Cahaya Temaram

Mala Gemala ~ Jadilah Berani!

‎Kuseka peluh yang menetes di dahiku. Sebentar lagi tanjakannya selesai. Sambil mengatur napas, kuseret langkah menuju sebuah tepi jurang di atas bukit.

Lima, empat, tiga, dua, satu… aku menghitung mundur dalam hati, agar lebih bersemangat mendaki bukit. Hitunganku tepat, di angka satu kulihat pemandangan indah cekungan Bandung dari puncak bukit.‎ Tak hanya itu, aku pun menemukan dia. Sosok yang membuat hidupku jungkir balik selama seminggu terakhir.

Kuambil napas dalam menghirup udara segar bukit Bandung di tahun 1999. ‎Angin dingin bercampur aroma pinus memenuhi rongga paru-paruku. Seketika perasaan lelah yang menggelayuti tubuhku hilang setengahnya.

Kakiku melangkah pelan menuju sosok yang sedang merokok sambil duduk melihat pemandangan. Aku lega bisa menemukannya di sini. Ini seperti rumah keduanya, sekaligus tempat rahasia bagi kami bertemu.

Tak sengaja kuinjak ranting yang berhasil memecah kesunyian di atas bukit. Namun dia tidak bergeming dan tetap melihat ke arah pemandangan Bandung. Dari situ aku tau kalau dia sudah menyadari kedatanganku sejak lama. Mungkin tadi dia melihatku saat sedang mendaki bukit.‎ Aku pun mengambil tempat untuk duduk di sebelahnya. Kulirikan mataku untuk menatap wajahnya. Tubuhnya tebalut kaos dan celana seragam abu-abu yang sudah usang. Mungkin dia sudah lama tidak mandi.

Semakin lama aku melihatnya, rasa perih semakin terasa. Kupalingkan wajahku sebelum air mata ini mulai mengalir.

“Ibumu menelepon rumahku. Dia minta kamu pulang” aku berkata dengan suara parau, nyaris tersekat.

Dia‎ menghirup rokoknya lebih dalam dan mengepulkan asapnya yang panjang. Arah angin membuat asapnya mengenai wajahku. Spontan aku pun batuk. Dia langsung memalingkan wajahnya padaku dan mematikan rokoknya.

“Mala, gak perlu kaya gini. Merepotkan,”kata dia pelan sambil berpaling ke arah lain.

Ada perasaan lega saat mendengar pernyataan itu. Ternyata dia memikirkanku. Dia..dia mengkhawatirkanku?

Dasar bodoh! Suara lain muncul di benakku. ‎Kamu lupa dialah orang yang menyebabkan kamu menangis sepanjang malam selama seminggu kemarin. Dia tiba-tiba menghilang, tidak sekolah, bahkan tidak membalas saat kamu mengirim pesan ke pagernya. Lelaki itu membiarkan kamu kebingungan saat semua teman sekolah membicarakan dia yang menghamili perempuan lain. Kamu lupa kalau tiga hari lalu kamu bersumpah untuk merobek mukanya jika bertemu? Terus‎ tiba-tiba kamu berubah pikiran, gara-gara satu kalimat basa basi?

Tubuhku bergetar dan mengkerut mendengar suara dalam benakku sendiri. Urat wajahku menegang. Aku bisa merasakan gigiku saling menekan satu sama lain.

Suasana hening menyelimuti kami berdua. Entah apa yang dia lakukan dan pikirkan. Aku terlalu sibuk menahan gejolak ‎yang rasanya ingin meledak dalam dada. Lama-lama dadaku terasa sakit, aku sesak napas. udara seperti sulit masuk dalam kerongkonganku.

“Mala….mala” kulihat dia panik melihatku yang sedang gegalapan. Tangannya menarik tubuhku dan memeluknya erat.‎ Tindakan bodoh yang membuat aku semakin sesak napas.

Tapi di sisi lain, ada perasaan hangat yang muncul dari dadaku. Batu emosi perlahan mencair dan mulai mengalir melalui air mataku. Semakin lama aku pun terisak sampai menangis kencang. Tangannya semakin erat memelukku. Kurasakan tubuh kokohnya sedikit bergetar. Aku mendengar dia menarik ingus. Sepertinya dia ikut menangis. Namun tak sepatah kata pun yang terucap.

Aku menyerah untuk bersikap biasa saja, seolah aku tidak merindukannya. Persetan dengan segala amarah yang sebelumnya ada. Aku terlalu mengkhawatirkanya, sayang padanya. Perlahan kuangkat tanganku hingga bisa menyentuh punggungnya. Semakin keras tangisku, semakin erat telapak tanganku mencengkeram kaos yang dia pakai.

‎Setelah tangisku sedikit mereda, dia melepaskan pelukannya. Tangannya berganti memegang kedua pipiku hingga kami saling bertatapan erat. Jempolnya mengelus pipiku dengan lembut. Matanya yang coklat terus menatapku dalam waktu yang lama, namun lagi lagi tak sepatah kata pun terucap.

“Dit…kamu lagi merhatiin ingus aku ya”kataku pelan.

Dasar bodoh, kamu merusak suasana romantis. Suara dalam benakku lagi lagi menggerutu.

‎Adit langsung tertawa kecil mendengarku. Dia melepaskan tangannya di pipiku dan mendekatkan kepalaku ke arahnya.‎ Pipiku langsung tepat mengenai dadanya. Tinggi badanku memang hanya sampai sedagu Adit.

Lima belas menit berlalu, aku masih‎ duduk berdua dengan pipi yang menempel di dada Adit. Mataku melirik ke atas dan menatap wajahnya.

“Kamu mau pulang kan?”

Adit masih terdiam menundukkan kepalanya. Dia melepas pelukannya dan duduk tegak. Aku pun beranjak dari dadanya dan menatapnya dari belakang.

“Kamu tau kan konsekuensinya kalau aku pulang?” dia berkata tanpa melihatku.

Aku menarik napas tanpa langsung menghembuskannya kembali. Kepalaku mengangguk meskipun dia tidak melihatku.

“Ya..” kataku pelan nyaris tidak terdengar.

Ya, kalau Adit pulang, itu berarti dia harus bertanggung jawab, mungkin menikahi gadis itu, atau apalah aku tidak tahu. Yang pasti, tidak akan ada lagi tempatku dalam ceritanya. Aku harus mundur.

“Aku takut Mala”

Aku cukup terkejut mendengar kalimat itu. Tidak mudah bagi seorang Adit mengatakan takut. Mungkin bagi orang lain itu merupakan hal yang wajar. Tapi tidak bagi Adit. Keheningan pun kembali menyelimuti kami.

“Tapi bisa saja itu bukan anakku. Waktu itu, aku mabuk….aku melakukannya hanya sekali…dia bahkan bukan pacar aku”

“Adit…” aku memotong ucapannya. Dia langsung terdiam.

“Bu Neneng bilang, bisa terjadi walaupun cuma sekali” aku menyebut nama guru Biologiku.

“Kamu ingin aku pulang?” kata Adit pelan.

Tenggorokanku kembali tersekat. Aku merasa konyol jika berbohong tentang perasaanku.

“‎Aku..aku gak tau dit…. yang aku tau, ada perempuan seusia aku, hamil empat bulan, dan kebingungan… aku gak bisa membayangkan jadi dia,”kataku terbata-bata.

Adit mendengus. “Kapan kamu berhenti memikirkan orang lain?”

Aku menunduk sambil menggeleng.

“Dit…kamu ingat gak waktu pertama aku kenal kamu dua bulan lalu? Waktu itu, aku sedang jalan berdua sama temanku Erin, lalu kamu tiba-tiba datang mengendarai motor besarmu, dan tanpa menyapa atau apa, kamu langsung menyuruhku duduk di belakang”

Adit kembali mendengus sambil tertawa.
“Dan malam harinya aku gak bisa tidur. Aku gak bisa lupain matamu yang langsung melotot. Belum pernah ada cewe yang melotot padaku seperti itu,”kenang Adit.

Aku pun tersenyum mendengarnya. “Waktu itu Erin langsung gemeteran sambil bilang, Mala itu kan anak kelas satu yang ketua geng motor. Tapi aku gak perduli, aku gak terima cowo yang gak sopan nyuruh aku kaya gitu. Sama kakak kelas aja aku sebel, apalagi adik kelas,”kataku.

Adit tersenyum sambil menatapku.

“Sampai tiga hari kemudian, aku sedang naik angkot dan melihat kamu dikeroyok enam – delapan orang di pinggir jalan. Aku melihat darah, tapi sepertinya bukan darahmu. Tiba-tiba saja lututku merasa lemas,”

“Jadi karena itu, setelahnya kamu langsung mengiyakan ikut denganku? Karena takut?”

Aku me‎majukan tubuhku sehingga bisa menatapnya lebih dekat.

“Mungkin karena takut, tapi ada alasan lain. Aku melihat kamu diam saat aku menolak untuk ikut. Padahal bisa saja kamu melakukan hal kasar. Sampai minggu depannya, kamu menungguku di depan sekolah, menyapaku dan mengajakku dengan sopan. Meskipun kamu terlihat konyol saking kakunya,”aku pun tertawa sejenak.

“Tapi aku menghargai sikapmu yang mau merendah dan ingin memperbaiki sesuatu. Kamu tidak hanya berani, tapi juga bisa menekan ego,”

‎Adit terdiam dan sedikit menunduk. “Entahlah, aku tidak akan melakukannya kalau bukan kamu”

‎”Dan itulah Aditya Suseno yang aku kenal sekarang. Kamu lebih memilih berani menghadapi orang yang mengeroyokmu dari pada lari. Kamu juga berani mendekati kakak kelasmu daripada sekedar diam dan menyukai dari jauh. Seorang Adit juga berani melakukan hal yang sebelumnya tidak biasa dia lakukan. Tapi ternyata masih ada tantangan besar bukan?”

“Apa?”

“Berani menghadapi konsekuensi, kenyataan hidup‎… Sekarang ada dua pilihannya, lari, atau menjadi berani seperti biasanya aku mengenal kamu?”

Lama Adit terdiam mendengar perkataanku. Setelah itu dia berdiri dan berteriak kencang ke arah pemandangan Bandung. Tak lama kemudian dia mulai melakukan gerakan tinju ke udara lalu menendang barang-barang yang ada di sekitarnya.

Aku hanya terdiam melihatnya dari tempat duduk‎ sambil berjaga-jaga agar tidak terkena barang-barang yang berterbangan. Lama-lama aku terbiasa juga melihat sifat urakan dia.

Sampai akhirnya Adit terlihat lelah melampiaskan emosi. Dia pun terkapar di atas rumput sambil membuka kedua kaki dan tangannya. Entah kenapa ada perasaan geli melihat sikapnya yang kekanak kanakan.

“Kalau aku lebih dulu kenal kamu, mungkin gak gini ceritanya” Adit berkata sambil memejamkan matanya.

Aku hanya terdiam sambil menaikan bahu. Lama kubiarkan dia berbaring sambil menutup mata. Wajahnya diterpa angin yang mulai kencang.‎ Dia pun akhirnya terduduk dan melihatku.

“Aku antar kamu pulang”

Kami menyusuri jalan setapak untuk menuruni bukit dengan bergandengan tangan. Tidak ada satu kata pun yang berbicara. Kami seperti tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

Tempat parkir motor Adit sudah tampak di depan mata. Aku baru saja akan mengambil cardigan dari tas saat tiba-tiba tangan Adit kembali menarik tubuhku dan memeluk dari belakang. Tak ada sepatah katapun yang terucap, namun aku bisa merasakan lengannya memelukku semakin erat. Air mataku kembali meleleh.

Dia kemudian membalikkan tubuhku dan membelai rambutku. ‎Aku melihat matanya yang sayu. Ini tidak seperti Adit yang aku kenal. Aku tidak pernah melihatnya menangis. Rasa perih kembali muncul dalam dada.

Aku menjijitkan kaki dan memeluknya erat. Air mata kembali mengalir dalam diam. Sampai akhirnya aku bisa mengatur napasku dan membisikkan padanya “Jadilah berani”.‎ Sambil berlinang air mata, kami pun melakukan ciuman perpisahan.

Jadilah berani. Pada akhirnya kalimat itu bukan seruan untuk Adit, namun untukku sendiri. Sehari setelah pertemuan itu, aku kembali ke sekolah dan menghadapi tatapan iba dari semua orang. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani membahasnya. Aku pun sama sekali tidak ingin menceritakan segala hal tentang Adit pada teman-temanku, termasuk tentang perasaanku. Benakku lebih nyaman menyimpannya sendiri.

Mungkin itulah yang menjadi penyebab malam-malam panjangku dimulai. Hampir setiap hari aku bermimpi tentang Adit. Setiap pagi pula aku terbangun dengan perasaan kosong.

Kadang aku berpikir untuk terjaga agar mimpi buruk itu ‎tidak muncul. Namun kuurungkan niatku sambil memejamkan mata, lalu mengatakan “jadilah berani”.

Sialnya tidak ada obat cinta yang bisa menyembuhkan perasaanku. Sejak kejadian itu sampai lulus SMA, tidak ada satupun anak lelaki yang mendekatiku lagi. Salah satu temanku pernah bilang, mereka terlalu segan untuk mendekati perempuan yang dicintai Adit. Meskipun dia sudah tidak sekolah di sini, namun pengaruhnya masih membekas‎ di antara anak-anak sekolah.

Ya, sejak pertemuan terakhir kami, Adit tidak pernah lagi datang ke sekolah. Otomatis dia dinyatakan tidak naik kelas. Namun aku sempat mendengar kabar kalau dia pindah ke Jakarta. Ayahnya memang salah satu pejabat di ibukota. Namun dia memiliki istri muda, sehingga hubungan dengan ibunya Adit tidak harmonis. Itulah yang menyebabkan Adit sempat pindah ke Bandung bersama ibunya.

Tiga tahun setelah lulus SMA, aku beristirahat di sebuah bangku setelah lelah mengelilingi pameran Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung. Kuambil botol air minum dalam tas dan menenggaknya habis. Sampai kulihat ada gadis kecil yang sedang memperhatikanku sambil tersenyum.

Aku membereskan botolku dan kembali meliriknya. Dia masih di sana, memperhatikanku sambil tersenyum genit.

Sebenarnya, aku bukan tipe perempuan yang ramah pada anak kecil. Seringkali aku terlampau kaku jika berhadapan dengan mereka. Namun entah kenapa anak kecil ini terlalu hangat untuk aku abaikan. Kudekatkan badanku padanya sambil berkata “halo”.

Dia membalasku dengan tersenyum manja. Gigi ompongnya semakin terlihat jelas.

“Kamu tersesat?” tanyaku.

Dia menggelengkan kepalanya sambil menunjuk pria yang sedang memperhatikan patung seni rupa.

“Ayah!” kata anak perempuan itu. Aku melihat ke arah laki laki muda yang ia panggil.

Adit. Jantungku serasa berhenti.

Kami bertatapan dari jauh. Terasa kaku. Adit perlahan berjalan ke arahku untuk mendekati anak itu. Aku melihat wajahnya begitu tegang.

“Hai” kataku membuka pembicaraan.

Adit menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Namun tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dia masih menatapku.

“Aku baru tau kalau kamu suka liat pameran” kataku.

Dia tersenyum. “Kebetulan aja sih, aku kuliah di sini”

“FSRD?”

“Buka‎n, teknik mesin”

“Oh, nice”

“Tapi baru masuk 2003 sih” dia tertawa malu. Itu berarti dia terlambat satu tahun dari seharusnya.

Aku tersenyum. ‎Ada perasaan bahagia melihat dia bisa masuk ke perguruan tinggi ini. Ternyata dia bisa bangkit setelah sebelumnya sempat tidak naik kelas.

“Anak kamu?‎” tanyaku setelah teringat bahwa ada anak kecil di antara kita.

“Iya… Ayo salam sama tante” kata Adit pada anak itu.‎ Anak perempuan itu menghampiriku dan mencium tanganku. Dia masih memperhatikanku sambil tersenyum malu-malu.

Aku pun berjongkok dan mencoba tersenyum ramah padanya.

“Nama kamu siapa?”

“Gemala…Gemala Suseno. Kalau tante namanya siapa?” (Tdk)***

Leave a Reply