Cahaya Temaram

Mala Gemala ~ Teman Sebangku

Namaku Mala Gemala. Saat kecil, orang di sekitar mengenalku sebagai anak yang jarang berbicara. Tampil di depan publik jelas bukan hal yang aku nikmati. Seringkali aku terlalu malu untuk menyapa orang lain, juga tidak percaya diri jika mengajak teman baru berkenalan. Meskipun demikian, aku seorang pengamat dan pendengar yang baik.

Aku menghabiskan masa kecilku dengan berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya. Ayahku seorang pegawai negeri sipil yang sering mendapatkan tugas di kota yang berbeda. Akhir tahun 1992, aku mengikuti ayah yang ditugaskan kantornya untuk pindah ke sebuah kota kecil. Waktu itu aku kelas 4 SD, dan tahun ajaran telah memasuki caturwulan II. Meskipun tergolong waktu yang tanggung untuk menjadi murid baru, namun aku terpaksa pindah sekolah karena keputusan mutasi dari kantor ayahku pun sangat mendadak.

Ayah mengantarku saat pertama kali datang ke sekolah baru. Kami masuk ke ruang guru, lalu diantar ke dalam kelas. Akhirnya aku duduk sebangku dengan Vina yang kebetulan saat itu sama-sama merupakan siswa yang baru pindah sekolah.

Sepanjang kelas empat, tidak banyak yang aku lakukan selain beradaptasi dengan lingkungan baru. Aku juga harus menyesuaikan diri dengan teman-teman di tempat tersebut. Namun beberapa teman baruku sering meledekku, terutama karena aku memiliki rambut ikal dan kulit hitam.

Hal itu semakin membuatku enggan banyak berinteraksi dengan teman sekelas. Bahkan aku merasa Vina pada akhirnya menjadi bosan berteman denganku yang pendiam. Begitu juga dengan Dewandra, anak laki-laki yang duduk di bangku depanku. Selama kelas empat, aku hanya mengobrol dua kali dengannya. Itupun hanya obrolan sekilas yaitu meminjam penghapus atau menjawab pertanyaan dia yang menanyakan keberadaan Vina. Aku sama sekali tidak berani mengajaknya ngobrol duluan, hanya mengamatinya diam-diam.

Lambat laun aku senang mengamati segala hal tentang Dewandra, terutama sinar mata coklatnya yang menyala. Dewandra memang memiliki sosok seperti keturunan campuran kaukasian. Kulitnya jauh lebih putih dibandingkan teman lain, rambutnya kecoklatan, begitu juga matanya.

Aku merasa sinar matanya mencerminkan semangat dan keberanian. Dua hal yang bertolak belakang denganku. Bisa dikatakan Dewandra adalah sosok yang disegani oleh teman-teman di kelasku. Dia memiliki kharisma dan jiwa kepemimpinan yang alami.

Sampai akhirnya kami naik ke kelas lima dan memiliki wali kelas baru. Ternyata dia memiliki metode tersendiri dalam mengatur bangku sekolah. Dia lebih suka setiap meja dihuni oleh campuran siswa laki-laki dan perempuan. Menurut pandangannya, hal itu relatif bisa mengurangi siswa mengobrol saat pelajaran sedang berlangsung. Wali kelasku juga yang mengatur dengan siapa dan dimana kami harus duduk.

Satu persatu nama siswa disebutkan wali kelasku. Sampai akhirnya namaku dipanggil. Aku disuruh untuk duduk di bangku kedua dari depan. Tidak lama kemudian, wali kelasku mengumumkan bahwa teman sebangkuku adalah Dewandra.

Perasaan tidak menentu langsung menghampiriku. Aku jadi gugup. Namun aku berusaha untuk tetap tenang duduk di bangkuku. Sampai akhirnya peristiwa yang tidak kusangka datang menimpaku.

“Gak mau, aku gak mau duduk sama dia!” seorang anak laki-laki berteriak dari arah belakang.

Aku melihat dengan cepat ke arahnya. Dewandra tiba-tiba sudah muncul di sampingku. Belum selesai aku terkejut, tiba-tiba tubuhku nyaris terpental dari bangkuku. Dia menendang kuat bangkuku entah berapa kali.

“Aku gak mau duduk sama dia” Dewandra kembali berteriak sambil terus menendang bangku yang aku duduki.

Aku yang terkejut tidak bisa berkata apa-apa. Rasanya ingin menangis karena malu, tapi aku tahan. Bukan kebiasaanku menangis di depan orang lain. Aku hanya berusaha agar tidak terpental, karena tendangannya membuat tempat yang aku duduki bergeser hingga nyaris menabrak bangku di meja sebelah.

Melihat kejadian itu, wali kelas langsung menegur Dewandra. Dia pun akhirnya diam dan duduk di kursi yang ada di sebelahku. Aku tidak berani mengangkat kepalaku. Aku tahu seluruh kelas memperhatikan kami. Ini sangat memalukan. Aku mencoba mengingat apa yang pernah kulakukan sehingga dia seperti membenciku. Sepertinya aku tidak pernah menyakitinya. Bahkan mengobrol dengannya pun sangat jarang.

Apa karena aku jelek? Apa karena aku hitam dan keriting sehingga dia malas duduk dekat aku? Pikiranku terus bertanya-tanya. Peristiwa itu membuatku sangat sedih.

Setelah kejadian itu, aku sama sekali tidak ingin mengobrol dengan Dewandra. Melihat ke arahnya pun tidak mau. Ada perasaan trauma dengan perlakuannya. Aku tidak ingin membuat masalah apapun dengannya sehingga dia bisa mempermalukanku lagi di muka umum. Sehari-hari, aku hanya fokus ke depan kelas dan buku tulisku. Dalam kasusku, metode wali kelasku benar-benar berhasil membuat teman sebangku menjadi tidak mengobrol selama pelajaran berlangsung.

Aksi perang dingin di antara kami berlangsung sampai pertengahan kelas lima. Kami sama sekali tidak menjadi teman yang akrab meskipun setiap hari duduk bersebelahan. Aku masih tidak sudi memandang wajahnya, apalagi mengobrol. Sampai akhirnya suatu hari, kami sedang melewati jam istirahat. Aku pergi ke tolilet yang ada di dekat kelas sendirian. Sebelum masuk ke toilet, aku melihat teman sekelasku Candra melintas di dekatku. Aku melihat ekspresi ganjil di wajahnya. Bibirnya yang menempel di dekat pipi bulatnya, menyunggingkan senyuman miring. Bahunya yang besar bergoncang seperti menahan tawa. Melihat itu, perasaanku menjadi tidak enak karena selama ini aku mengenal Candra sebagai anak yang paling sering mengejekku. Namun aku tetap masuk ke dalam toilet.

Setelah selesai, aku membuka kunci pintu toilet. Aku terkejut karena pintunya tetap tidak bisa terbuka. Ada yang menguncinya dari luar. Ya tuhan.

Aku mencoba untuk menggedor-gedor pintu. Semakin lama, aku semakin kencang memukul pintu. Aku pun berteriak meminta orang di luar untuk membuka pintu, tapi tidak ada yang menyahutnya.

Di saat itulah aku melihat ke atap kamar mandi. Aku melihat ada lekukan seperti tubuh manusia di atas sana. Menurut rumor yang beredar di kalangan siswa di sekolahku, lekukan itu merupakan mayat yang dibunuh seseorang. Aku sama sekali tidak mempercayai cerita itu. Namun terkurung dalam kurun waktu lama di kamar mandi ternyata mampu merubah pikiranku tentang lekukan di atap itu. Perasaan takut memenuhi benakku. Aku pun semakin brutal menggedor pintu kamar mandi sambil menangis.

Sampai akhirnya ada suara yang aku kenal di luar kamar mandi. Dia adalah Malika, teman sekelas yang paling dekat denganku.

“Siapa ya?”kata Malika dengan suara bergetar. Sepertinya dia ketakutan karena tiba-tiba mendengar suara perempuan menangis dari dalam kamar mandi.

“Lika? Ini Mala. Lika buka pintunya,”kataku sambil menangis.

Pintu pun terbuka dan aku melihat sosok Malika dengan ekspresi lega sekaligus heran karena melihat wajahku yang berantakan. Aku langsung memeluknya sambil menangis.

“Mala? Ko bisa sih? Aku tadi sempat mikir hantu,”kata dia masih keheranan.

“Aku gak tau, ada yang kunci pintunya dari luar,”kataku sambil sesenggukan.

Malika masih heran, namun dia berusaha menenangkanku. Dibawanya aku menuju ruang kelas yang masih sepi karena siswa yang lain sedang beristirahat. Tiba-tiba Dewandra dan temanku bernama Iyan, datang ke kelas. Aku enggan melihat mereka terutama Dewandra. Kutundukkan kepalaku sehingga mereka tidak bisa melihat mataku yang bengkak. Namun usahaku sia-sia.

“Kenapa Mal?” Iyan langsung mendekatiku dengan wajah keheranan.

“Ada yang ngunci Mala di kamar mandi”kata Malika.

“Hah? Siapa?” tanya Iyan sambil melihat ke arahku yang masih menunduk.

Aku menggelengkan kepala. “Gak tau. Tapi terakhir aku mau masuk ke toilet, aku melihat Candra” kataku pelan.

Malika masih memelukku, sementara Iyan mengambil air minum bekalnya dan memberikannya padaku. Sekilas aku mencari sosok Dewandra, ternyata dia sudah menghilang. Aku acuhkan pikiran tentangnya dan lebih fokus untuk menenangkan diri.

Tak lama kemudian Candra tiba-tiba datang ke kelas dan langsung berlutut di depanku.

“Sumpah Mal, bukan aku. Aku gak ngunci kamu”kata Candra sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.

Aku bingung melihat sikap Candra yang tiba-tiba berbicara tentang peristiwa di kamar mandi. Terlebih lagi aku melihat Candra seperti ketakutan. Aku tahu benar Candra tidak akan melakukan sikap seperti itu terhadapku. Sebab sehari-hari, aku melihat dia begitu puas menjadikan aku objek ledekannya.

“Tapi kamu tadi di depan toilet saat aku masuk,”kataku pelan.

“Tapi bukan aku Mal. Sumpah,” kata Candra dengan muka memelas. Dia nampak ketakutan berada di depanku.

Aku semakin bertanya-tanya, kenapa dia seperti ketakutan? Lalu kenapa dia tiba-tiba menyanggah bahwa bukan dia yang mengunci pintu kamar mandi? Aku kan tidak bertanya pada dia, bertemu pun belum.

Muncul niat untuk bertanya pada Candra apa yang membuatnya tiba-tiba membahas kejadian itu sambil berlutut minta maaf. Namun belum juga bertanya, tidak sengaja aku melihat ke arah pintu kelas. Aku melihat sosok Dewandra di sana. Dia berdiri sambil menyilangkan tangannya di depan dadanya. Matanya menatap tajam ke arah Candra yang tidak berani melihatnya balik. Tiba-tiba terlintas di pikiranku, alasan yang menyebabkan Candra bersikap di luar kebiasaan.

Bel sekolah berbunyi, tanda jam istirahat telah usai. Satu per satu teman sekelas berdatangan. Aku pun langsung beranjak menuju bangkuku. Kutinggalkan Candra yang masih ketakutan. Rasanya aku tidak ingin membahas peristiwa itu lagi dengan siapapun.

Seminggu kemudian, wali kelas mengumumkan jika dia akan merubah formasi tempat duduk siswa. Kali ini aku duduk di bangku depan dan dipasangkan dengan Candra. Aku sempat terkejut, namun entah mengapa aku merasa duduk dengan Candra jauh lebih baik daripada bersama Dewandra. Setidaknya aku tidak perlu lagi bersikap seperti robot yang sama sekali tidak berbicara pada teman sebangku.

Lagipula Candra benar-benar berubah. Dia sama sekali tidak pernah mengejekku lagi dan sering mengobrol denganku seperti teman lainnya. Sejak saat itu, aku benar-benar tidak pernah memperhatikan Dewandra.

Sampai suatu hari wali kelasku mengadakan lomba cerdas cermat antar siswa dalam kelas. Setiap kelompok, terdiri dari empat orang. Kalau dilihat dari rangking, aku merupakan yang tertinggi di antara teman sekelompokku. Aku memang selalu masuk rangking sepuluh besar saat SD.

Babak pertama, setiap kelompok diberikan sepuluh pertanyaan. Di babak ini kelompokku meraih skor yang paling tinggi. Mayoritas pertanyaan tersebut dijawab olehku. Teman-teman kelompokku pun sumringah dan menepuk bahuku karena merasa senang.

Meskipun demikian sikap temanku langsung berubah saat babak kedua. Di babak ini,  peserta harus menjadi orang yang pertama kali memencet bel sebelum berhak menjawab pertanyaan. Masalahnya sifat tidak percaya diriku kembali kambuh. Aku terlalu ragu untuk memencet bel meskipun tahu jawabannya. Alhasil kesempatan meraih poin itu hilang. Nilai kelompokku pun terkejar oleh grup lain.

Teman-teman kelompokku menjadi kesal denganku dan menyuruh aku segera memencet bel jika mengetahui jawabannya. Namun aku masih tidak berani. Aku semakin gugup dan tidak fokus pada pertanyaan. Di saat genting seperti itu, aku melihat ke arah depan dimana teman-teman yang sedang tidak berkompetisi tampak bosan melihat jalannya cerdas cermat.

Di tengah pemandangan itulah aku melihat ada sosok yang bertingkah aneh. Dia adalah Dewandra yang tampak sibuk melambaikan tangannya seolah ingin mencuri perhatianku. Aku melihat ke arahnya.  Dia langsung memperagakan gerakan tubuh seperti orang memencet bel. Aku sempat terpana melihat dia yang nampak gemas melihatku. Dewandra kembali mengulangi gerakan itu lagi sambil setengah berteriak “pijit belnya”.

Aku masih terpana melihatnya. Entah dari mana dia bisa menebak kalau sebenarnya aku tahu jawaban pertanyaan pertanyaan itu namun ragu-ragu untuk memencet belnya. Aku melihat ke arahnya sekali lagi. Dia tampak melotot padaku.

Namun usahanya itu ternyata tidak membuatku berani untuk memencet bel. Akhirnya kelompokku kalah dan gagal masuk final. Meskipun demikian, sejak itu aku tau kalau Dewandra ternyata sering memperhatikanku.

Setelah kejadian tersebut, aku merasa hubungan kami menjadi sedikit cair meskipun tidak terlalu dekat seperti seorang sahabat. Namun aku merasa Dewandra sering sengaja berada di sekitarku. Bahkan dia pernah mengunjungi rumahku dengan sepedanya. Padahal aku sama sekali tidak pernah memberi tahu dia dimana alamat rumahku.

Dewandra juga ikut ekstrakurikuler yang sama denganku. Saat aku ikut kursus bahasa Inggris, beberapa hari kemudian dia juga ikut kelas yang sama. Namun yang membuatku terkejut adalah saat dia ikut les tari tradisional yang sama denganku. Rasanya ingin tertawa melihat anak lelaki sekasar dan segalak dia ikut les menari.

Tahap pertama les menari, kami diberikan pengetahuan terlebih dahulu mengenai sejarah tarian yang akan digeluti. Setelah itu, kami diminta guru tari istirahat sambil mempersiapkan diri untuk latihan. Tiba-tiba Dewandra menghampiriku yang sedang duduk sambil minum air putih.

“Mal, kamu jadi pasangan aku ya nanti”kata dia. Tarian yang akan kami tekuni memang diseting untuk berpasangan.

Mendengar perkataan dia, aku langsung terdiam sejenak. Tumben dia meminta terang-terangan, biasanya banyak gengsi. Tapi timbul niat jahilku.

“Mana bisa? Kamu kan pendek. Pasangan nari aku tuh harus yang badannya lebih tinggi dari aku,” ejekku sambil tertawa. Waktu SD, Dewandra memang hanya setinggi pelipisku.

Dewandra pun merengut sampai bibirnya terlihat maju.

Aku semakin puas tertawa. Dia terdiam tidak membalas ejekanku. Tawaku pun mereda, dan entah mengapa ingin mengucapkan pertanyaan yang selama ini aku simpan.

“Emang kamu udah gak malu lagi bareng sama aku?” tanyaku.

“Hah? Malu kenapa?” dia malah bertanya balik.

“Ya dulu waktu kita disuruh sebangku kamu malah marah. Kamu malu kan sebangku sama aku?” kataku.

Yang item, keriting, dan gak keren. Entah kenapa enam kata lanjutan tersebut muncul di benakku meskipun tidak aku ucapkan. Duh, sensitif dan drama banget ya aku ini. Belum tentu juga alasannya seperti itu. Tapi tidak bisa aku bohongi kalau itu yang ada di pikiranku selama ini.

Dewandra nampak terkejut mendengar pertanyaanku. Aku melihat ada rona di pipinya. Lama dia tidak menjawab.  Sampai akhirnya dia berdiri.

“Yuk ah latihan”kata dia berlalu tanpa melihat ke arahku.

Kali ini giliran aku yang terkejut dan kesal karena dia tidak menjawab pertanyaanku.

“Dewa!” aku memanggilnya. Namun dia tidak bergeming dan terus berlalu. Dewa adalah nama panggilanku pada dia. Sementara teman lain lebih banyak memanggil dia Andra.

Dengan gondok aku pun berdiri dan menyusul dia ke tempat latihan. Ternyata pasangan tari memang ditentukan berdasarkan tinggi badan. Kami diminta berbaris dari yang paling pendek sampai yang paling tinggi. Dewandra berada di barisan kedua. Sementara aku berada lima baris di belakangnya dengan pasangan anak lelaki yang lebih tinggi.

Saat kelas enam, kami kedatangan murid baru lagi bernama Maya. Dia murid pindahan dari Jakarta. Maya merupakan sosok yang supel dan disukai teman-teman lainnya. Dia juga memiliki hobi fotografi.

Setelah dua bulan menjadi teman sekelas, Maya tiba-tiba membuat pengumuman saat jam istirahat. Dia bercerita telah mengirimkan foto-foto yang memuat gambar anak-anak perempuan di kelasku ke teman-temannya di Jakarta. Foto –foto itu diambil saat study tour bulan lalu.

Maya kemudian meminta teman-teman sekolahnya di Jakarta untuk memilih anak perempuan yang paling cantik di foto-foto yang diberikan itu. Teman-teman sekelasku pun penasaran ingin mengetahui siapa anak perempuan yang terpilih.

“Dan yang dipilih adalah Mala,” teriak Maya sambil melirik padaku.

Mataku terbelalak namun mulutku terkunci seperti kesulitan napas. Aku sama sekali tidak menyangka ucapan Maya tersebut. Teman-teman langsung mendadak riuh. Beberapa dari mereka mendorong bahuku sambil menggodaku.

Gak salah? Pertanyaan itu kembali muncul dalam otakku. Kepalaku kemudian dipenuhi gambar seringai anak-anak jahil yang sering mengejekku. Saking sibuknya memikirkan gambar itu, aku sama  sama sekali tidak merespon pengumuman Maya ataupun godaan teman-temanku. Aku masih saja diam.

Sekilas mataku menangkap sosok Dewandra di antara teman-teman yang berkerumun di depan kelas. Aku melihat dia tersenyum padaku. Senyum paling ramah yang pernah aku lihat dari wajahnya.

Jadi bukan karena aku jelek makanya dulu Dewandra tidak mau duduk denganku? Aku merenung saat berjalan kaki pulang dari sekolah menuju rumah. Lagipula tidak ada yang salah dengan rambut keriting dan kulit hitam. Cantik bukan berarti harus berkulit putih dan berambut lurus. Semua bisa menjadi cantik saat menjadi dirinya sendiri.

Kecantikan juga seharusnya bukan sesuatu yang membuat percaya diriku harus luntur. Semua itu tergantung bagaimana pikiran kita menghadapi semua masalah. Kita tidak boleh membiarkan ejekan orang lain membuat kehilangan rasa percaya diri. Rasa percaya diri rendah menyeret pikiranku ke arah negatif. Pada akhirnya hal ini membuat aku kehilangan banyak kesempatan. Peristiswa di cerdas cermat merupakan salah satu contohnya. Aku mampu untuk menjadi pemenang, namun percaya diri yang minim membuat aku kalah.

Lalu apa yang membuat Dewa marah saat disuruh duduk denganku? Aku tidak pernah tahu jawabannya. Setiap aku bahas, ekspresinya selalu sama, kalau tidak memerah pipinya, pura-pura tidak dengar, atau langsung marah sambil bilang aku bawel. Meskipun demikian, kami tetap berteman dekat sampai lulus SD.

Setahun kemudian, aku masuk SMP Negeri di kota yang sama. Sebenarnya hanya ada empat SMP negeri di kota kecil itu dan sekolah yang aku masuki merupakan unggulan. Tidak heran jika mayoritas teman-teman SD masuk ke SMP yang sama, termasuk Malika, Maya dan juga Dewandra.

Dunia baru di SMP membuat komunikasi aku dan Dewandra jadi berkurang. Apalagi kami ditempatkan di kelas yang terpisah. Perhatianku pun banyak teralihkan oleh hal-hal baru yang aku alami. Meskipun demikian, Dewandra sekali-sekali masih sempat mengunjungi tempatku.

Kelas dua SMP caturwulan II, aku mendapatkan kabar bahwa ayahku mendapatkan tugas baru lagi di Kota Bandung. Aku diberitahu oleh ibuku saat ujian caturwulan I bahwa ini merupakan momen terakhirku sebelum pindah.

Seminggu setelah ujian selesai merupakan hari pembagian rapor. Hari itulah aku terakhir kali sekolah di kota kecil tersebut. Semua teman sekelasku sangat terkejut karena baru mendengar tentang kepindahanku pada hari pembagian rapor. Setelah berpamitan aku pun bergegas untuk pulang karena harus menuju Kota Bandung pada hari itu juga.

Saat berjalan ke luar kelas, pikiranku langsung teringat Dewandra. Aku merasa ragu apakah harus pamit dengannya. Biar bagaimanapun dia sudah banyak membantuku selama ini. Bisa dikatakan dia adalah orang yang selama ini memberikan dukungan agar aku lebih percaya diri dari sebelumnya. Meskipun demikian, aku sudah lama tidak mengobrol dengannya.

Aku membelokkan langkahku menuju ke arah lapangan basket. Sekolahku sedang mengadakan pekan olah raga antar kelas. Hari ini merupakan pertandingan final bola basket, dan setahuku kelas Dewandra termasuk salah satu peserta yang bertanding.

Kulihat sosok Dewandra dari kejauhan. Pertandingan sudah mulai berlangsung selama 10 menit dan Dewandra merupakan salah satu siswa yang mewakili kelasnya untuk bertanding Bola Basket. Seperti biasa, Dewandra begitu lincah memainkan perannya sebagai pemain basket. Gerombolan siswa perempuan memenuhi pinggir lapangan. Ada sepuluh pemain basket yang sedang bertanding di lapangan itu, namun siswi-siswi itu hanya meneriakkan satu nama dengan antusias.

“Andra..andra…andra…,”suara puluhan anak perempuan anak yang histeris mendadak kompak membentuk koor. Paduan suara itu semakin menjadi saat Dewandra berhasil merebut bola.

Melihat hal itu, aku pun tersenyum sambil sedikit mendengus. Aku tahu, banyak anak perempuan di sekolahku yang menyukai Dewandra.

Aku kembali melihat Dewandra dari kejauhan. Paduan suara suporter perempuan semakin riuh. Kutundukkan kepalaku lalu terdiam. Tiba-tiba, pikiran itu muncul di kepalaku.

Sepertinya dia tidak membutuhkanku. Aku bergumam dalam hati.

Aku kemudian mengangkat kepalaku sambil tetap tersenyum. Mataku kembali melihat sosok dewandra sekali lagi. Tak lama kemudian, kubalikkan badanku dan kuseret langkahku menuju ke luar gerbang sekolah. (Tdk)***

Leave a Reply