Cahaya Temaram

Satu Lagi Alasan

“Why me?” tanyaku sambil menatap punggungnya yang bidang. Dia tampak sedang asik mengamati pemandangan kota dari dinding kaca di ruangan ini.

‎Senyumnya langsung mengembang saat menoleh ke arahku. Dia masih mengulum senyumnya saat mulai mendekatiku dan mengulurkan tangannya. Aku yang sedang duduk di kursi piano diam terpaku, berusaha menatap matanya yang terhalang kaca mata.

“Why not?” ujar dia sambil ‎tetap bersabar menungguku meraih uluran tangannya. Dia mendekatkan wajahnya, ‎memaksaku untuk melihat bibir pink nya yang mengembang.

Aku menyerah dengan senyum dikulumnya yang membuat wajahku memerah. Kuputuskan untuk meraih tangan itu sehingga bisa menyembunyikan  ronaku di dadanya. Tangan kirinya langsung menarik pinggangku. Kami berdansa diiringi suara gemericik air hujan di luar bangunan.

Kucium aroma pinus dari tubuhnya yang tertutup kemeja flanel coklat‎. Ingin rasanya membiarkan diriku larut dalam pelukannya yang hangat. Namun perasaan mengganjal memaksaku untuk menepiskan keinginan itu. Aku mengangkat kepalaku dari dadanya.

“I am ten years older than you” bisikku dengan wajah penuh kecemasan. Kujinjitkan kakiku sedikit sehingga bisa mengintip kerlap kerlip lampu gedung dari balik bahunya. Hujan deras membuat pemandangan malam menjadi semakin sendu.

Dia menghentikan gerakan dansa. Tangan kanannya meraih daguku pelan dan mengarahkannya ke atas untuk menatap wajahnya.

“Karena tidak ada yang bisa kulupakan dari kamu” Dia menatapku dalam. “Sikapmu yang tenang, pemikiranmu, passionmu…belahan bibir bawahmu yang penuh”  matanya langsung liar menggodaku.

Aku kembali merona. Kuraih tanganku ke balik tubuhnya yang besar lalu kembali menyembunyikan wajahku di dadanya.

“Kamu akan jemu melihat keriputku,”kataku dari balik dadanya.

Dia tertawa kecil. “Sejemu kamu yang menghadapi sikap ingusanku? Kegelisahanku, sikap menggebu-gebuku… atau motor bututku?”

Aku tertawa di balik dadanya. Kami terdiam beberapa saat mempersilahkan suara hujan mengambil alih pangung. Kupejamkan mataku untuk menikmati pelukannya yang teramat nyaman.

“Why me?” tiba-tiba dia berbisik pelan di dekat telingaku. Aku membuka mataku dan tersenyum. “Kamu meniru pertanyaanku” kataku tertawa sambil tetap menyenderkan kepalaku di dadanya.

Namun tawaku tidak terbalas. Dia masih terdiam sambil mengencangkan pelukannya dan menempelkan pipinya di ubun-ubunku. “Aku tau siapa saja pria pria yang ada di sekelilingmu. Akan lebih mudah bagimu memilih salah satu dari mereka” bisiknya.

Sekilas bayangan banyak orang melintas di kepalaku. Mereka yang memberi komentar pedas tentang kedekatanku dengannya.

Aku pun menegakan kepalaku dan menatap wajahnya.‎ Ada perasaan yang menggangu saat melihat matanya.

“Seberapa besar kertegantunganmu pada kaca mata?” tanyaku.

“Ya?” dia nampak tidak mengerti pertanyaanku.

“Apakah kamu bisa melihatku dengan jelas tanpa kaca mata” tanyaku lagi.

“Hmm..ya, dari jarak dekat,”jawabnya.

Kaumbil kaca mata di wahajnya dan meletakannya di atas piano. “Sedekat ini?” ucapku dengan nada berat sambil memajukan wajahku padanya hingga terlampau dekat.‎ Dia pun tertawa kecil lalu mengangguk.

Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya. Kutatap matanya dalam. Mata yang dihiasi kelopak yang besar.

“Entahlah….ada banyak petualangan bersamamu…Misteri…Energi yang sangat besar… Alasan menyebalkan yang mungkin terdengar gila bagi orang lain, namun membuatku merasa hidup kembali..” mataku masih menatap wajahnya beberapa saat sampai akhirnya mengalihkannya.

“Maaf aku tidak bisa membuat rayuan yang keren” kataku lagi.

Dia ‎kembali tertawa. Dirangkulnya kepalaku lembut sebelum akhirnya mengecup keningku. “Atau mungkin…aku bisa menawarkan sebuah alasan yang bisa membantu kamu menjawab pertanyaanku”

Aku tertegun. “Apa?”

Dia tersenyum. “Coba kamu ambil sesuatu yang ada di saku celanaku. Kedua tanganku sedang sibuk”.

Aku mengerlingkan kedua mataku sambil tersenyum. Ya, kedua tangannya sedang sibuk memelukku.

Kurogoh saku celana kirinya dengan tanganku. Tidak nampak terlihat apa-apa. Sampai akhirnya aku menemukan benda sekeras besi di bagian dasar celana. Kutarik benda itu, sebuah cincin emas dengan ukiran dan batu permata di tengahnya. Aku tertegun melihat benda itu dan menatapnya.

“Will you Marry me” tanyanya sambil memamerkan senyum dikulumnya. Aku masih tertegun menatapnya, tidak menyangka akan secepat ini dia melakukan itu.

“Aku tahu kondisiku. Tapi aku janji akan berusaha.. Demi masa depan kita, aku janji dengan seluruh kemampuanku…” dia berkata dengan wajah paling serius dari yang pernah aku lihat.  “Marry me”.

Aku masih terdiam, mencoba mengatur napas yang tiba-tiba menggebu. “Kamu tau posisiku kan? Kamu tau konsekuensinya kan? Aku bisa meredupkan seluruh energimu” kataku dengan nada yang lebih cemas dari sebelumnya. Kutatap wajahnya yang masih menunjukan mimik serius.

“Jadi…apakah kamu mau menjawabnya, atau aku harus memohon untuk ketiga kalinya?” Dia berbisik sambil tetap menatap tajam wajahku.‎ Sekali lagi, bahasa tubuhnya memaksaku untuk mengikuti keinginannya. Dia bahkan tidak berminat untuk menjawab pertanyaanku.

Kuambil napas sekali lagi, mencoba tersenyum dan menatapnya jahil. Kuulurkan jari tangan kananku ke pipinya menelusuri seluruh wajah dan hidungnya yang runcing. Lama kulakukan gerakan itu. Hingga kulihat bibirnya semakin lama semakin maju karena bosan men‎unggu jawabanku. Aku pun tertawa lepas dan kembali menyembunyikan wajah geliku di balik dadanya. Kupeluk erat tubuhnya sambil berbisik “Alasan yang bagus Tuan Dominan”. (Tdk)***

Leave a Reply