Cahaya Temaram

Ucapan yang Mematahkan Mimpi

Entah sudah berapa lama aku bermimpi inginmenulis novel. Sesuatu yang dulu terasa mengawang-ngawang buatku. Teringat dulu aku sering dicap bukan anak kreatif oleh orang-orang sekitarku. Jadi boro-boro mau nulis, mencobanya saja aku sudah tidak percaya diri.
Beberapa tahun ke belakang, aku mencoba untuk menulis novel. Namun selalu gagal. Kadang hanya sampai kerangka, rencana, atau bab 1. Lalu gagal lagi.

Di sisi lain beberapa tahun lalu, aku juga sedang berusaha untuk terapi mendapatkan keturunan setelah beberapa tahun menikah. Sudah empat dokter yang aku temui, tiga diantaranya mengatakan bahwa kemungkinan aku hamil sangat kecil karena menderita PCOS. Sejak itu aku berpikir untuk memulai hidup sehat. Sebenarnya aku sudah pasrah dengan kemungkinan memiliki anak. Tapi aku berpikir, ah tidak ada salahnya punya kehidupan yang lebih baik dengan makanan sehat dan olah raga. Sejak itulah aku rutin olah raga lari supaya bisa memiliki tubuh yang lebih bugar.

Berat badan aku waktu itu tergolong obesitas, sudah mencapai 70 kg untuk tinggi 160 cm. Jadi aku jauh dari sosok atlet semampai yang ringan dalam berlari. Aku cukup sadar diri akan itu. Kumulai latihan lari dengan jarak pendek dan kecepatan lambat. Lari selama 15 menit sudah cukup membuatku ngos-ngosan.

Sampai akhirnya tanpa terasa kemampuan lariku semakin membaik. Kini lari 5 km sudah menjadi santapan yang biasa bagiku. Aku juga pernah mengikuti lomba lari nyaris 17 km dan berhasil mencapai finish meskipun berada di akhir batas waktu. Kemampuanmku masih jauh dari mumpuni, namun kepercayaan diriku dalam berlari semakin meningkat.

Ada sisi lain yang aku dapatkan setelah rutin berlari. Tidak hanya membuatku lebih bugar, lari juga meningkatkan kepercayaan diriku. Aku selalu memiliki target berlari setiap waktunya. Ada kepuasaan tertentu saat bisa mencapai target itu. Dari situ, timbul juga kepercayaan diri bahwa aku bisa melakukan apapun selama berusaha dengan baik. Itulah sebabnya lari tidak hanya memberikanku kesehatan jasmani tapi juga psikis.

Oh iya, lari juga ternyata membuat hormonku lebih baik. Siklus haid menjadi lancar sampai akhirnya aku secara mengejutkan bisa hamil dan memiliki anak.

Setelah sempat vakum karena hamil, tahun ini aku berencana untuk mengikuti half marathon (21 km) di bulan Oktober. Sebuah keputusan yang agak nekat untuk pelari pas-pasan seperti aku. Namun sekali lagi aku mencoba untuk menanamkan kepercayaan diri, jika aku rutin latihan, aku pasti bisa. Ini sama seperti dulu aku tidak percaya bisa menempuh lari 5 km. Tapi sekarang? Aku bisa melaluinya dengan santai bukan?

Untuk persiapan half marathon itu, aku rutin latihan lari lima kali dalam seminggu sejak Maret 2018. Aku latihan di dekat rumah, sendirian, di pagi hari. Sebagai ibu rumah tangga yang juga bekerja dan memiliki anak, aku nyaris tidak ada waktu latihan di tempat khusus. Apalagi kalau harus menunggu teman lain setiap latihan. Aku harus secermat mungkin mempergunakan waktu yang ada untuk latihan.

Di tengah latihan itulah tiba-tiba aku terpikirkan sesuatu. Jika aku saat ini bisa meningkatkan kemampuan dalam berlari dari hanya 1 km menjadi belasan km. Kenapa tidak dengan menulis? Bukankah menulis novel dan berlari marathon itu sama? Sama-sama membutuhkan waktu yang sangat panjang, kesabaran, ketekunan, disiplin dan juga (yang paling penting dari lainnya) sebuah kepercayaan diri bahwa kamu bisa melakukannya sampai finish.

Dan begitulah akhirnya, lari tidak hanya memberikanku semangat baru dalam hidup namun juga inspirasi bagiku untuk mencoba menulis novel. Akhirnya sejak Juni aku mulai membuat kerangka dan menulis novel pertamaku. Sekarang novelku sudah mencapai bab 4. Terasa lambat memang. Namun aku senang setidaknya alineanya terus bertambah setiap harinya. Aku tidak tau novelku nanti akan menjadi apa. Namun menyelesaikannya sampai akhir saja sudah menjadi hal yang menggembirakan bagiku.

Niat untuk tetap latihan lari dan menulis novel bukan sesuatu yang mudah diwujudkan. Setiap harinya aku harus bangun dini hari. Kenapa? Karena hanya itu waktu yang aku bisa. Aku tidak ingin mengambil jam malam untuk menulis novel. Tidak tega rasanya mengingat anakku yang sudah aku tinggal kerja di siang hari, harus melihat ibunya masih berkutat dengan laptop saat pulang kerja di malam hari. Aku ingin malamku hanya untuk anak dan keluarga.

Jadilah aku bangun sekitar pukul 03.00 setiap hari. Selama setengah jam aku gunakan waktu untuk berdoa, minum , serta mempersiapkan tempat menulis (nasib belum punya meja kerja di rumah). Setelah itu aku mulai menulis sampai adzan subuh. Aku lalu melanjutkan dengan shalat dan melakukan kegiatan ibu rumah tangga. Barulah sekitar pukul 05.30 aku mulai latihan lari. Setelah itu ya seperti biasa, menyuapi anak dan memandikannya lalu bersiap untuk berangkat kerja.

Ada masanya aku sedang merasa lelah dengan kegiatan sehari-hari atau tidak mood. Tapi aku tetap berusaha disiplin dengan jadwal yang ada. Aku selalu berprinsip, biarlah hasilnya tidak optimal tapi tetap kamu lakukan setiap hari. Jangan sampai putus, supaya semangatnya tidak kendor.

Sampai akhirnya tadi pagi saat aku latihan lari seperti biasa, tiba-tiba saja ada pengendara motor yang melakukan pelecehan verbal padaku. Aku kaget, mencari arah suara itu. Aku bahkan tidak menyadari kehadirannya sampai kata-kata tidak mengenakan itu sampai di telingaku. Pikiranku terlalu fokus untuk menyelesaikan lari sesuai dengan target waktu yang diharapkan.

Aku menoleh ke belakang, pengendara motor itu sudah melewatiku. Namun dia masih menengok ke belakang ke arahku. Seakan belum puas, dia tertawa menyeringai menunjukan deretan giginya. Dari helmnya, aku tau dia merupakan pengemudi ojek online.
Sejenak aku tidak tahu harus melakukan apa-apa. Bingung dengan kejadian yang datang tiba-tiba. Tapi ada rasa sakit dan sesak yang melanda, juga pertanyaan besar : Apa salah ku sehingga diperlakukan seperti itu? Apakah aku menyakitimu? Apakah aku melanggar norma yang tidak pantas? Atau apa? Kenapa kamu menyakiti orang yang tidak kamu kenal, tidak kamu tahu, bahkan baru kamu temui begitu saja?

Komplek rumahku sangat nyaman untuk berlari. Saat itu aku juga menemui seorang ibu yang berlari kecil tanpa alas kaki. Aku juga sering menemui banyak penduduk lain yang berlari di sini, bapak-bapak, ibu-ibu yang mendorong kereta bayi, anak muda yang masih segar bugar, bahkan orang bule yang berlari bolak balik entah berapa km. Kadang saya menyapa mereka atau sekedar melempar senyum. Jadi sebenarnya bukan hal yang aneh jika ada orang yang berlari di sini.

Namun kejadian selintas itu berhasil mematahkan semangat saya. Seketika saya langsung berhenti dan tidak ingin lari lagi. Ada perasaan sesak, ingin menangis, dan rendah diri yang sangat dalam.

Saya sibuk menerka nerka, apakah pengemudi itu akan balik lagi karena dia pasti datang ke sini untuk menjemput konsumen. Ternyata benar, dia balik lagi. Saya coba mengambil gambarnya dan menegur dia untuk bertindak sopan. Tapi boro-boro menyesal, dia malah tertawa. Dada saya pun semakin sesak.

Saat pulang, saya langsung mengurung diri dalam kamar. Rasanya ingin tertidur sepanjang hari sambil berharap bisa melupakan kejadian tersebut. Sesuatu yang dulu sering saya lakukan setelah mendapatkan pelecehan serupa. Iya, ini bukan pertama kalinya saya mendapatkan pelecehan verbal atau bahkan lebih parah dari itu. Saya beberapa kali mendapatkan pelecehan fisik bahkan oleh orang-orang yang tidak dikenal, apakah itu saat berjalan kaki menuju sekolah, di bis, atau bahkan di sekolah. Saya sudah mendapatkannya sejak SMP dan sama sekali tidak pernah merasa biasa setiap menerimanya. Pertanyaan yang sama selalu terulang, Kenapa saya? Apakah saya menyakitimu? Saya bahkan tidak mengenalmu dengan baik, lalu kenapa kamu menyakiti saya? Tak jarang peristiwa pelcehan yang dulu pernah terjadi kembali menumpuk di pikiran saya setiap kali mengalaminya lagi. Seperti sebuah racun yang mengendap dan tidak bisa hilang. Membuat saya semakin terpuruk setiap mengalaminya lagi.

Dan entah mengapa saya sama sekali tidak pernah nyaman untuk bercerita pada orang lain. Ada perasaan terluka jika harus mengingat kembali kejadian itu setiap akan bercerita. Ada perasaan rendah diri yang sangat dalam. Saya juga cukup tau setiap korban pelecehan seringkali berakhir dengan ledekan “ah cuman gitu doang” atau “itu kan salah perempuannya…”. Celetukan yang membuat saya lebih memilih untuk mengubur cerita dan sakitnya sendiri.

Tapi berdiam diri dan tidur seharian di kamar bukan sesuatu yang bisa dilakukan saat ini. Sekarang saya seorang ibu dan memiliki anak kecil yang harus diurus, diberi makan, dimandikan, diajak main. Jadilah saya tetap melakukan kegiatan ibu rumah tangga tersebut sambil berusaha menahan perasaan yang karut marut.

Namun ternyata saya tidak bisa menyembunyikan perasaan saya dari suami yang tau benar ada yang tidak beres dengan ekspresi saya. Pagi ini saya tidak tersenyum ceria saat berinteraksi dengan anak.

Akhirnya saya pun bercerita mengenai kejadian tersebut. Suami mencoba memeluk dan menenangkan saya. Meskipun saya mendengar jelas dia menggertakan giginya dengan kuat berkali kali.

Atas dukungan suami itulah akhirnya saya yang sempat ragu, melaporkan kejadian itu pada perusahaan ojek online tersebut. Saya melaporkannya melalui admin twitter, karena saya tidak menemukan kolom aduan pada aplikasinya. Kolom aduan tersebut hanya ditujukan untuk konsumen yang sudah menggunakan layanan.

Seperti yang sudah diduga, admin menanyakan plat nomor motornya. Saya sama sekali tidak bisa mengambil gambarnya. Plat nomornya tidak jelas, warna angkanya ada yang sebagian menghitam. Saya sadar bahwa posisinya lemah. Namun saya tetap berharap aduan ini bisa membawa peningkatan yang lebih baik pada sistem pengelolaan kendaran online tersebut. Sebab bukan sekali ini saja saya mengalami perlakuan kurang baik dari pengendara ojek online tersebut (dulu bukan pelecehan seksual tapi tidak diturunkan di lokasi yang diminta). Akhirnya saya tidak pernah memesan lagi ojek online tersebut dan lebih banyak menggunakan pesaingnya.

Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan dari aduan saya. Tapi bukan itu yang paling menggangu. Saya menjadi trauma untuk kembali latihan lari di tempat itu. Saya takut mengalami hal serupa. Padahal lomba lari semakin dekat dan latihan seharusnya semakin intensif.

Tidak itu saja, jika saya gagal dalam latihan lari, maka kepercayaan diri saya untuk menulis pun menjadi merosot. Seperti yang sebelumnya diceritakan, saya percaya jika saya bisa berhasil lari half marathon, maka saya pun bisa menulis novel. Tapi sekarang, saya merasa kehilangan semangat untuk melakukan itu.

Mungkin bagi lelaki itu, ucapannya hanya sekedar hiburan semata. Sesuatu yang membuat dia bisa tertawa di saat pagi-pagi harus mencari rezeki. Sesuatu yang spontan saja dia lakukan tanpa berpikir panjang. Sesuatu yang mungkin bagi orang lain akan mengatakan “ah cuman gitu doang”.

Namun bagiku, atau mungkin perempuan lain yang pernah mengalami hal serupa, ucapan iseng itu bisa memberikan efek yang lebih dari sekedar kesal. Bisa mematahkan semangat yang susah payah dibangun sejak lama, dengan perjuangan untuk bangun dini hari, setiap keringat yang menetes dari tenaga yang keluar setiap harinya, dan juga dukungan orang-orang tercinta di sekitarnya.

Ini baru ucapan verbal ya (sebenarnya gak ikhlas saat menulis kata “baru” pffh), banyak bentuk pelecehan lain yang dampaknya bisa lebih parah dari itu. Dan ingat , pelecehan verbal bukan hanya sekedar yang menyangkut seksual namun juga semua ucapan yang bisa menjatuhkan mental orang yang dituju. Jadi bisa saja korbannya bukan hanya perempuan tapi juga laki-laki.

Sebagai manusia, kita tentu diberi akal untuk mengetahui mana yang baik dan tidak. Tidak harus mengalaminya sendiri untuk bisa berempati. Namun kenyataannya ada saja yang harus mengalaminya dulu baru mengerti. Saya jadi ingat waktu ada teman kakakku yang laki-laki menyeletuk saat dirinya digoda oleh (maaf) banci pengamen di Jalan Sumatera, Bandung. Dia bilang “Jadi kieu nya rasana awewe nu sok digoda ku aing, teu ngeunah pisan” (Jadi gini ya perasaan perempuan yang suka aku godain, gak enak banget).

Jadi untuk orang yang masih berpikir bahwa dirinya tetap manusia namun masih melakukan “ucapan” tersebut, semoga suatu saat ada kejadian yang bisa membuka mata dan hatimu. Semoga tulisan ini juga bisa membuka hati bagi orang yang masih melakukannya. Karena hal yang kamu pikir hanya selintas lewat itu, bisa mematahkan mimpi yang susah payah dibangun seseorang. (Tdk)***

Leave a Reply