar itu. Namun hal itu merupakan pemandangan yang wajar bagi masyarakat Bangka.
Aku jadi teringat saat ke Lombok untuk gathering bersama teman-teman wartawan ekonomi Jakarta tahun lalu. Ketika berjalan bersama melintasi sawah, tiga ekor kunang-kunang terlihat di balik tanaman padi. Aku yang rindu suasana sawah pun spontan berteriak “hey ada kunang-kunang”. Mendengar ucapanku, teman pria yang berusia 25-an pun menimpali “Oh jadi itu yang namanya kunang-kunang, kirain ada orang lagi selfie”. Duh anak Jakarta, boro-boro terbiasa liat biawak, kunang-kunang yang lewat aja disangkain ada orang selfie.
Minimnya fasilitas di luar pulau Jawa juga pernah dialami sepupuku yang menemani suaminya bekerja di daerah terpencil di Kalimantan. Suatu hari dia keguguran‎ dan harus menempuh waktu dua jam untuk sampai Puskesmas. Ternyata tidak ada dokter yang bertugas di Puskemas itu.  Akhirnya sepupuku dibawa paksa oleh tetangganya pergi ke dukun.
Aku tidak merasa pintar untuk berkomentar banyak tentang pemerataan pembangunan. Tapi setidaknya film ini telah memberikan sisi baru mengenai banyak hal. Film ini membuat aku mencoba untuk memahami apa yang dirasakan oleh saudara kita di luar jawa.
Tidak Berubah
Bulan lalu, aku seperti mengalami dejavu saat membaca konflik di Papua. Sekitar 1.300 orang dikabarkan ditawan di sebuah desa oleh sekelompok masyarakat Papua.
Membaca berita itu,  benakku langsung bertanya. Kok gak heboh ya? Memang sih beberapa koran dan televisi memberitakan konflik tersebut. Tapi aku merasa ko gak jadi sesuatu yang mendapatkan perhatian warganet. Gak ada trending topic atau debat kusir di medsos tentang masalah itu.
Coba kalau kejadiannya di Jakarta, slot tayangan TV dipastikan akan habis oleh siaran ‎langsung proses kejadian tersebut. Akan ada tagar #savejakarta. Polisi ganteng, penculik ganteng, atau tukang gorengan ganteng yang viral mungkin akan kembali terlahir dari peristiwa itu.
‎Saya mencoba untuk mengikuti perkembangan berita kejadian Papua tersebut. Saya berharap akan lebih banyak lagi bahan yang dibaca. Namun ternyata beritanya menghilang begitu saja saat aparat, yang diwawancarai di Jakarta, menyatakan bahwa konflik tersebut telah selesai. Kabar mengenai Papua pun tergantikan dan langsung tenggelam oleh berita tentang satu orang yang kepalanya benjol gara gara mobil fortunernya menabrak tiang listrik. (Tdk)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *