Cahaya Temaram

Gang Dolly di Akhir Masa

Sekitar 3,5 tahun lalu, aku ditugaskan kantor untuk membuat tulisan tentang Gang Dolly. Sebuah kawasan prostitusi  di Surabaya yang dulu sempat dikatakan merupakan yang terbesar se Asia Tenggara. Aku datang ke tempat itu sebulan sebelum ditutup oleh Wali Kota Surabaya, Risma.

Sebenarnya aku melakukan liputan ini tanpa persiapan khusus. Waktu itu, aku mengambil cuti tanpa tanggungan selama tiga bulan di Surabaya. Aku ingin menemani suamiku yang sedang dinas di kota pahlawan tersebut.

Beberapa hari sebelum cuti habis, atasan di redaksi tempat aku bekerja meneleponku. Dia mengajukan penawaran agar aku bisa lebih lama seminggu di Surabaya. Caranya dengan membuat tulisan tentang Gang Dolly.

Akupun  mengatakan iya. Bukan karena bersemangat untuk berada seminggu lagi di kota yang panasnya minta ampun tersebut, tapi aku tidak enak jika harus menolak tawaran dari atasan.

Langkah pertama yang aku lakukan adalah berusaha menghubungi wartawan Surabaya yang aku kenal (atau sok kenal). Aku mencari beberapa informasi mengenai narasumber dan cara melakukan peliputan di tempat itu. Dari perkenalan ke satu orang, aku bisa mendapatkan narasumber lainnya secara berantai.

Setelah mendapatkan sedikit informasi, aku mulai mendatangi tempat tersebut pagi hari. Memang terdengar konyol  mendatangi tempat prostitusi di pagi hari, karena pasti akan sepi. Namun aku tidak mau gegabah mendatangi tempat “tidak biasa” yang belum aku kenal sebelumnya. Selain itu, aku sengaja ingin  mengobrol dengan salah satu warga yang rumahnya berada tepat di sebelah Gang Dolly.

Aku sempat dibuat termangu ketika pertama kali menginjakkan kaki ke tempat itu. Gang Dolly jauh dari kesan mewah bahkan cenderung kumuh.  Sebuah gang sempit dengan panjang sekitar 150 meter dan lebar dua meter. Gang tersebut  dijejali rumah-rumah kecil yang sebagian besar memiliki dinding kaca di bagian depan.

Beberapa narasumber akhirnya berhasil aku wawancara.  Dari situ aku mengetahui bahwa gang dolly hanyalah sebuah ikon, karena sesungguhnya tempat prostitusi sudah menjamur dengan luas di sekitar gang tersebut.

Hampir 1500 pekerja seks komersial mencari nafkah di kawasan ini. Mereka sebagian besar datang dari luar daerah. Perempuan dari Indramayu dan Bandung sering menjadi primadona di tempat ini karena kemolekannya. Berita berita di koran menyebutkan adanya perbudakan para perempuan itu untuk bekerja sebagai PSK. Namun beberapa narasumberku menyebutkan bahwa ada di antara mereka yang bahkan diantar orang tuanya untuk bekerja di sana. Entah apa yang menjadi pemikiran orang tua tersebut, apakah mereka orang-orang polos yang dijebak, atau masyarakat putus asa karena kemiskinan.

Aku juga mengetahui dari narasumberku bahwa terdapat beberapa perbedaan antara PSK yang ada di Gang Dolly dengan gang-gang lainnya di sekitar kawasan tersebut. Pekerja seks komersial di Gang Dolly bisa dikatakan merupakan kualitas A karena dihuni oleh perempuan muda. Bahkan beberapa diantara mereka diduga ada yang berada di bawah umur. Namun pengurus warga setempat kesulitan mengidentifikasi umur PSK tersebut karena banyak yang dipalsukan oleh mucikari.

Sementara PSK yang berada di gang lain di sekitarnya cenderung lebih tua. Namun batasan tua bagi PSK datang lebih dini dari perempuan biasa. Usia 30 tahun biasanya merupakan masa dimana pamor mereka turun dan ditendang ke tempat lain. Meskipun demikian, tak jarang dari mereka masih menjalani profesi  yang sama higga berusia di atas 50 tahun.

Beberapa narasumber mengatakan bahwa sistem kerja PSK senior berbeda  dengan yang ada di Gang Dolly. Para PSK di Gang Dolly harus menginap di tempat yang disediakan oleh mucikari. Sementara PSK yang bekerja di luar Gang Dolly biasanya memiliki rumah sendiri. Mantan mucikari yang memiliki tempat di Gang Dolly mengatakan bahwa dulu dia tidak pernah memaksa PSK untuk bekerja setiap hari . “Kalau dia mau ya silahkan datang, kalau enggak ya sudah.  Dia kan sudah punya rumah sendiri, gak tinggal sama saya, jadi bebas kalau mau berhenti kapan saja,”ujarnya.

Namun tentu saja tidak mudah bagi mereka yang sudah terjerumus untuk keluar dari tempat itu. Meskipun sudah berniat insyaf, bukan hal gampang bagi seseorang dengan latar belakang PSK diterima di tengah masyarakat. Misalnya saja saat dia ingin berniat untuk menjadi pembantu rumah tangga, apakah nyonya rumah tersebut berkenan jika tau sebelumnya dia menjadi PSK? Penolakan dari masyarakat bahkan keluarga inilah yang membuat perempuan-perempuan itu akhirnya kembali ke tempat ini.

RW 1 Miliar

Aku mulai menggali cerita tentang tempat itu lebih dalam. Langkah selanjutnya adalah mencoba berbaur dengan masyarakat setempat. Seperti disebutkan sebelumnya, tempat prostitusi ini hidup berdampingan dengan masyarakat biasa yang tinggal di sekitarnya.

Sebelumnya aku sempat berpikir bahwa masyarakat yang kontra penutupan tentu terdiri dari para mucikari dan pekerja seks komersial yang terlibat langsung dalam bisnis tersebut. Sementara masyarakat lainnya cenderung ingin untuk menutup tempat tersebut. Bukankah setiap warga ingin agar lingkungan tempat tinggalnya jauh dari tempat prostitusi?

Namun ternyata masalahnya tidak sesederhana itu. Tempat hiburan  yang berdiri sejak abad 19 ini tidak hanya sekedar urusan antara mucikari, pekerja seks komersial, atau tamu, melainkan sudah membentuk sistem yang menjaring kehidupan masyarakat sekitarnya baik secara ekonomi maupun sosial. Meskipun tidak terlibat langsung dalam bisnis prostitusi, namun banyak masyarakat yang mencari celah ekonomi dari kehadiran tempat tersebut.

Saat tempat itu beroperasi, ratusan calo berkeliaran di sekitar  lokalisasi mulai di depan rumah border sampai tempat parkir. Mereka lah orang yang bertugas mencari tamu sekaligus melakukan negosiasi harga.

Di sisi lain, tempat yang sempit membuat para tamu tidak mungkin parkir sembarangan di depan rumah prostitusi. Masyarakat sekitar pun mulai memanfaatkan celah ini untuk menyediakan jasa tempat parkir. Biasanya tempat itu dibuka di pinggir rumah mereka yang memiliki pekarangan luas. Bahkan ada juga yang sengaja membangun tempat parkir lengkap dengan fasilitas wc umum berbayar.

Kegiatan prostitusi tersebut juga memancing masyarakat untuk menjadi pelaku usaha yang memasok kebutuhan di tempat tersebut mulai dari minuman keras sampai kebutuhan para PSK seperti ‎aksesoris wanita. Ada juga yang menjual jasa seperti asisten rumah tangga dan salon kecantikan.‎ Belum lagi penjual makanan baik saat tempat hiburan beroperasi maupun pagi harinya.

Kegiatan usaha yang ada di tempat tersebut bukan hanya dilakukan oleh penduduk asli setempat. Bahkan para pendatang pun sengaja merantau ke Surabaya untuk mencari peluang usaha di tempat tersebut.

Hubungan simbiosis mutualisme antara tempat hiburan dan masyarakat sekitarnya inilah yang menyebabkan tempat hiburan ini bisa bertahan lebih dari seratus tahun. Alih-alih dinilai sebagai pengganggu, kegiatan hiburan ini malah memberikan sumber penghasilan bagi masyarakat sekitar.

Belum lagi uang jatah preman yang diambil secara rutin oleh ‎pengurus RW setempat. Inilah yang menyebabkan posisi ketua RW begitu seksi dan banyak diminati. Bahkan warga setempat memiliki julukan “RW 1 miliar” pada jabatan tersebut.

“Kalau lagi pemilihan RW, ramainya bisa lebih dari pemilu legislative mbak. Pada bagi-bagi uang juga, abis bisa dapat banyak sih,”kata beberapa pemuda yang dengan semangat menceritakan padaku tentang dinamika menjadi warga di lingkungan tersebut.

Meskipun demikian, keuntungan yang direguk itu tentunya bukan tanpa konsekuensi.  Apalagi kawasan pemukiman rumah warga biasa bukan hanya berada di sebelah area prostitusi namun benar benar berada di dalam kawasan tersebut.

Bagi masyarakat umum, tentu bukan situasi yang lazim memiliki tetangga sebelah rumah yang merupakan tempat prostitusi. Bahkan tak jarang banyak tamu yang nyasar ke rumah warga biasa karena menyangkan itu tempat prostitusi. Oleh karena itulah para warga memberikan tanda berupa tulisan “rumah tangga” di depan rumahnya, Ini merupakan tanda bahwa tempat itu bukan tempat prostitusi.

Sebagai seorang ibu, aku tidak bisa membayangkan jika anakku yang masih balita sudah terbiasa melihat pemandangan perempuan dengan pakaian seronok atau orang-orang  mabuk berkeliaran di sekitar rumah. Belum lagi suara musik dangdut bervolume tinggi yang selalu diputar mulai dari sore sampai dini hari. Rumah hiburan tersebut memang menyediakan fasilitas karaoke bagi para tamu. Di sini aku benar-benar tidak bisa membayangkan jka sepanjang malam harus mendengarkan keriuhan dan music kencang. Ada hajatan di kampung sebelah dalam waktu sehari saja sudah membuatku senewen.

Namun inilah situasi yang diadapi warga sepanjang hari bahkan sejak mereka lahir. Aku mencoba untuk mencerna saat sekelompok remaja dengan polosnya bercerita padaku bahwa merekalah yang disuruh pak RW untuk mengumpulkan uang retribusi dari setiap tamu yang datang. Mereka bahkan seringkali harus mengetok pintu kamar rumah bordir untuk mengumpulkan retribusi tersebut.

Aku benar-benar termenung saat mendengar cerita mereka. Karena sebelumnya aku mengenal mereka sebagai pemuda pengurus masjid. Mereka dengan gigih juga mengajak anak-anak PSK untuk belajar mengaji di masjid tersebut secara gratis. Namun di malam hari, mereka menjadi kaki tangan RW yang mengambil keuntungan dari tempat prostitusi.

Aku juga mendengar cerita seorang bapak yang pernah mencari penghasilan dengan menyewakan jasa tempat parkir dan WC umum di sebelah rumahnya. Penghasilannya sangat mengiurkan. Tumbuh sejak kecil di lingkungan tempat prostitusi membuat dia Dia tidak merasa bahwa usahanya haram karena toh tidak terlibat langsng dengan prostitusi. Namun pikirannya berubah saat melihat dua anak  perempuannya tumbuh. “Saya takut anak saya kena penyakit karena menggunakan wc yang sama dengan para tamu,”kata dia.

Menelusuri tempat ini dan bersentuhan dengan orang-orang di dalamnya membuat aku kembali  diingatkan akan dunia abu-abu. Kita yang berada di luar lingkaran kawasan tersebut bisa dengan mudah mengatakan, mengapa mereka tidak insaf saja? Kenapa tidak cari pekerjaan halal saja? Kenapa mereka tidak pindah saja? Orang tua mana yang begitu bodoh membiarkan anaknya berada di sekitar tempat prostitusi?

Kita seringkali lupa bahwa apa yang didapatkan saat ini bukan hanya karena usaha, namun juga keberuntungan. Tidak semua orang lahir di tengah keluarga yang berada dan berpendidikan sehingga mampu melindungi anak-anaknya dari pilihan yang buruk. Tidak semua orang juga berada di keluarga yang utuh, bahkan lahir menjadi bayi yang diinginkan oleh orang tuanya. Tidak semua anak lahir di lingkungan yang memiliki budaya untuk menjaga kehormatan keluarga.

Kita seringkali lupa betapa beruntungnya kita sampai mudah menghakimi orang lain. Seringkali lupa bahwa ada kaum marjinal yang  perlu melakukan usaha jungkir balik hanya agar bisa  sejajar dengan tempat kita yang secara alamiah kita tempati sekarang.

Aku membayangkan para remaja masjid tersebut. Sejak lahir mereka berada di tengah rumah prostitusi. Mereka mungkin baru menyadari bahwa kehidupan mereka tidak normal saat sudah dewasa dan mengenal dunia luar. Atau mungkin saat calon mertuanya tiba-tiba  menolak lamarannya mentah-mentah saat tahu bahwa dia tinggal di kawasan Dolly. Padahal orang tua dan keluarga besarnya sudah datang beramai-ramai ke rumah kekasihnya. Setidaknya itulah yang dialami kakak dari salah seorang pemuda masjid tersebut.

Mereka juga mungkin tidak menyadari bahwa bersentuhan dengan prostitusi adalah sesuatu yang sangat menjijikan bagi sebagian orang. Untuk berada di sekitar kawasan itu saja adalah sesuatu yang tabu dilakukan, apalagi sampai mengetok kamar pria hidung belang yang sudah kebelet melampiaskan nafsunya.

Aku bertemu dengan warga-warga asli yang lahir di tempat itu dan tumbuh dewasa. Mereka mengaku pernah atau masih memilki usaha untuk memasok kebutuhan warga prostitusi. Namun mereka tetap setuju upaya Risma untuk menutup tempat tersebut.  Bahkan di antara mereka ada yang bersuara terlalu vokal sehingga sering mendapatkan ancaman dari pelaku usaha prostitusi. “Rejeki kami memang berkurang, tapi kami tetap ingin tinggal di lingkungan yang lebih bersih,” kata salah seorang warga.

Hari kedua, aku memutuskan untuk mendatangi tempat itu saat sedang beroperasi di malam hari. Aku berjalan meyusuri gang itu dibuntuti suamiku yang terpisah beberapa meter. Gang tersebut sangat ramai, namun bukan disesaki konsumen melainkan calo-calo. Aku melihat beberapa PSK yang duduk manis di sofa-sofa yang ada di dalam ruang. Sebagian dari mereka mengobrol, ada juga yang bernyanyi karaoke. Beberapa PSK berada di luar rumah prostitusi untuk membeli bakso yang sengajat lewat ke tempat tersebut.

Ini terasa ganjil, bukan seperti tempat prostitusi yang aku bayangkan. Mungkin ini karena pengaruh dari konsumen yang semakin sedikit sejak banyaknya operasi Satpol PP jelang penutupan tempat prostitusi. Namun aku merasa tidak ada gangguan apapun saat melintasi tempat tersebut.  Aku perempuan berjilbab yang berjalan sendirian melenggang seperti biasa, seperti melewati tetangga yang sedang ramai hajatan.

Mereka terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Mungkin terlalu gelisah dengan masa depan yang akan berubah. Tidak ada satupun mata atau perbuatan usil yang menggangguku. Mereka tidak perduli. Bayangkan jika yag terjadi adalah seorang PSK yang lewat di depan rumah orang “baik-baik”. Seberapa banyak yang akan melihat perempuan tersebut dengan pandangan yang menggangu atau  berkomentar negatif?

Liputan Gang Dolly di akhir masa ternyata tidak hanya menghasilkan beberapa tulisan untuk dimuat di koran tempatku bekerja. Pengalaman itu juga mengingatkanku untuk tidak mudah menghakimi orang lain, karena kita tidak mengalami apa yang mereka hadapi. Kita tidak pernah benar-benar tahu situasi yang mereka hadapi. Aku hanya bisa bersyukur karena ditempatkan oleh Allah tumbuh di tengah keluarga yang baik.

Aku percaya bahwa manusia selalu berada di area abu-abu, karena mereka terlalu lemah untuk menjadi hitam atau putih. (Tdk)***

 

NB : foto di atas adalah seorang mucikari dan pegawainya yang sedang membereskan ruang tamu sebelum tempat usahanya beroperasi di kawasan sekitar Gang Dolly. Aku sengaja mengaburkan wajahnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *