Cahaya Temaram

Kehidupan Baru

Aku tiga tahun lalu masih berpikir untuk terus bekerja sebagai wartawan. Masih menikmati belajar hal hal baru, atau perjalanan dinas ke berbagai daerah. Aku tau tidak mungkin selamanya berada di jalan ini. Tapi ah biar saja kupikirkan nanti menjelang usia 40 tahun.

Aku dua tahun lalu mencoba peruntungan untuk menjadi penulis. Siapa tau ini jalan keluar untukku setelah tidak menjadi wartawan. Beberapa orang menyarankan aku untuk segera mencari pekerjaan baru. Tapi aku enggan bekerja kantoran. Nanti anakku bagaimana kalau aku harus pergi pagi – pulang malam? Aku harus mencoba mencari cara agar bisa bekerja dengan waktu fleksibel atau bahkan mungkin di rumah.

Aku setahun lalu mulai kalut. Kabar tentang perusahaan terus menghantuiku. Sebenarnya aku sudah lama mengetahui bahwa perusahaan tempatku bekerja sudah goyah. Namun sebelumnya aku selalu optimistis. Hingga akhirnya, perlahan tapi pasti tunjangan mulai tidak terbayarkan. Pun gaji mulai tertunda. Aku semakin bingung tentang apa yang akan kulakukan. Sekociku belum siap untuk kugunakan jika kapalnya karam.

Aku enam bulan lalu sedang mengatakan pada suamiku bahwa aku akan berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Aku lelah, bukan karena pekerjaannya, namun tekanan yang mendera. Pandemi membuat segala sesuatunya berjalan lebih buruk. Lingkungan kerja  yang penuh keluhan dan amarah perlahan menjadi racun untuk mentalku. Namun suamiku tidak setuju. Menurutnya aku ingin berhenti bekerja bukan karena menginginkannya, namun karena menyerah dengan keadaan. Dia tidak ingin aku berhenti hanya untuk melarikan diri dari masalah.

Aku tiga bulan lalu mencoba menjalani hari dengan sakit kepala yang terus mengganggu sepanjang waktu. Tekanannya semakin berat. Aku mencoba terus bertahan demi anakku. Mengendalikan kelam yang semakin lama berkembang banyak dalam jiwaku. Aku tidak ingin anakkku melihat ibunya frustasi. Dia akan tau. Dia sangat sensitif.

Aku dua bulan lalu mulai mencoba melakukan sesuatu untuk keluar dari tekanan ini. Kuputuskan untuk mencari pekerjaan baru. Ya! Sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya. Ini gila! Atau bahkan lucu! Aku melakukan sesuatu yang enggan kulakukan tiga tahun lalu. Aku berada di pusaran informasi Linkedin dan Jobstreet untuk mencari informasi mengenai lowongan pekerjaan. Kucoba mengabaikan perasaan minder karena umurku yang sudah menua dan juga pengalaman kerjaku yang tidak banyak. Aku habiskan setengah tabungan pribadiku untuk mengikuti kursus privat bahasa Inggris online hampir setiap hari. Cukup berat untuk pegawai yang pembayaran gajinya antara ada dan tiada selama beberapa bulan terakhir. Namun, aku harus melakukannya karena tidak ada perusahaan jaman sekarang yang mau menerima karyawan yang bahasa inggrisnya tolol🤪. Aku juga tidak ingin mengambil uang yang diberikan suamiku untuk ini. Kurasa akan lebih baik jika uangnya ditabung untuk jaga jaga selama pandemi.

Aku sebulan lalu sedang berjuang untuk mengabaikan perasaan menyerah. Sudah lebih dari 30 posisi pekerjaan yang kulamar, namun tidak ada satu pun yang dipanggil untuk proses selanjutnya. Aku membaca curhat seorang teman linkedin. Dia mengeluh karena sudah beberapa kali wawancara kerja namun selalu gagal. Lah aku, panggilan wawancara saja gak ada.Tapi aku tidak menyerah. Aku akan terus mencoba. Aku memasukkan lamaran ke berbagai jenis perusahaan. Hanya sedikit pekerjaan di perusahaan media yang aku lamar. Ada rasa trauma saat harus bekerja di perusahaan media kembali. Mungkin aku butuh waktu untuk pulih, atau bahkan sudah saatnya aku mengarungi dunia lain.

Aku tiga pekan lalu mendapatkan undangan untuk wawancara kerja. Ini kesempatan pertama aku untuk panggilan kerja. Sebenarnya ini panggilan pekerjaan yang tidak aku tunggu. Bukan karena perusahaannya tidak bagus, tapi aku pernah melamar untuk posisi lain dan ditolak. Entah kenapa setelah itu, jari ini malah mengirim lamaran untuk posisi lain di perusahaan yang sama. Tapi ya sudah aku coba saja. Puji syukur proses wawancaranya berjalan lancar, meskipun menggunakan bahasa Inggris (Thanks Allah, thanks Mr. Niko). Keesokan harinya aku langsung disodori penawaran besar gaji yang akan diterima. Aku memutuskan untuk menerimanya.

Aku dua pekan lalu kembali gelisah. Rasanya nyaris tidak percaya akan meninggalkan perusahaan ini. Tempat yang menjadi rumah keduaku selama 13 tahun. Aku masih ingat sesaat setelah wawancara kerja, air mata ini langsung mengalir. Intuisiku mengatakan bahwa aku akan diterima di pekerjaan baru. Tiba tiba saja aku merasa sedih. Inikah saatnya aku pergi? Jujur aku sangat berat melepasnya. Bekerja di perusahaan ini bukan hanya masalah uang, namun ada ikatan emosional sangat dalam yang membuatku sulit pergi.

Aku pekan lalu sedang berada di ruang Kepala SDM. Menandatangani surat bipartit untuk mengakhiri masa kerja di perilusahaan ini. Kegelisahanku perlahan mereda. Apalagi kudengar kondisi perusahaan semakin memburuk. Tensi di tempat bekerja semakin menjadi. Aku meyakinkan diri untuk terus melangkah.

Aku saat ini sedang menikmati pekan cuti terakhirku. Alasanku mengambil cuti di pekan terakhir karena ingin berhenti sejenak dari hingar bingar pekerjaan. Semoga cuti ini bisa menyegarkan pikiranku sebelum berjuang di tempat baru. Jujur aku cemas akan banyak hal. Apakah aku bisa beradaptasi dengan ritme kerja kantoran? Apakah lingkungan kerja di tempat baru akan nyaman? Apakah aku bisa lulus masa percobaan? Apakah aku masih punya waktu main sama Aksam? Sampai berpikir tentang apakah aku akan kesulitan memarkirkan mobilku jika ternyata tempat parkirnya bertingkat? (Oke ke depan kalau ada rejeki aku bakalan balik lagi pakai mobil matic 😑 damn!).

Dan beginilah akhirnya, tekanan yang begitu kuat membawaku pada kehidupan baru yang tidak kurencanakan sebelumnya. Seperti ibu yang akan melahirkan, proses kontraksi yang terasa pasti akan terasa menyiksa dan menyakitkan. Namun kontraksi tersebut diperlukan untuk membuat bayi keluar dari perut dan menjalani kehidupan baru.

Begitu juga denganku yang kadung terlalu nyaman dengan pekerjaan sebelumnya, dipaksa keluar dengan adanya tekanan yang datang bertubi tubi. Termasuk pandemi di sepanjang 2020 yang membuatku kondisi perusahaan semakin buruk. Namun hal itu justru menjadi mendorongku untuk keluar dari zona nyaman dan mendapatkan kehidupan baru.

Belum banyak harapan yang kusematkan dalam kehidupan baru ini. Aku hanya berdoa semoga bisa menjalani langkah ke depan dengan sebaik mungkin. Aamiin. (Tdk)***

 

Leave a Reply